Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 28 Oktober 2017 | 07:25 WIB
  • Joko Anwar: Saya 10 Tahun Mengejar Pengabdi Setan

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Ichsan Suhendra
Joko Anwar: Saya 10 Tahun Mengejar Pengabdi Setan
Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa
Joko Anwar
File Not Found

VIVA – Setelah dirilis 28 September 2017, film Pengabdi Setan yang merupakan remake film pertamanya yang tayang pada 1980 berhasil membuat  3.672.669 orang penontonnya tidak bisa tidur.

Angka tiga juta lebih dinilai fantastis untuk film horor Indonesia. Hingga kini, film itu pun masih diputar di beberapa bioskop dan siap menyambangi bioskop di luar negeri, seperti di Amerika Latin, Polandia, Jepang, Malaysia,

Kesuksesan film Pengabdi Setan tidak lepas dari tangan dingin penulis skenario sekaligus sutradara, Joko Anwar. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, 3 Januari 1976 ini dikenal selalu melahirkan film–film berkualitas. 

Bagaimana Joko terpincut film paling seram di zamannya itu, pada Selasa 17 Oktober 2017, VIVA.co.id berkesempatan berbincang dengan Joko Anwar di sebuah cafe di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Dengan gaya santai, Joko Anwar menjawab pertanyaan seputar film Pengabdi Setan, berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana awalnya bisa bikin film Pengadi Setan? 

Produser aku waktu itu cuma berpesan satu, make a good movie

Sebelum bikin atau sesudah bikin?

Ketika kita lets do this. Pak Sunil (Sunil Samtani), bilang begini, Joko just make a good movie, hahaha, terharu. Jadi enggak ada presure, enggak ada beban. Tapi aku memang untuk film ini (Pengabdi Setan)  aku bikin buat penonton. Kalau bikin buat penonton pastinya aku juga harus membuat film ini gampang diakses secara ide dan treatment. Biasanya aku di festival dulu, tapi ini di Indonesia dulu deh, festival belakangan.

Film Pengabdi Setan

Ini film pertama yang ditayangkan dulu sebelum masuk festival, kenapa?

Ya, karena ini buat penonton Indonesia, aku bikin karena ini adalah film favorit aku waktu kecil. Waktu nonton tuh kayak oh my God nikmat sekali, jadi aku hidup, tumbuh berkembang dengan nonton film horor Indonesia, tapi belakangan kok film Indonesia kehilangan rasa itu. 

Sampai dapat predikat kelas dua karena dibuat dengan serampangan, asal-asalan. Sedih, akhirnya aku mau bikin film Pengabdi Setan lagi dengan harapan, orang bisa mendapatkan kenikmatan seperti saat aku nonton Pengabdi Setan yang asli.

Suka film horor?

Besar dengan film horor. Karena aku bisa nonton film di bioskop, namanya Remaja Teater. Dan, bioskop ini mutar film yang populis, horor, kungfu, horor Indonesia terutama. 

Kok pilih film Pengabdi Setan?

Aku yang mau. Sepuluh tahun aku ngejar-ngejar Rapi Film, jadi waktu kecil ngerasa kayaknya nikmat banget film ini tapi kita enggak dapet akses, enggak ada DVD, VCD tapi 2005 aku dapat DVD nya malah dari luar negeri.  Aku tonton lagi, eh masih serem, aku mau bikin. 

Jadi  2006, 2007, asal ketemu sama Rapi Film apakah Pak Sunil, atau Pak Gope Samtani, selalu, 'ayo dong bro, kita bikin lagi dong’. Mereka masih belum punya plan kayaknya. 

Terus aku mulai gencar, asal ditanya sama wartawan apa sih yang ingin aku bikin banget, aku bilang Pengabdi Setan. Sampai akhirnya aku bikin dua film pendek, buat jadi contoh, kalau jadi dikasih bakal film seperti ini. Aku ngejarnya lama banget, 10 tahun.

Sekuel apakah sudah dipesan?

Mereka enggak maksa, Joko if u think u want to do a sequel, lets do it but on your own phase. Enggak dipaksa, belakangan. Nanti saja kalau filmnya sudah selesai baru kita omongin.

Sekarang lagi urusin promo kan, kita support supaya filmnya ada penonton, lewat sosial media, jalur-jalur lain. Tapi dari segi cerita gue enggak pernah cerita yang ada di durasi film doang. History ya.

