Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 23 November 2017 | 06:14 WIB
  • Naura dan Genk Juara dalam Pusaran Isu Agama

  • Oleh
    • Zahrotustianah,
    • Rintan Puspitasari
Naura dan Genk Juara dalam Pusaran Isu Agama
Photo :
  • YouTube Naura dan Genk Juara
Naura dan Genk Juara
File Not Found

VIVA – "Tadinya saya pikir film ini memang film bagus seperti film Petualangan Sherina dulu. Saya pikir cocok untuk tontonan anak-anak, tapi ternyata jauh dari sebuah film yang epik dan tidak cocok untuk anak-anak. Menurut saya, ini film yang secara implisit curahan hati kemarahan si sang pembuat film atas kebenciannya pada kami muslim yang membela agama kami yang sudah dilecehkan oleh si penista agama."

Status pengguna Facebook bernama Nina Asterly itu seketika menghebohkan masyarakat. Tulisannya mendadak viral di berbagai jejaring sosial. Ditulis pada 20 November 2017, status ini sudah dibagikan lebih dari tiga ribu kali di Facebook dan tersiar berantai di WhatsApp. Sejumlah orangtua sigap menyebarkan ulang status itu, sejumlah lainnya skeptis, bahkan ada juga yang bingung tanpa tahu apa-apa.

"Iya kenapa sih? Ramai banget di WhatsApp," kata Tuti, salah satu karyawan yang juga orangtua dari dua anak laki-laki saat menerima pesan berantai tersebut kepada VIVA.

Rupanya, Nina Asterly mengkritisi film Naura dan Genk Juara yang konon disebut-sebut the next-nya Petualangan Sherina, film anak yang juga dikemas musikal dalam tema petualangan. Kisahnya tentang Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Okky (Joshua Rundengan), dan Bimo (Vickram Priyono) yang terpilih mewakili sekolahnya untuk bersaing dalam kompetisi sains di Kemah Kreatif yang berlangsung di kawasan hutan tropis Situ Gunung.

Anak-anak ini tanpa sengaja menemukan sekelompok pencuri satwa yang disebut sebagai Trio Licik. Bekerja sama dengan Kipli, ranger cilik, diperankan oleh Andryan Bima, yang selalu ditemani  monyet kecil bernama Cepot, dan anak-anak di perkemahan lainnya, mereka berusaha mengalahkan pencuri tersebut.

Disutradarai Eugene Panji, Naura dan Genk Juara saat ini memang tengah mengisi layar bioskop Indonesia. Namun, tiba-tiba saja protes mencuat bahkan diiringi seruan untuk tidak menonton film tersebut. Tak tanggung-tanggung, film anak ini bahkan dianggap memuat sentimen negatif terhadap Islam dan punya agenda politik tersendiri. 

Dituding Memuat Sentimen Negatif

Nina Asterly, pengunggah status Facebook kontroversial itu menulis, 

"Dimana sih letak mendeskreditkan islamnya ?? Di siniii  ?????? : Para penjahat digambarkan orang yang berjenggot, brewokan selalu mengucapkan istighfar dan mengucapkan kalimat2 Alloh lainnya...lebih ekstrim lagi saat si penjahat yang di serang anak2 lalu si penjahat lantang mengucapkan kalimat Takbir berkali-kali dan kalimat2 Alloh lainnya....Anak sy yang baru berumur 8 tahun saja dari mulai kemunculan si penjahat itu sampai film selesai terus2an bilang ke saya : Ma, itu orang itu islam tapi kok jahat tapi kok pencuri, gimana sih ??

Sy bilang ke anak sy : tidak ka itu salah, islam tidak begitu....

Sy dari awal kemunculan para penjahat di film itu langsung agak gak genah kenapa penjahatnya digambarkan seperti itu...Jawaban apa yang akan diberikan pada anak2 yang punya pertanyaan seperti anak sy apalagi orang tuanya seorang kecebong terutama kecebong sipit ?? Sangat besar kemungkinan mereka kecebong apalagi kecebong sipit akan mengamini bahwa begitulah orang2 islam, seperti penjahat di film itu...

setelah sy telusuri ternyata si pembuat film adalah seorang kecebong dan pendukung akut si penista agama....dia ungkapkan kekecewaan dia atas penahanan si penista agama di akun sosmednya....

Pantas saja dia buat film dengan peran antagonis yang memojokkan islam...untuk apa dia buat begitu kalau bukan menunjukkan kebencian dia pada kita muslim pembela ulama dan Al Qur’an ??? jadi menurut sy yang mau menonton film ini lebih baik jangan ditonton...biarkan film ini tenggelam dengan pendapatan minim....cinta islam stop menonton film2 yang mendeskreditkan islam !!!"

Tentu saja, unggahan viral ini langsung menyulut panas di berbagai ruang publik. Sejumlah kritik serupa pun ikut muncul dan menambah heboh kontroversi tersebut.

Windi Ningsih, misalnya, yang turut membuat ulasan film musikal ini di akun Facebook-nya. Beberapa poin yang ia tulis serupa dengan status Nina, antara lain tentang tema film yang membingungkan, cerita tidak mengalir, kejanggalan, dan dugaan ada framing terhadap Islam di dalam adegannya.

"Misalnya adalah tidak adanya guru pendamping dari tiap sekolah untuk mendampingi murid-murid mereka di camp tersebut. Lalu pembagian tenda yang menyatukan antara anak laki-laki dan anak perempuan," katanya pada status yang diunggah, Selasa, 21 November 2017.

Busana Naura yang menggunakan hot pants di dalam hutan pun jadi sorotan. Menurutnya, selain tak sesuai dengan budaya, mengenakan hot pants di gunung berhutan adalah pilihan yang teledor.

"Dingin iya, serangga mengintai iya, dan bahaya lainnya juga sangat mungkin. Di gunung pakai wedges pun sepertinya wajar-wajar saja dalam film tersebut, setrong kali," tulisnya lagi.

Dia bahkan menyebut film ini memuat nilai-nilai yang tendensius dalam beragama.

"Islam dicitrakan sebagai penjahat berjenggot, yang meski menteriakan takbir, sering istighfar, namun kelakuan bejat, bahkan di film dinamai trio licik. Apa susahnya memasukan kata-kata lain untuk dijadikan gimmick? KURANG IDE?! Belajarlah pada Miles (Mira Lesmana) dan timnya yang dengan kreatif membuat kata2 macam 'Trembelane' sebagai kata2 khas tokoh Kertaradjasa si penjahat (dalam film Petualangan Sherina)," tambah Windi.

"Sungguh, saya sama sekali susah melepaskan prasangka saya terhadap produser dan timnya (yg memang saya melihat daftarnya adalah orang2 yang sangat membela seorang tokoh politik) dari keberpihakan mereka. Padahal banyak orang Islam di tim itu, tokoh utama dan keluarganya pun muslim, namun mengapa sampai bisa melukai ummat muslim dengan penokohan jahat macam itu? Bukankah ini adalah cara memupuk kebencian terhadap orang lain, terhadap sebuah agama! Katanya menjunjung kebhinekaan?! Slogan saja, ternyata!! Politik boleh berbeda, namun untuk mendidik generasi bangsa, haruslah sama: BIJAKSANA!" tulisnya lagi.

File Not Found