Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 Desember 2017 | 07:59 WIB
  • Mimpi Merdeka Palestina Dirampas Amerika

  • Oleh
    • Endah Lismartini,
    • Harry Siswoyo,
    • Ezra Natalyn,
    • Dinia Adrianjara
Mimpi Merdeka Palestina Dirampas Amerika
Photo :
  • Reuters
Warga mengibarkan bendera Palestina
File Not Found

VIVA – "Hari ini, akhirnya kami menyadari hal yang nyata, bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel, ini tidak lebih dari sekedar pengakuan akan kenyataan, ini juga hal yang tepat untuk dilakukan," kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Rabu 6 Desember waktu AS atau Kamis pagi WIB.

"Setelah lebih dari dua dekade keringanan, kita tidak lagi mendekati kesepakatan damai antara Israel dan Palestina. Akan menjadi kebodohan untuk mengasumsikan bahwa mengulangi formula yang sama persis sekarang akan menghasilkan hasil yang berbeda atau lebih baik," ujarnya menambahkan.

Kalimat deklarasi dan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel itu akhirnya resmi disampaikan Presiden AS. Dunia langsung bereaksi keras. Ratusan ribu warga Jalur Gaza turun ke jalan. Mereka menentang keputusan Trump. Sejumlah pemimpin Eropa juga mengecam keputusan Trump. Pengakuan sepihak AS atas Yerusalem berpotensi menggagalkan seluruh upaya menghentikan bara api yang masih membara di tempat kelahiran para nabi tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan keputusan AS itu berpotensi memperuncing konflik regional di Timur Tengah. China sudah lama meyakini, Palestina harus menjadi negara merdeka. Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamanei dengan tegas mengatakan keputusan AS adalah bukti kegagalan dan ketidakmampuan politik luar negeri negara tersebut.

Di Indonesia, Presiden RI Joko Widodo menggelar konferensi pers dan menyampaikan kecamannya. Jokowi juga meminta agar negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) segera melakukan sidang darurat khusus membahas keputusan Trump. Jokowi juga meminta Menlu Retno Marsudi memanggil Dubes AS untuk menyampaikan langsung sikap Indonesia.

Padahal dua hari yang lalu, Menlu juga telah memanggil Dubes AS untuk memastikan apakah Trump akan mengumumkan pengakuan tersebut. Saat itu Dubes AS mengatakan, rencana itu hanya wacana. Meski ternyata Trump tak sedang bercanda.

File Not Found