Luas, latar belakang mereka, besar di mana, peristiwa yang dilalui, sejarah, kelanjutan. Kalau ngomongin sekuel belum dipikirin tapi karakter ini perkembangannya luas. Misal film 1,5 jam, di luar, samping, kanan kiri ke depan sudah ada

Kalau aku bikin karakter enggak bisa cuma ngasih tahu, nanti kamu masuk rumah, kamu siapa? Pasti dari lahirnya di mana, dari keluarga seperti apa, kan itu sudah ada. Universenya semua sudah dibangun, semua harus ada.

Joko Anwar

Bagaimana treatment setiap film Joko?

Sama semua, Copy of My Mind brief, workshop selama dua bulan ya mereka jadi karakter mereka. Makanya ketika di film mereka natural banget. Mereka bukan cuma hidup di film itu. Sebelum di film mereka sudah jadi keluarga.

Pemilihan pemain?

Casting, sama. Casting sendiri, jadi aku tahu kira-kira ini bakal dapat atau enggak, apa yang harus aku brief. Tentunya aku casting bukan cuma nyuruh mereka baca skrip. Baca skrip gampang, tinggal dihafal. Aku mencari tahu mereka punya talent atau enggak, dengan cara aku kasih situasi.

Filmnya sukses bikin orang takut, menurut Anda?

Takut nonton itu tidak apa-apa. Its a fun film. Lo nontonnya ketawa-ketawa. Banyak komedi. Orang bukan menjadi stres. Kan rekamannya ada. Orang nontonnya sampai berkali-kali. Yang penakut justru paling banyak nonton, berulang-ulang. Karena kayak naik roller coaster, mau lagi, mau lagi.

Kalau sukses bikin takut? Enggak bikin takut? menurut aku. Justru tujuannya bikin cinematic experience. Ketika nonton film pertama really fun, joyful, aku pengin memberikan pengalaman itu kepada penonton dengan film yang sekarang

Menaikkan derajat film horor jadi film terlaris?

Bikin film bukan persaingan. Bukan kompetisi, berkompetisi jadi film terlaris? Enggaklah. Kita juga enggak pernah umumin jadi film (horor) terlaris kok. Orang yang nulis, iya, tapi kita nulis saja dapatnya berapa juta penonton. Kita merasa perlu kita share ke penonton.

Jadi kita menempatkan penonton tidak hanya sebagai konsumen, tapi juga kepemilikan bersama makanya aku juga minta ke netizen, bikin meme yuk, segala macam. Karena aku merasa film yang asyik itu film yang bukan cuma di tonton di bioskop, tapi di luar bioskop setelah nonton juga masih bisa dijadikan alat untuk having fun

Makanya minta netizen bikin meme, jadi ini ada kepemilikan dari penonton. Film ini dibuat untuk mereka, harus ada rasa kepemilikan film ini bersama.

Kayak aku misalnya suka banget sama film Pengabdi Setan yang lama, sampai aku bikin film lagi untuk menghargai film itu. Aku sebagai penonton film yang pertama merayakan, berpartisipasi dan ketika sekarang orang bikin meme, artwork, kita bersama merayakan film ini dan its good. Karena film ini memang untuk kita bersama.

Masuk 13 nominasi Festival Film Indonesia, ada tujuan ke sana?

Enggak, aku sih bikin film selalu berusaha sebaik-baiknya. Artinya kalau aku bikin film, bisa dibilang tadi, tujuan pembuatannya apa? Ada film yang aku buat untuk mendobrak batas-batas, mengeksplorasi estetika dan seni, seperti Copy of My Mind, Modus Anomali itu bukan film yang gampang untuk diakses, diikuti secara ide dan treatment. 

Tapi ada film yang aku buat untuk penonton, kayak Janji Joni, atau skrip yang aku tulis, Quicke Express atau kayak sekarang, film Pengabdi Setan. Harus jujur dengan tujuan kita mau bikin film seperti apa. Makanya kayak Pengabdi Setan, aku bikin buat penonton. Aku bikin seasyik mungkin buat penonton.

Dapat 13 nominasi di FFI, bagaimana menurut Anda?

Mungkin karena kita ngerjainnya dengan hati ya. Aku berpikir kalau kita mau menciptakan penonton yang sustainable, kita harus buat film dengan orang-orang yang punya skill dan talenta, kru-krunya orang paling skillfull, pemain-pemainnya orang yang paling skillfull dan bertalenta. 

