Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 28 November 2017 | 05:56 WIB
  • Gunung Agung, Melawan Bala

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Bobby Andalan (Bali)
Gunung Agung, Melawan Bala
Photo :
  • REUTERS
Aktivitas erupsi Gunung Agung di Kabupaten Buleleng Bali
File Not Found

VIVA – Sepotong bambu tua sepanjang hampir lima meter dipikul I Nengah Muliarta di bahunya. Bambu itu didapatnya dari membeli dari hasil urunan warga Banjar Kedungdung Desa Besakih.

Sejumlah bambu yang telah dipotong dan diikat sedemikian rupa terlihat telah tersusun membentuk sebuah rangka bangunan seperti pondok. Sebagai atapnya, Muliarta dan warga menggunakan terpal.

Selain bisa berumur panjang, dan praktis. Ia juga bisa menahan hujan ketika tiba. "Ini murni dana banjar.? Banjar itu kan punya kas, pendapatan dari berbagai kegiatan. Dananya dibelikan bambu untuk membangun pengungsian ini," kata Muliarta di Desa Rendang, Senin, 27 November 2017.

Pengungsian milik warga di Desa Besakih yang terdampak erupsi Gunung Agung

FOTO: Pengungsian sementara milik warga di Desa Besakih yang terdampak erupsi Gunung Agung, Senin (27/11/2017)/VIVA.co.id/Bobby Andalan

Muliarta bersama ratusan warga lainnya adalah pengungsi. Sejak Gunung Agung ditetapkan dengan status Awas, pada September lalu ia pun terpaksa mengungsi.

Namun, perkara erupsi Gunung Agung bukan waktu sebentar. Warga yang mengungsi di banjar-banjar yang disediakan pemerintah mulai diliputi kebosanan. Atas itu, muncul inisiatif untuk membangun pengungsian sendiri.

Dengan menggunakan kas desa yang dimiliki, akhirnya mereka pun bersepakat membangun tempat tinggal sementara pengganti rumah yang telah ditinggalkan hampir dua bulan lamanya.

Karena itulah, usai kesepakatan itu mereka ramai-ramai bergotong royong. Para pria bekerja membuat rumah dari bambu, dan perempuannya menyiapkan kebutuhan makan mereka.

Tampilan peta Gunung Agung di Kabupaten Buleleng Bali

"Bagus itu, patut itu ditiru. Lebih baik, lebih nyaman," kata Gubernur Bali I Made Mangku Pastika memberi apresiasi inisiatif warganya.

Ya, terhitung Senin, 27 November 2017. Gunung Agung kembali membawa kabar 'buruk' bagi warga Buleleng. Mau tak mau masa pengungsian mereka yang tinggal dalam zona berbahaya letusan harus diperpanjang.

Apa yang ditakutkan selama ini seperti semakin dekat. Semburat api di puncak gunung semakin sering terlihat. Lalu aliran 'lumpur' dingin dari perut gunung mulai meluncur ke bawah. Sementara di langit, kepulan asap pekat mulai membuat kelabu.

Melumpuhkan Semua

Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar Bali, ditutup hari ini.
Setengah abad lalu, tepatnya di tahun 1963, Gunung Agung tercatat terakhir kali meletus. Selama setahun aktivitasnya membuat 'lumpuh' Pulau Dewata.

Lebih dari 1.500 orang dilaporkan meninggal. Bencana itu bahkan tak cuma dirasakan Bali. Abunya pun menyembur setinggi 20 kilometer dan sempat menyelimuti atmosfer bumi.

Ia terbang sejauh 14.400 kilometer dan membuat sinar matahari ke bumi tertutup dan kemudian memicu penurunan suhu hingga 0,4 derajat.

Jadi, siapa pun tak ada yang menyangkal bagaimana dahsyatnya jika gunung ini meletus. Karena itu, mahfum kemudian jika kabar meletusnya Gunung Agung di tahun ini membuat was-was siapa pun.

Pemerintah naikan status gunung agung

File Not Found