Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 14 Mei 2016 | 14:40 WIB
  • Berani Tanggung Risiko Demi Reformasi

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Zahrul Darmawan (Depok)
Berani Tanggung Risiko Demi Reformasi
Photo :
  • Dokumentasi Pribadi Taufik Basari
Taufik Basari ketika masih menjadi aktivis di tahun 98. Foto: Dokumentasi Pribadi Taufik Basari

VIVA.co.id – Taufik Basari termasuk sekian banyak aktivis mahasiswa yang ikut menumbangkan rezim Soeharto pada 1998. Dia bersama banyak elemen mahasiswa di Jakarta berdemonstrasi turun ke jalan untuk memaksa Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden.
 
Unjuk rasa besar-besaran itu sebenarnya bukan aksi pertamanya. Taufik bersama teman-temannya sesama mahasiswa Universitas Indonesia mula-mula terlibat dalam gerakan massa membela Sri Bintang Pamungkas, yang diadili aparat rezim Orde Baru karena dianggap menghina Soeharto, pada 1996.
 
Taufik mengenang, aksi itulah kali pertama dia berhadapan dengan aparat keamanan. Dalam unjuk rasa itu pula dia merasakan dipukuli polisi yang menjaga sidang pengadilan Sri Bintang Pamungkas. Dia juga dikejar-kejar aparat karena dituduh provokator.
 
Setahun kemudian, pada 1998, situasi politik nasional kian memanas. Dipicu krisis finansial Asia yang melemahkan ekonomi Indonesia. Masyarakat kian tak puas dengan pemerintahan pimpinan Soeharto. Meletuslah demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.
 
Demonstrasi di Jakarta dimulai dari kampus Universitas Indonesia (UI). Taufik mengingat ketika itu dia bersama teman-temannya mengonsolidasikan kelompok-kelompok mahasiswa UI yang terpecah, kemudian membuat Kesatuan Aksi Keluarga Besar UI pada Februari 1998. Mereka mencoreti kampus UI di Salemba, Jakarta Pusat, dengan kalimat “UI Kampus Perjuangan Orde Baru”. Mereka juga membentangkan spanduk bertulis “UI Kampus Perjuangan Rakyat” di kampus UI di Depok.
 
Kala itu aksi mahasiswa masih sporadis dan tidak terorganisasi dengan rapi. Tetapi aksi-aksi itu ibarat semacam pesan kepada rezim Soeharto bahwa mahasiswa bersama rakyat sudah mulai melawan. ”Saat itu kita ingin tegaskan Orde Baru harus dilawan dan harus berakhir,” kata Taufik, mengenang peristiwa itu, saat ditemui VIVA.co.id di Depok, pada Kamis 12 Mei 2016.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/05/13/5735e5d0c423a-taufik-basari_663_382.jpg
 Taufik Basari di tengah-tengah aktivis 98 lainnya. Foto: Dokumentasi Pribadi Taufik Basari 


Taufik mengaku cukup takut dan cemas ketika dia dan teman-temannya menunjukkan perlawanan terbuka terhadap pemerintah. Soalnya rezim Orde Baru yang ditopang militer dan polisi saat itu sedang kuat-kuatnya. Kekuatan mahasiswa jelas tak sebanding dengan aparat.
 
Tetapi para mahasiswa meyakini bahwa saat itulah momentum paling tepat untuk menggelorakan perlawanan, meski risiko terburuknya ialah diculik lalu dibunuh. Mahasiswa tak mau mengharapkan momen lain untuk menghentikan kediktatoran Soeharto.
 
“Sebagian besar dari kita merasa inilah saatnya dan kita harus buang rasa takut itu. Sekali melangkah, pantang kita surut ke belakang,” ujar Taufik, yang juga aktivis Himpunan Mahasiswa Islam.

Simak Pertaruhan Hidup dan Mati

Baca juga:

Waktu Akan Menguji Aktivis 98

Setia di Garis Massa

‘Kami Tak Ada Tawar Menawar’