Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 4 November 2017 | 08:56 WIB
  • Hantu Sinetron Gentayangan Lagi

  • Oleh
    • Zahrotustianah,
    • Bobby Agung
Hantu Sinetron Gentayangan Lagi
Photo :
  • instagram.com/jodoh_wasiat_bapak_antv
Jodoh Wasiat Bapak
File Not Found

VIVA – Seorang pria tampak marah ketika Aida menolak cintanya. Pria bernama Anton itu memaksa Aida untuk menikah dengannya. Bersikeras tak sudi, Anton semakin murka. Hampir saja ia menggagahi Aida jika sosok misterius tak menghentikannya.

Dia, entah siapa, karena tak terlihat wajahnya. Hanya tampak tangan, sepertinya laki-laki. Sosok itu tiba-tiba muncul dan melindungi Aida. Dia mendorong Anton dan menakutinya. Seketika, Anton tewas begitu saja.

Rupanya, Anton adalah pria jahat yang masih tak rela Aida, mantan kekasihnya, menikahi pria bernama Bagus. Ya, Bagus, akhirnya saya tahu, sosok yang tak disorot wajahnya adalah Bagus, suami Aida yang telah tiada. Dia dibunuh Anton hingga arwahnya gentayangan.

Tapi bukan untuk menakuti sembarang orang, hanya pada Anton, yang haus cinta Aida. Ini bukan kisah nyata, hanya sepenggal adegan dalam sinetron Jodoh Wasiat Bapak. Tayangnya di ANTV, diputar setiap hari selepas petang hingga malam.

Jodoh Wasiat Bapak merupakan satu dari sekian banyak sinetron horor komedi yang ternyata sedang digandrungi masyarakat Indonesia saat ini. Di ANTV sendiri, film dengan tema sejenis bisa dibilang jadi program unggulan. Sebut saja beberapa di antaranya Cantik-Cantik Kucing Dapur, Malaikat Tak Bersayap, dan Ada Si Manis di Jembatan. Terbaru bahkan ada Tak Kasat Mata, yang dinilai lebih seram.

Bukan hanya ANTV, stasiun televisi lain juga ikut mewarnai programnya dengan kisah-kisah mistis yang dibalut dengan komedi dan atau nilai moril bernafas religi. Tentu saja, tren genre seperti ini mengingatkan saya dan mungkin Anda, generasi yang lahir sebelum generasi Z, pada sinetron-sinteron mistis-religi yang sangat booming di rentang tahun 90-an hingga 2000-an.

Masih ingat dengan Rahasia Ilahi, Hidayah, dan judul-judul lain yang kala itu tayang di TPI dan stasiun TV lain? Masih teringat jelas di ingatan saya bagaimana kisah-kisah kematian mengerikan dalam sinetron itu begitu menghantui kita. Entah yang jenazahya tak diterima di bumi, tiba-tiba dikerubungi belatung, liang lahat yang terasa sempit, dan masih banyak lagi penggambaran mengerikan para pembuat sinetron itu menyuguhkan definisi azab versi mereka.

Tren sinetron seperti ini pun terasa bangkit lagi sekarang. Bedanya, kali ini kerap dibalut humor dengan bumbu-bumbu komedi di antara para karakternya. Jika dahulu kerap mengklaim mengadopsi kisah nyata, sinetron horor, mistis zaman kini lebih suka mengadaptasi istilah inspirasi dari kejadian yang terjadi di sekitar kita. Kisahnya fiktif, fantasi, namun kerap ada di keseharian. Azab yang mengerikan itu juga tak seekstrem zaman dahulu dan lebih menonjolkan balasan duniawi yang menyengsarakan, bahkan terkadang mematikan, atas perbuatan-perbuatan jahat masa lalu.

Kehadiran sinetron-sinetron ini seperti jamur yang menular dari satu stasiun TV ke lainnya, berkembang biak dan membentuk ulang tren genre horor, mistis. Populer, pun sudah pasti banjir kritikan. Bagi mereka yang tak suka, sinetron-sinetron ini dianggap tontonan tak berkualitas, tanpa mutu yang jelas. Lantas, mengapa masih pantas tayang di TV-TV berkelas?

Memang Sedang Nge-tren

Menilik film-film yang tayang di bioskop di tahun 2017 ini, tren horor memang sedang naik daun. Pengabdi Setan, dikutip dari filmindonesia.or.id, Jumat, 3 November 2017, telah ditonton lebih dari 3,8 juta orang dan menduduki peringkat kedua box office Indonesia tahun 2017, satu peringkat di bawah Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 yang meraup 4 jutaan penonton. Menariknya, Danur, Jailangkung, dan The Doll 2 merupakan film genre horor yang bertengger di posisi 10 besar. Artinya, horor jadi salah satu genre unggulan di dunia perfilman kita tahun ini.

