Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 8 November 2017 | 06:10 WIB
  • Menyingkirkan Pangeran-pangeran Arab Saudi

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Dinia Adrianjara
Menyingkirkan Pangeran-pangeran Arab Saudi
Photo :
  • REUTERS/Hamad I Mohammed
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman.
File Not Found

VIVA – Penangkapan atas sebelas pangeran di Arab Saudi akibat korupsi beberapa waktu lalu ibarat bunyi gong yang menandai jargon reformasi yang diusung Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman. Terobosan itu jelas spektakuler, karena terjadi di sebuah negara kerajaan yang selama ini dikenal sangat konservatif.

Putra Raja Saudi dari istri ketiga itu makin membuktikan keseriusan visi yang dia buat sebagai calon pemimpin masa depan. Namun, ada yang menganggap langkah kontroversial itu sebagai jurus politis Mohammad bin Salman dalam menyingkirkan rival-rival potensial tatkala dia naik tahta di kemudian hari.

Beberapa bulan terakhir, ada saja langkah Kerajaan Arab Saudi yang patut menjadi perhatian publik. Bila dirunut, berbagai terobosan terjadi tak lama setelah Pangeran Mohammad bin Salman yang merupakan putra mahkota Kerajaan Saudi mendengungkan perlunya reformasi di negara itu.

Pangeran Mohammad sejak mendapatkan gelar sebagai putra mahkota menjadi figur penting di balik sang ayah, Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud. Setahun terakhir, pengaruhnya sangat besar. Didapuk sebagai Menteri
Pertahanan sekaligus menjabat posisi penting Dewan Ekonomi Saudi, Pangeran Mohammad juga memiliki akses yang luas terhadap kebijakan ekonomi, politik dan keamanan.
 
Pada dasarnya, putra mahkota tersebut mengatakan ingin mengubah Arab Saudi setelah masa 30 tahun yang menurutnya tak normal. Saat diwawancarai The Guardian, Pangeran Mohammad berjanji akan mengembalikan negara Arab Saudi yang moderat.

Ucapan itu dicatat sebagai pernyataan paling tegas dan lugas yang pernah keluar dari seorang figur penting Kerajaan Saudi setelah sekian lama negara itu ibarat tak bisa disentuh khususnya dalam hal sosial dan tradisi
agama.

“Apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir ini bukan Arab Saudi. Apa yang terjadi di wilayah ini 30 tahun terakhir bukan Timur Tengah yang sesungguhnya. Setelah Revolusi Iran pada tahun 1979, orang serta-merta ingin menyalin model itu ke berbagai negara termasuk ke Arab Saudi. Sayangnya pendahulu kami selama ini tidak bisa mengatasi masalah ini. Sekarang saatnya untuk menyingkirkannya,” kata Pangeran Mohammad yang baru berusia 32 tahun tersebut.

Jadi figur penting di lingkungan Raja Arab, Pangeran Mohammad kemudian mengeluarkan Visi 2030 yang menjadi dasar peta jalan perubahan yang akan dilakukannya di Saudi dalam berbagai aspek termasuk ekonomi, sosial, politik dan keamanan. Tak butuh waktu lama, gaungnya sudah mulai terdengar.

Pangeran Mohammad sebagai contoh sedang menyiapkan zona ekonomi khusus pariwisata sekelas Dubai seluas 470 Kilometer di pantai Laut Merah. Wilayah itu akan menjadi pusat ekonomi liberal yang menandakan Arab Saudi mulai membuka pintu bagi sumber ekonomi selain minyak.

Belum lama ini, otoritas Arab Saudi juga mengumumkan kelonggaran atas aktivitas perempuan yang selama ini sangat dibatasi di negaranya. Para perempuan Saudi akan diperbolehkan menyetir mobil dan menonton pertandingan di stadion maupun gelanggang olahraga lainnya. Kebijakan itu akan mulai berlaku pada tahun 2018. Tak hanya itu, kaum hawa bakal diperbolehkan bepergian ke luar negeri tanpa harus didampingi oleh suami.

Tak sampai di situ, Arab Saudi pada September 2017 lalu juga menangkapi para ulama atau syeikh yang dianggap beraliran garis keras.  Atas restu Raja Salman, para ulama yang dianggap beririsan dengan aksi dan jaringan teroris berbahaya bagi Saudi ditahan. Mereka kebanyakan dilaporkan memiliki hubungan dengan Qatar dan Ikhwanul Muslimin yang dicap Saudi sebagai pendukung teroris.

File Not Found