Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 27 Oktober 2017 | 06:21 WIB
  • Menjaga Peneliti Muda Indonesia

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Mitra Angelia
Menjaga Peneliti Muda Indonesia
Photo :
  • VIVA.co.id/Mitra Angelia
Siswi SMA Kesatuan Bangsa menunjukkan pembersih toilet duduk dari pelepah pisang
File Not Found

VIVA – Lilin cengkeh pengusir lalat, daun paku menjadi kertas, pelepah pisang pembersih toilet duduk tersaji di gedung pertemuan Balai Kartini, Jakarta Selatan. 

Masih ada lagi yaitu, tisu ajaib pereda asma, helm pintar untuk ojek online. Deretan inovasi tersebut merupakan sebagian dari hampir seratus karya siswa-siswi Indonesia yang dipamerkan dalam Indonesia Science Expo (ISE) 2017, di Balai Kartini, Jakarta Selatan, 23-26 Oktober 2017.

Inovasi siswa-siswi itu merupakan karya finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Inventors Award (NYIA) yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI rutin tiap tahun. Pada tahun ini LKIR dan NYIA merupakan ajang masing-masing ke-49 dan ke-10 kalinya. 

Para peserta yang mengikuti ajang LKIR berasal siswa-siswi SMP dan SMA se-Indonesia. Sementara untuk NYIA, para pesertanya berasal dari siswa-siswi SD hingga SMA se-Indonesia yang berusia 8 hingga 18 tahun. Pameran ISE 2017 memamerkan 52 karya para finalis LKIR dan 40 karya para finalis NYIA. 

Salah satu yang menonjol dari inovasi siswa-siswi di Indonesia yakni mereka menelurkan inspirasi karya dari lingkungan sekitar. Setelah mengamati masalah di lingkungannya, peneliti cilik itu kemudian meriset dan membuat karya inovasi mereka sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Siswa-siswi itu dengan semangat menceritakan temuan dan inovasi mereka. Maka lahirlah inovasi yang sederhana namun mengena bagi problem keseharian masyarakat.

Ketua ISE 2017 yang juga Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko mengatakan, pameran ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan. ISE pertama diadakan pada 2015 dan kemudian diadakan pada tahun ini dengan konsep yang lebih berbeda. 

Handoko mengatakan, awalnya pameran ini diadakan dua tahunan, namun melihat antusiasme komunitas dan ekosistem riset di Indonesia, ISE bakal diadakan tiap tahun.  

"Pada ISE 2015 konsepnya lebih Youth Science, tapi tahun ini kami kembangkan ada konferensi dan lainnya. Jadi pameran ISE 2017 lebih komplet, ada karya dari anak SD sampai profesor," jelasnya kepada VIVA.co.id.

Dia mengatakan, LIPI tentu akan mengawal terus potensi kreativitas siswa-siswi tanah air. Lembaga riset nasional itu mempunyai kompetisi ilmiah bagi tiap jenjang usia pendidikan. Setelah NYIA dan LKIR, Handoko menuturkan, LIPI sudah menyediakan wadah pengawalan potensi kreativitas para peneliti cilik dan muda itu di jenjang kampus.    

"Kami bentuk pengawalan tiap jenjang, agar mereka terus melakukan kegiatan saintifik, sudah ada wadah yang menampung," tuturnya.   

Pengawalan juga termasuk mengirimkan pemenang nasional LKIR dan NYIA dalam ajang kompetisi ilmiah remaja tingkat regional dan internasional. Hal ini rutin dilakukan tiap tahun oleh LIPI. Sudah tercatat beberapa kali karya ilmiah siswa siswi Indonesia memenangi lomba tingkat internasional. 

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, institusinya mengawal karya siswa siswi dengan beragam cara. Pertama, mendukung perlindungan karya siswa dalam bentuk paten, mementori siswa dan memberi akses luas ke laboratorium LIPI dan jaringannya. LIPI juga mempromosikan siswa jebolan LKIR dan NYIA kepada pimpinan daerah dan membantu mencarikan beasiswa dalam dan luar negeri. 

Nur mengakui, ekosistem di Indonesia masih kurang apresiasi dengan karya siswa-siswi Indonesia. Bila dibandingkan dengan luar negeri, sambutan atas karya peneliti muda tergolong tinggi. 