Sehingga menghasilkan produk yang ketika orang nonton mereka ingin nonton film Indonesia lagi. Ketika dapat 13 nominasi, termasuk katanya pertama film horor, itu indikasi usaha kita ke arah situ ada apresiasi jadi itu yang kita syukuri

Dapat penonton segini banyak, dapat nominasi sudah alhamdulillah banget, bersyukur banget. Everyday kita punya WA grup, alhamdulillah bersyukur, stay humble.

Pengabdi setan dibilang masterpiece dan minta jangan dibuat sekuel sama penggemar?

Yang asli bagus enggak, film pertama mengecewakan tidak? Cuma ngomong gitu aja sih, silakan ditafsirkan sendiri.

Tidak pure seperti Pengabdi Setan pertama?

Enggak bisa disamain, karena kalau kayak yang pertama ada setan yang bisa dipukul pakai bantal. Makanya harus kita update logika film. Yang dulu kan ada vampir tapi zombi, dipukul pakai bantal bisa mental-mental. Itu cocok sama masanya. Kita bikin yang cocok sama kita, secara logika. 

Di luar sekuel ada rencana bikin film horor lagi?

Enggak pernah berdasarkan kesuksesan sebelumnya, kalau berdasarkan kesuksesan sebelumnya, aku pasti film kedua romantic comedy, sama kayak Janji Joni, tapi aku malah bikin film Kala. Enggak pernah aji mumpung.

Bahkan kalau bikin film, next film enggak mau yang sama, sebagai pembuat film enggak mau dikotak-kotakan sebagai pembuat film jenis tertentu.

Karena aku pecinta film dan aku tonton semua jenis film jadi dengan membuat semua jenis, dan ketika bikin film aku enggak mau yang ini, enggak pernah. Dulu ketika nulis Arisan, Janji Joni, oh dia penulis romantic comedy, aku enggak mau, aku langsung bikin Kala. Betul-betul campuran.

Film ketiga Pintu Terlarang, totally different, Modus Anomali, kelima drama, Copy of My Mind, kita enggak pernah punya history bikin film yang sama dengan sebelumnya karena dianggap berhasil. Kalau aku ngikutin gitu, pasti aku bikin film sama kayak copy of my mind. Karena masuk Venice, Toronto.

Ada tawaran?

Ada, selalu.  Tapi aku enggak mau kalau bikin film itu pesanan, jadi harus ada letupan dalam diri aku yang mengatakan ini harus bikin, butterfly in stomach dulu di perut aku, berubah jadi godzilla in my chest. Kalau itu enggak terasa, enggak bisa bikin film. Karena kalau aku bikin film very anthusiastic, ketika syuting enggak pernah duduk di kursi, bersama dengan pemain, karena very excited.

Melihat film horor indonesia saat ini?

Seperti yang aku bilang tadi, ada beberapa yang dibuat dengan estetika, memenuhi syarat, tapi kebanyakan asal. Makanya tujuan kita, Pengabdi Setan jadi batas bawah film horor indonesia, next itu orang bikin harus lebih bagus. Karena aku rasa Pengabdi Setan itu, batas bawah. Banyak kesempatan buatnya lebih bagus lagi. 

Penonton dianggap serius, memiliki intelegensi dan taste tinggi, sehingga penonton ingin lagi dan lagi nonton film Indonesia kalau enggak kita cuma jadi pasar doang. Karena orang luar akan masuk dengan film mereka yang berkualitas dan jadinya kita konsumen doang. Kita rakyat banyak sekali, potensi pasar besar, kalau kita tidak bisa membuat film berkualitas, kita akan ditinggalkan dan orang akan beralih ke produk luar.

Film setelahnya seperti ada jejak dari film sebelumnya?

Selalu ada. Tapi itu, kalau ada film yang masih bisa dibawa keluar untuk didiskusikan, dicari-cari, teka–teki, its fun, kita bayar tiket tapi kenikmatan menonton bukan cuma di bioskop, tapi dibawa keluar. Kalau aku sih nonton film inginnya begitu.

Itu jadi alasan kenapa banyak dialog di Pengabdi Setan yang sengaja 'didiamkan’?

Hahahaha, 'bapak ngomong apa ke ibu?' sampai tiga kali ya. Bukan sengaja, part of the story telling.

Capai 3 juta lebih penonton, ada bonus enggak nih dari Rapi Film?

Itu enggak usah diomongin, dapur, no comment, hahaha, yang penting penonton happy

 

File Not Found