Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 11 November 2017 | 06:02 WIB
  • Liga 1 Ukir Sejarah Baru dan Sederet Kontroversi

  • Oleh
    • Radhitya Andriansyah
Liga 1 Ukir Sejarah Baru dan Sederet Kontroversi
Photo :
  • ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Penyerang Bhayangkara FC, Ilija Spasojevic (kanan)
File Not Found

VIVA – Gelar juara Liga 1 memang sudah dikunci oleh Bhayangkara FC. Namun, kompetisi ini meninggalkan sejumlah masalah yang mengundang sorotan tajam dari pemerhati sepak bola nasional.

Sejatinya, Liga 1 ini menjadi sumber harapan masyarakat sebagai awal baru bagi reformasi sepak bola Indonesia, agar tercipta kompetisi yang sehat, sportif, jauh dari borok-borok model kompetisi lama. Namun, ibarat orang sakit yang hanya ganti baju baru, Liga 1 selama debutnya tahun ini malah masih menunjukkan sejumlah penyakit lama: tetap ada keributan antar-pemain di lapangan hijau, penonton yang brutal, wasit yang berat sebelah, maupun tim yang ngambekan setelah merasa “dizalimi” oleh wasit sehingga tidak mau melanjutkan pertandingan, dan sederet kasus lain.

Pun saat Liga 1 akan mengakhiri musim kompetisi pertamanya ini, publik malah lebih sibuk mendebatkan kontroversi soal klaim juara Bhayangkara FC, keputusan sanksi Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kepada Mitra Kukar, serta anggapan Mitra Kukar dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator Liga 1 yang tak maksimal. Cerita-cerita miris itu membuat publik dan media ini bertanya: lantas apa bedanya Liga 1 dengan model kompetisi yang lama selain hanya berganti nama? Tentu ini tantangan besar bagi PSSI untuk perbaiki lagi kualitas kompetisi sepak bola nasional.

Di satu sisi, patut disyukuri bahwa Bhayangkara FC berhasil membuat sejarah sebagai klub pendatang baru yang langsung berhasil jadi juara di kompetisi nasional. Namun, di sisi lain, klub yang berbasis di Bekasi itu harus melewati sejumlah kisah kontroversial sebelum mengunci gelar juara Liga 1.

Hasil Imbang 1-1 dalam laga kontra Mitra Kukar di pekan ke-32, ternyata berbuntut panjang. Sebab, Bhayangkara FC akhirnya diberikan kemenangan WO (walk out) 3-0, lewat sanksi Komite Disiplin (Komdis) PSSI, lantaran Mitra Kukar memainkan Mohamed Sissoko.

Eks gelandang Juventus dan Liverpool itu jadi penyebab Mitra Kukar terkena sanksi dari Komdis, kalah WO dari Bhayangkara. Karena, Sissoko masih dalam masa sanksi larangan bermain. Karena memainkan pemain yang tengah dalam masa sanksi, Mitra Kukar akhirnya dinyatakan kalah WO 0-3, dan peluang Bhayangkara FC menjadi juara sangat besar.

Setelah putusan Komdis PSSI yang memenangkan Bhayangkara FC 3-0, jelas respons keras muncul dari berbagai pihak. PT. LIB dianggap menguntungkan satu pihak dan  merugikan pihak lain, dalam hal ini Bali United. 

Bali United meradang soal putusan tersebut, lantaran persaingannya dengan Bhayangkara FC menuju gelar juara Liga 1. Bali United yang sebelumnya memiliki poin 62 dan terpaut empat poin dari Bhayangkara FC, adalah tim yang paling berpeluang juara.

Setelah Bali United mengalahkan 1-0 PSM Makassar dalam laga pekan ke-33 di Stadion Andi  Mattalatta, Makassar, catatan poin Bali United dan PSM hanya tinggal terpaut satu poin saja.

Namun, setelah putusan komdis yang memenangkan Bhayangkara FC atas Mitra Kukar, jarak poin kembali bertambah menjadi tiga poin. Kemenangan Bhayangkara FC atas Madura United jelas tak mungkin lagi dikejar Bali United.

Sebab, meski Bhayangkara FC kalah di laga terakhir dari Persija Jakarta sementara Bali United menang atas Persegres Gresik, Bhayangkara FC tetap saja unggul. Sebab, Evan Dimas cs menang head to head atas Bali United. 

Sebelumnya, Bhayangkara FC berhasil mengalahkan 3-1 Bali United saat bertandang ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, 9 Juni 2017. Bhayangkara kembali menang 3-2 saat menjamu Bali United di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, 29 September 2017.

"Kita di klub selalu berhitung siapa pemain yang kena kartu, yang kena sanksi dan lain-lain. Kita tahu persis aturan itu. Jadi, tidak mungkin kita melanggar aturan, jika memang salah satu pemain tidak bisa diturunkan akibat sanksi," ujar CEO Bali United, Yabes Tanuri.

File Not Found