Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 7 Mei 2016 | 02:23 WIB
  • Kebebasan Setengah Hati

  • Oleh
    • Mustakim,
    • Syaefullah,
    • Agus Rahmat,
    • Irwandi Arsyad,
    • Ade Alfath,
    • Eka Permadi,
    • Reza Fajri,
    • Moh Nadlir,
    • D.A. Pitaloka (Malang)
Kebebasan Setengah Hati
Photo :
  • ANTARA/Jojon
Aksi Jurnalis di Hari Buruh

VIVA.co.id – Selasa pagi, 3 Mei 2016, sejumlah orang terlihat memadati halaman belakang Balai Kota Malang, Jawa Timur. Pria dan wanita beragam usia ini duduk menggerombol. Sementara itu, yang lain memilih berdiri sambil berdiskusi.

Sebagian dari mereka menenteng poster dengan berbagai seruan. Beberapa orang tampak sedang berusaha membentangkan spanduk.

Di sisi lain, seseorang tengah sibuk mengumpukan ID card atau kartu pers. Puluhan kartu pers itu kemudian dimasukkan ke sangkar burung yang sudah disiapkan.

Mereka juga terlihat menyiapkan “bola besi” lengkap dengan rantainya. Tak berselang lama, kerumunan tersebut membentuk barisan.

Usai mendengar aba-aba, mereka langsung bergerak menuju depan Balai Kota Malang. Sepanjang jalan, mereka meneriakkan yel yel, juga berorasi secara bergantian.

Pagi itu, seratusan jurnalis dan aktivis pers mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa, memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom Day). Mereka menuntut kebebasan berekspresi, berpendapat, menolak intimidasi, dan ancaman yang dilakukan berbagai pihak terhadap jurnalis.

Mereka membawa sangkar burung yang di dalamnya berisi kartu pers serta bola besi lengkap dengan rantai yang membelenggu kaki jurnalis. “Kurungan burung dan bola besi ini menggambarkan kebebasan pers dan kebebasan informasi publik yang masih terbelenggu dan terkekang,” kata juru bicara aksi, Hari Istiawan, Selasa, 3 Mei 2016.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/05/07/572cdc026a163-aksi-jurnalis-dan-persma-malang-di-hari-kebebasan-pers-dunia-2016_663_382.jpg

Kurungan burung dan bola besi ini menggambarkan kebebasan pers dan kebebasan informasi publik yang masih terbelenggu dan terkekang. FOTO: VIVA.co.id/Dyah Ayu Pitaloka

Menurut dia, jurnalis mengalami banyak kendala saat meliput di Malang. Instansi pemerintah kerap tak memberikan informasi tentang data publik. Warga juga belum bisa mengakses informasi publik milik Pemkot Malang. Intimidasi dan kekerasan juga dialami jurnalis saat meliput.

“Akses terhadap APBD dan berbagai sarana publik sangat terbatas. Dua jurnalis Radar Malang diangkut ke markas TNI AU Abdulrachman Saleh dan dirampas drone, kartu pers, dan kartu memorinya saat meliput tragedi Super Tucano Februari lalu,” ujar Hari.

Selanjutnya...Zona Merah