Rupanya televisi pun demikian. Bedanya, horor yang disajikan lebih soft atau tidak ekstrem. Kemasannya juga kerap dibalut dengan unsur religi dan atau komedi. Berdasarkan data yang dirilis Nielsen selama 22 Oktober hingga 1 November 2017 dari 11 kota di Indonesia, Jodoh Wasiat Bapak (ANTV) adalah serial lokal yang paling banyak ditonton dengan rating 4,5 dan share 18,0.

Selanjutnya, berturut-turut ada Dunia Terbalik (RCTI), Cahaya Hati (RCTI), Anak Langit (SCTV), Malaikat Tak Bersayap (ANTV), Ada si Manis di Jembatan (ANTV), Malaikat Tak Bersayap (ANTV), Wanita Perindu Surga (ANTV), Jodoh Wasiat Bapak (ANTV), Tuhan Ada di Mana-Mana (SCTV), Kecil-kecil Mikir Jadi Manten (ANTV), Kuasa Ilahi (MNCTV), Dear Nathan (RCTI), Cantik-Cantik Kucing Dapur (ANTV), Top Tukang Ojek Pengkolan (RCTI), Pura Pura Haji (RCTI), Tak Kasat Mata (ANTV), Dia (SCTV), Anak Masjid (SCTV), dan Iiihhh Seerreemm (RCTI).

Dari data tersebut dapat dilihat, sebagian besar sinetron yang sedang diminati masyarakat saat ini memang bertema horor dan religi. Tidak sampai 5 judul dari 20 program unggulan yang bukan genre tersebut.

Berdasar data yang sama, seri horor komedi ANTV juga menjadi program nomor satu di slot tayangan masing-masing selama dua minggu belakangan ini. Jodoh Wasiat Bapak mendapat share 18,0, Ada si Manis di Jembatan dengan 20,1, dan Tak Kasat Mata dengan 18,9. Mengapa tren horor kembali menguasai program pertelevisian?

Tren tayangan tak bisa dimungkiri bertumpu pada selera masyarakat itu sendiri, sifatnya memang tak stabil. Ada masa untuk setiap genre menemukan titik jenuh dan berganti dengan genre lain. Itulah yang diperkirakan memicu kembalinya genre horor ini ke ranah televisi.

"Apa pun tren sinetronnya, yang saya bilang itu adalah tren ya, sebuah siklus. Kalau hari ini mungkin genrenya horor, besok akan genrenya remaja, besok lagi sosial kemasyarakatan, besoknya lagi genrenya percintaan remaja dan sebagainya, itu akan selalu berputar dan menjadi siklus," ujar Nining Rodiah, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), saat dihubungi VIVA.co.id, Rabu, 1 November 2017.

Nining juga menjelaskan, tren sinetron tak bisa melepaskan hubungan antara pemirsa, rating, dan pengelola televisi. Jika beberapa waktu lalu booming sinetron remaja, seperti Anak Jalanan, Anak Langit, dan lainnya, yang sukses menempati rating tinggi, seiring waktu, pemirsa bosan dan pengelola TV harus mencari cara untuk menyuguhkan sesuatu yang baru. Muncul lah horor dan ternyata laku keras.

"Sehingga ketika hari ini berbicara hegemoni rating dan share, itu kemudian menuntut kepada seluruh stasiun televisi punya kecenderungan, 'ini sekarang yang laku apa,' maka stasiun televisi lain akan mengikut dan mengekor. Itu kan karena pola rating," tambahnya.

Dia pun mencontohkan ANTV yang sukses menjadi televisi nomor satu dengan rating paling tinggi karena menayangkan sinetron horor. Kesuksesannya pun diikuti stasiun lain sehingga tercipta sebuah tren genre yang akan terus berputar, karena ketidakstabilan selera pemirsa itu sendiri.

"Masyarakat kangen dengan tema begitu yang udah lama enggak ada. Biasa kan kemarin-kemarin TV kita sibuk dengan percintaan, terus diselingi dengan siluman-siluman, abis itu balik lagi ke cinta-cintaan, gitu sih. Lama seperti itu, kemudian penonton bosan. Saat kita masuk, di situ kita mikir kita mau bikin apa nih yang unik dan berbeda dengan yang lain. Jadi kita berpikir, kenapa kita enggak main di misteri horor gitu lah kayak yang sekarang kita mainin di JWB (Jodoh Wasiat Bapak) dan CCKD (Cantik-Cantik Kucing Dapur). Ya udah kita bikin dan strategi kita berhasil," ujar Ferry Fernandez, Produser Tobali Putra Film sebagai rumah produksi serial hit ANTV tersebut.