"Di luar negeri, misalnya di Taiwan, mereka mengawal dengan kerja sama industri. Harusnya industri kita di sini bisa menangkap (karya siswa) tapi nyatanya di sini belum bisa," ujarnya. 

Baca: Siswi Yogya Bikin Pembersih Toilet dengan Pelepah Pisang

Minimnya apresiasi dan penghargaan dari dalam negeri terhadap peneliti muda menjadi catatan Nur. Sebab, sekecil apa pun apresiasi dari berbagai pihak, akan mendorong dan menumbuhkan semangat siswa siswi Indonesia untuk makin giat meneliti. 

Nur membandingkan dengan sambutan di luar negeri atas karya siswa mereka begitu luar biasa. Bahkan untuk sekadar memberi hadiah kompetisi saja, di luar negeri saling berebutan. 

Soal pemberian paten bagi karya siswa-siswi, Handoko mengatakan, fokus LIPI bukan ke arah itu. Dia menjelaskan, fokus karya ilmiah pada siswa siswi dalam rangka mengasah kemampuan ilmiah dan kreativitas mereka. LIPI tak ingin 'mengganggu' kehausan kreativitas mereka dengan lisensi dan paten. Namun demikian, saat karya tersebut punya peluang untuk dipatenkan, maka LIPI akan mendukungnya.
 
"Kalau penelitian apa pun, baik penelitian anak dan remaja itu tidak selalu harus jadi produk. Tapi kalau ada potensi paten ya kita bantu mematenkannya," katanya. 

Handoko menegaskan, paten bukan merupakan tujuan utama bagi peneliti cilik dan muda Indonesia. Pada usia perkembangan tersebut, mereka sebaiknya diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk mengasah kemampuan ilmiah dan riset mereka.

"Untuk penelitian anak-anak, yang penting itu dia bisa berpikir kreatif dan sensitif melihat problem lingkungan dan bagaimana mencari alternatif solusi. Tak perlu diberi beban, biar dia mengejar sains dengan happy, itu yang lebih penting bagaimana pengalaman kreasi mereka bisa disampaikan," kata dia. 

Nur mengatakan, untuk memberikan paten bagi karya siswa Indonesia memang bukanlah hal yang mudah. Sebab sebuah paten begitu kompleks, yakni perlu purwarupa, kendali kualitas (quality control) karya yang teruji dan sejumlah syarat lainnya. 

Baca: Helm Pintar Ojek Online Buatan Siswa SMA Demak

Untuk itu, menurutnya, LIPI mendorong perlindungan karya para siswa Indonesia dengan mendaftarkan hak cipta karya mereka. Nur mengatakan, hampir semua peserta kompetisi ilmiah didaftarkan hak ciptanya. 

Senada dengan Handoko, Nur mengatakan, LIPI lebih memprioritaskan agar anak bisa mengerti proses riset, berpikir inovatif dan membentuk pola pikir ilmiah dalam mencapai penelitian. 

"Paten perlu perjuangan. Paten memang belum banyak ada beberapa di bawah 10 karya," ujarnya. 

Bicara karya siswa Indonesia yang sampai menembus paten yakni inovasi helm berpendingin karya Linus Nara Pradhana. Nara menemukan inovasi itu saat dia duduk kelas VI SD pada 2011. Karya tersebut kemudian diikutkan dalam kompetisi ilmiah LIPI.

Helm inovasi Nara ini memiliki daya serap sekitar 21 persen. Pendinginnya tak perlu diganti, asal menggunakan air yang bagus. Selain itu, Nara menggunakan gel jenis sodium polyacrylate. Gel ini mempunyai daya resap air cukup tinggi. Sehingga mampu meminimalisir panas karena terik matahari.

Setahun kemudian Nara meraih emas pada ajang Internasional Exhibition for Young Inventors yang berlangsung di Bangkok, Thailand, Juni 2012. Saat meraih emas, Nara duduk di kelas 1 SMP Kristen Petra 5 Surabaya. 

Kemudian helm berpendingin karya Nara ini sudah dilisensikan oleh pabrik helm. Pada 2012, Sebuah perusahaan helm di Surabaya menyatakan ketertarikannya untuk membeli lisensi karya Nara dan memproduksinya secara massal dengan merk 'Naravation'. Helm Nara itu mengantongi paten dengan nomor S00E01100236.

Selanjutnya, Masalah anggaran riset

File Not Found