Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 24 Oktober 2017 | 06:16 WIB
  • Gunung Agung, Menangkal Amarah Dewa

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Bobby Andalan (Bali)
Gunung Agung, Menangkal Amarah Dewa
Photo :
  • ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Gunung Agung keluarkan asap mengepul.
File Not Found

VIVA – Lebih dari setengah juta orang meninggal dan ribuan lain terdampak ketika amarah Gunung Agung memuncak pada Februari 1963. Sejarah mencatat, selama sepekan gemuruh gunung tertinggi di Pulau Bali ini meluluhlantakan semua yang ada.

Abu letusan Gunung Agung juga dilaporkan membuat sebagian bumi menjadi gelap. Para pencari gerhana bulan bahkan sampai kelimpungan karena bulan tiba-tiba menghilang.

Dan, yang mengejutkan lagi, limabelas tahun kemudian terungkap pula jika semburan abu Gunung Agung lah yang membuat suhu bumi mendadak turun. Setidaknya berdasarkan catatan peneliti, terjadi penurunan global hingga 0,1 derajat celsius.

Tentu bisa dibayangkan bagaimana kondisi mereka yang ada di sekitar Gunung Agung saat itu. Sejumlah kesaksian bahkan menyebut ketika letusan Gunung Agung, malam hari menjadi dua kali.

Sebab masuk pukul 14.00, suasana langsung berubah gelap lagi. Matahari tak bisa menembus ke tanah. Penglihatan baru bisa normal lagi pada pukul 16.00, namun hari sudah beranjak petang. Karena itu banyak yang menyebut ada malam sampai dua kali pada letusan setengah abad lalu itu.

Rujukan Mitigasi

Daftar sebaran gunung api di Indonesia

FOTO: Daftar sebaran gunung api di Indonesia

Seiring waktu, setelah 54 tahun kini Gunung Agung kembali memunculkan gelagat hendak meletus. Gempa demi gempa mulai terasa.

Lalu semburan asap mulai mengepul dari liang mulut gunung. Tercatat terhitung 22 September 2017, status Awas sudah disematkan oleh pemerintah untuk Gunung Agung.

Ini artinya, secara fisik memang sudah ada pertanda akan meletus. Namun kapan itu, maka ini menjadi urusan Tuhan. Manusia cuma bisa memperkirakan dan mengamati saja.

Puluhan ribu penduduk hingga ternak kini telah diungsikan ke tempat yang lebih aman. Tidak ada yang berharap gunung ini meletus, namun waspada lebih baik.

Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana, sulit untuk memperkirakan gunung Agung akan kembali normal.

Namun bagi Indonesia saat ini, apa yang tengah dialami Gunung Agung menjadi torehan sejarah penting. Sebabnya, ini menjadi momen paling menentukan untuk mencatat aktivitas erupsi Gunung Agung secara komplet.

Sebabnya, ketika letusan tahun 1963, Indonesia tak memiliki catatan yang lengkap mengenai aktivitas erupsi gunung ini. Karena itu, apa yang kini dialami oleh Gunung Agung saat ini akan dipelajari secara utuh.

"Ini waktu pertama bagi kita untuk menjadi saksi instrumental aktivitas Gunung Agung," kata Devy.

"Meletus atau tidak, pasti kita belajar sesuatu dari sini dan ini bisa menjadi benchmark atau rujukan mitigasi (bencana) ke depan."

Kearifan dan Teknologi

Sejumlah pengungsi letusan Gunung Agung berada di posko pengungsian Desa Les, Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu (24/9).FOTO: Aktivitas pengungsi Gunung Agung Bali

Sejak lampau, orang Bali menganggap Gunung Agung bukan semata undakan tanah yang berisi lahar. Namun ia lebih dianggap sebagai sesuatu yang sakral.

Puncaknya diyakini sebagai tempat semayamnya para dewa. Atas itu, berbicara kebencanaan Gunung Agung juga mesti menggunakan kacamata ini.

Dua pekan lalu, seorang petinggi agama bernama Jro I Ketut Wedra, selama tujuh hari mengaku telah berkeliling ke 17 pura untuk mengambil air suci. Katanya, ia mencari bisikan suci dari Tuhan mengenai kondisi Gunung Agung.

Dari hasil dialog 'sucinya' itu, ia mengaku telah berkomunikasi dengan Ida Bhatara Ratu Agung Lingsir Geni Angkasa, penunggu gunung yang kini bersemayam di Gunung Agung.

Ketut pun menyebut dari dialognya akhirnya ada informasi bahwa gunung tidak akan meletus. "Prosesi saya diterima. Beliau bangga sekali, tersenyum. Beliau mengatakan sekarang sudah tidak lagi marah," kata Ketut. "Beliau berjanji tidak meletus.”

Kata Ketut lagi, apa yang kini dialami oleh Gunung Agung tak lebih sebagai bentuk amarah para dewa yang kecewa dengan perilaku masyarakat dan pendaki yang telah mengotori atau tak mensyukuri apa yang telah diberikan para dewa.

"Di bawah gunung radius 12 kilometer itu tidak pernah mengucapkan terima kasih karena telah mengambil pasir Gunung Agung," kata Ketut.

Lalu sejauh manakah kebenaran ini? Tentu ini cukup pelik ketika berbicara mengenai proses evakuasi dan penyelamatan manusia. Apa yang menjadi ucapan petinggi agama di Bali jelas menjadi dasar keputusan penting bagi warga.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, bersembahyang di Pura Besakih, pura yang berada di zona berbahaya Gunung Agung di Karangasem, pada Kamis, 5 Oktober 2017.

FOTO: Gubernur Bali bersama sejumlah warga berdoa di Pura Besakih

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana tak menampik ada paradigma masyarakat yang lahir dari kearifan lokal mengenai Gunung Agung.

Pemahaman itu tumbuh dan berkembang seumur masyarakat. Atas itu, ia enggan mencampurkan apa yang kini mereka lakukan dengan menggunakan teknologi.

Devy kemudian mencontohkan perihal kepercayaan warga soal turunnya hewan dari gunung ke bawah sebagai pertanda akan meletus.

Pengetahuan itu, kata Devy, tak sepenuhnya bisa menjadi rujukan pengambilan keputusan. Sebab, fakta menunjukkan bahwa di beberapa kejadian gunung meletus, juga banyak hewan yang akhirnya mati karena erupsi.

Karena itu, memang ada kompleksitas lain yang belum seluruhnya dipahami oleh publik soal gunung. "Alam mempunyai tanda-tanda yang mungkin tidak bisa difahami secara komprehensif bukan hanya oleh manusia, tapi juga oleh hewan," kata Devy.

File Not Found