Jika bicara soal tren sinetron horor ini menguntungkan atau tidak, maka tentu saja kembali pada rating dan share. Genre apa pun yang sedang naik daun, akan menggiurkan bagi para pengiklan. Bujet pembuatan genre horor tak selamanya rendah. Produser Tobali Films menjelaskan, bujet produksi tidak bisa disamaratakan seluruhnya. Pada kasus JWB, yang termasuk premium, menggunakan para pemain yang bagus-bagus, maka bujetnya ada pada kisaran ratusan juta rupiah sekali produksi. 

Tentu saja, karena keuntungan adalah target utama dari sebuah industri, maka genre apa pun yang sedang berkembang dan disukai masyarakat akan terus digarap. Maka tak heran jika saat ini, tren horor yang tengah digodok hampir semua stasiun TV hiburan.

"Sisi budget dan revenue menjadi hal yang merupakan target ANTV selain rating dan share. Ketika rating terus menanjak maka revenue diharapkan terus mengikuti," kata Gunawan, Manager Acquisition & Distribution ANTV.

Fans dan Haters

Saya akan mengambil contoh kasus Jodoh Wasiat Bapak yang tercatat sebagai program dengan rating tertinggi saat ini yang memang bukan main popularitasnya. Pihak produksi mengatakan, sinetron ini memang ditujukan untuk semua umur, artinya dari anak-anak hingga yang tua bisa menikmatinya. 

Tak jarang, sinetron ini bahkan trending di jagat media sosial seperti Twitter. Jadi, bukan hanya ibu-ibu rumah tangga saja yang menonton, melainkan anak muda yang aktif bermain media sosial. Apalagi, JWB hadir dua kali di jam prime time, istilah pada dunia siaran untuk menggambarkan jam-jam seksi bagi para pengiklan, yaitu Senin-Jumat pukul 18.15 WIB dan 21.45 WIB, serta Sabtu-Minggu pukul 18.00 WIB dan 19.15 WIB.

Tim produksi Jodoh Wasiat Bapak mengklaim, sinetron ini jadi unggulan lantaran kisahnya dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari dan tidak menjual mimpi. 

"Ada kedekatan yang terbangun antara masyarakat dengan sinetron yang saya buat. Sehari-hari kalian lihat orang jahat, tapi enggak bisa berbuat apa-apa. Paling dalam hati kalian beharap orang itu dihukum oleh Allah. Kalau di Jodoh Wasiat Bapak misalnya, kita menghadirkan cerita azab untuk orang-orang jahat," ujar sutradara JWB, Ceppy Gober, saat dihubungi VIVA.co.id.

Niat para pembuat serial ini pun banyak diamini para penontonnya, seperti warganet berikut yang meninggalkan komentar di akun Instagram JWB.

"Jodoh Wasiat Bapak mengingatkan kita bahwa hidup itu adalah cobaan sehingga kita senantiasa berhati-hati dan waspada dalam setiap langkah kehidupan," tulis akun bernama @avina.putri.545.

Avina memang satu dari sekian banyak komentar sejenis yang mengungkapkan kesukaannya pada sinetron JWB. Tapi tentu saja, kritik untuk sinetron horor komedi religi semacam ini tak kalah banyaknya.

"Tiap hari pasti ada yang mati,emang tuh kampung kaga abis apa warganya mati Mulu wkwkw," kata @ernis_dwi. 

"Orang mati jadi hantu..?? bukannya udah beda alam..? meskipun cuma hiburan, ini bisa jadi pendangkalan aqidah.. ntar yg nonton (muslim) malah takut ke selain Allah..," tulis @_shankss

"Ceritanya monoton. Orang mati jadi hantu trus yg ngebunuh mati jadi hantu juga. Gitu terus. Judul sama cerita gk nyambung," kata @licha_sunadirejo. 

Menanggapi judul yang kerap tak senada, sutradara JWB justru punya pandangan sebaliknya. JWB berkisah tentang Adam (Adly Fairuz) yang masih terus menjalankan wasiat almarhum bapaknya untuk terus mengurus jenazah. Ia mengklaim, semua cerita JWB terkait dengan wasiat tersebut.

