Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 17 Oktober 2017 | 06:06 WIB
  • Apa yang Salah di Kematian Choirul Huda?

  • Oleh
    • Suryanta Bakti Susila,
    • Satria Permana,
    • Riki Ilham Rafles
Apa yang Salah di Kematian Choirul Huda?
Photo :
  • ANTARA/Rahbani Syahputra
Penjaga gawang Persela Lamongan Choirul Huda (tengah) memasuki lapangan sebelum pertandingan melawan Semen Padang dalam lanjutan Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Surajaya Lamongan, Jawa Timur, Minggu
File Not Found

VIVA.co.id – Tragedi sepakbola Indonesia. Minggu, 15 Oktober 2017. Kiper Persela Lamongan, Choirul Huda, dinyatakan dinyatakan meninggal dunia di RSUD Soegiri setelah sebelumnya mengalami benturan saat membela klubnya. 

Insiden terjadi saat Persela Lamongan menjamu Semen Padang dalam lanjutan pertandingan pekan 29 Liga 1. Huda keluar dari sarangnya mengantisipasi pergerakan Marcel Sacramento, Striker Semen Padang, yang mengancam gawangnya. Di saat bersamaan, Ramon Rodrigues De Mesquita yang berposisi sebagai bek juga mengejar.

Benturan antara Huda dan Ramon terjadi pada menit 45. Keduanya jatuh. Namun, Huda tak mampu lagi melanjutkan pertandingan. Kiper berusia 38 tahun tersebut sempat diberi pertolongan pertama di tepi lapangan. Karena kondisinya gawat, tim medis langsung membawanya ke rumah sakit menggunakan ambulans.

Setiba di rumah sakit, Huda langsung diberi alat bantu pernapasan. Tujuannya agar oksigen bisa 100 persen masuk ke dalam paru-parunya. Upaya satu jam tersebut rupanya tak sanggup menolong nyawanya.

Terungkap belakangan, Huda mengalami hipoksia atau kekurangan pasokan oksigen, ketika ditangani tim medis. Diduga kondisi itu terjadi akibat benturan pada dada dan leher.

"Di lapangan masih ada (hidup) sampai ke RSUD. Dia baru dinyatakan meninggal pukul 17.00," kata dokter yang pertama menangani, Zaki Mubarok.

Selanjutnya >>> Standar keselamatan 

File Not Found