Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 16 Januari 2016 | 05:23 WIB
  • Kaya Berkat Rokok

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Anwar Sadat,
    • Romys Binekasri
Kaya Berkat Rokok
Photo :
  • REUTERS/Beawiharta/Files
Berdasarkan data kementerian perindustrian, setiap tahunnya masyarakat Indonesia mengonsumsi 350 miliar batang rokok.

VIVA.co.id - Siapa yang tidak kenal dengan Djarum, Gudang Garam, Sampoerna dan Bentoel? Mereka adalah merek-merek rokok terkemuka di Tanah Air.

Walau beberapa tahun belakangan ini pemerintah memperketat distribusi rokok, merek-merek itu masih saja menjadi primadona dan mendatangkan pundi-pundi kekayaan bagi pengelolanya.  Itu karena masih tingginya konsumsi rokok di Indonesia di tengah gencarnya kampanye akan bahaya merokok bagi kesehatan.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, setiap tahun masyarakat Indonesia mengonsumsi 350 miliar batang rokok. Produsen rokok terbesar di Tanah Air adalah PT Djarum, PT Gudang Garam Tbk, PT HM Sampoerna, dan PT Bentoel.

Patut diakui, rokok pun masih jadi sumber kemakmuran bagi sejumlah produsennya. Buktinya, orang-orang kaya di Indonesia pun didominasi oleh para pengusaha rokok berkat tingginya konsumsi rokok Indonesia, tertinggi ketiga di dunia pada 2014. Para pengusaha rokok menikmati kekayaan dari rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia akan bahaya rokok. 

Orang Kaya Versi Forbes 2012 R Budi Hartono

 

Robert Budi Hartono menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia selama tujuh tahun berturut-turut.


Bos Djarum, Robert Budi Hartono, bahkan menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia selama tujuh tahun berturut-turut, menurut Majalah Forbes. Robert juga menduduki posisi nomor 12 orang terkaya di Asia pada 2015. Di urutan nomor dua ada bos Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo. 

Forbes mencatat total kekayaan Robert Hartono mencapai US$ 8,4 miliar atau setara dengan  Rp116,760 triliun, dengan kurs Rp13.900. Robert dan keluarganya mencatat kekayaannya dari bisnis rokok Djarum. Dia mengambil alih perusahaan rokok kretek almarhum ayahnya, Oei Wie Gwan, yang dibangun setengah abad lalu di Kota Kudus, Jawa Tengah.

Produksi Djarum mencapai 48 miliar batang rokok per tahun atau 20 persen dari total produksi nasional. Salah satu produk rokoknya yang populer adalah L.A Lights dan Djarum Black.

Djarum bahkan masuk lima perusahaan rokok terbesar di dunia, bersama Philip Morris, British American Tobacco, Reynolds American, dan Imperial Tobacco Group PLC. Pemilik nama Tionghoa Oei Hwei Tjhong ini memperluas kerajaan bisnisnya ke sektor perbankan, kelapa sawit, properti, elektronik, dan multimedia.

Grup Djarum menguasai 51 persen saham PT Bank Central Asia (BCA) dan memiliki 65 ribu hektare perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. BCA kini menjadi mesin pencetak uang bagi grup Djarum.
 
Anak tertua Robert, Victor, sekarang menjabat sebagai chief operating officer (COO) Djarum. Anaknya yang lain, Martin, memulai bisnis startups, mulai dari Kincir.com hingga Global Digital Prima (GDP) Venture.

GDP Venture fokus bergerak di sektor internet consumer. Proyek bisnis pertama GDP Venture adalah Blibli.com (PT Global Digital Niaga), dan menanamkan modalnya di situs forum komunitas online terbesar Indonesia, Kaskus, serta Merah Putih Incubator, yang berfokus pada investasi pengembangan start-up.

Kerajaan bisnis keluarga Hartono dipamerkan dengan membangun mega proyek properti mewah Grand Indonesia, dengan total investasi mencapai Rp1,3 triliun. Kekayaannya ditunjukkan dari arsitektur dan interior mewah kompleks Mall Grand Indonesia, dan gedung pusat perkantoran 57 lantai, hotel dan apartemen mewah Kempinski di pusat Jakarta. 

Mall Grand Indonesia bahkan telah menjadi ikon Jakarta seolah mengukuhkan kerajaan bisnisnya di ibu kota Indonesia. Di dalam mall berjejer toko-toko barang mewah kelas dunia, seperti Banana Republic, Bebe, Guess, dan lain-lain.