Gunawan, Manager Acquisition & Distribution ANTV tak menutup mata dengan kritik-kritik tersebut. Menurutnya, ketika banyak orang mengatakan JWB dan beberapa tayangan ANTV memberi inspirasi dan cermin hidup keseharian, bukan berarti mereka tak mendengar kritikan lainnya.

"Bukan berarti kritik negatif kita abaikan, ini juga menjadi bahan bagi kita untuk terus melakukan perbaikan," katanya saat dihubungi melalui pesan obrolan WhatsApp.

Sudahkah Sesuai Pakem? 

Jauh sebelum JWB, kritik serupa juga sering menghampiri sinetron seperti Rahasia Ilahi dan sebagainya. Azab yang ditonjolkan para pembuat film dianggap menciptakan fantasi, ilusi yang abstrak. Dalam sebuah jurnal Simulasi Mistik dan Implosi Makna Religius Dalam Sinetron Rahasia Ilahi Pada Stasiun Televisi TPI oleh Iswandi Syahputra, Irwan Abdullah, Heru Nugroho, Hermin Indah Wahyuni, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada (2009) disebutkan bahaya tren tayangan sinetron religi mistis.

"Pada titik klimaks tertentu, simulasi berubah menjadi gugus simulakra (gagasan Jean Baudrillard yang artinya semi-realitas). Dalam dunia simulakra, sudah semakin sulit membedakan antara khayali, fantasi, ilusi dengan yang nyata, logis dengan yang tidak logis, halal dengan yang haram. Semua melebur dalam suatu permainan tanda dan kode virtual yang diproduksi secara bertubi-tubi. Bahkan dalam kepungan simulakra tersebut, orang sudah tidak lagi mempersoalkan logis atau tidak logis dan benar atau salah sebab minoritas orang yang berpikir logis dilumat oleh mayoritas orang yang berpikir tidak logis."

Namun kembali ke kasus Jodoh Wasiat Bapak yang mengusung horor berbalut komedi, Komisi Penyiaran Indonesia punya pandangan yang mengacu pada aturan siaran yang sudah ditetapkan negara. Menurut Nining dari KPI, membicarakan horor, batasannya harus jelas. Program horor tidak boleh melanggar pasal 30 standar program siaran. Artinya, tidak boleh memunculkan hantu yang menyeramkan, tidak lengkap inderanya, mayat yang sudah dikubur, atau hantu yang berdarah-darah. KPI juga tegas melarang adegan pemanggilan arwah. 

"Kenapa tegas dan tidak boleh, karena akan mengajarkan pada sesuatu yang gaib. Visualisasinya itu lebih baik hantu dalam kemasan komedi yang nantinya tidak terkesan menakutkan tapi meskipun begitu, disertai dengan nilai-nilai yang memiliki doktrin agama dan meng-counter tentang segmen yang ada hantu-hantunya tadi," katanya.

KPI menjelaskan, konten siaran harus edukatif, tidak menayangkan visualitasi negatif yang kemudian bisa ditiru atau dianggap lumrah pemirsa atau publik. Jadi dalam kasus sinetron horor yang marak tayang di TV Indonesia saat ini, tak ada yang salah. Ia hanya mengingatkan, horor yang dianggap terlalu mengerikan baru boleh tayang di atas jam 10 malam.

"Kalau kemudian konten sinteronnya horor tapi komedi dan masih disertai value, itu bagian dari yang tidak melanggar. Pokoknya sinetron itu yang ideal, positif, memberi nilai-nilai dan bisa memberi role model buat masyarakat. Jangan memicu perpecahan secara sosial juga," tambahnya.

Evelyn Afnilia, salah satu penulis skenario film Keluarga Tak Kasat Mata dan sejumlah sinetron pun setuju bahwa apa pun yang disuguhkan stasiun TV sebaiknya ada unsur pengetahuan baru yang bisa digali. Soal kritik dari penonton, para pembuat tentunya tak mau ambil pusing.

"Hanya tinggal dikembalikan lagi fungsi tontonan itu pada dasarnya untuk apa. Apakah hiburan atau inspirasi. Bagaimana pun bentuknya, setiap tontonan pasti ada unsur knowledge yang bisa digali," katanya.

Mengutip analogi yang dipakai Ferry dari Tobali Films, tim pembuat sinetron hanya menyuguhkan kue dan penontonlah yang menentukan apa yang ingin dikonsumsinya.

"Kita cuma ingin memberikan kue. Terserah penonton, mau ikut makan apa enggak. Suka enggak sama kuenya, kalau enggak suka ya enggak usah makan. Ambil kue yang lain, itu aja," begitu katanya.

Jadi, ‘kue’ mana yang akan Anda pilih?

File Not Found