Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 24 Desember 2016 | 07:08 WIB
  • 'Tahun' Ronaldo, Kejutan Timnas

  • Oleh
    • Luzman Rifqi Karami
'Tahun' Ronaldo, Kejutan Timnas
Photo :
  • REUTERS/Kim Kyung-Hoon
Megabintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo rayakan gelar Piala Dunia Klub

VIVA.co.id – Senyum lebar terlihat dari wajah Cristiano Ronaldo di International Stadium Yokohama, Jepang, Minggu, 18 Desember 2016. Megabintang Real Madrid ini sangat senang usai membobol gawang Kashima Antlers di final Piala Dunia Klub 2016.

Gol ini sangat istimewa. Gol di menit 104, alias di babak tambahan waktu tersebut merupakan hattrick Ronaldo ke gawang Kashima. Ini sekaligus memastikan kemenangan Los Blancos dengan skor 4-2, dan membawa timnya menjuarai Piala Dunia Klub.

Begitu wasit Janny Sikazwe asal Zambia, meniup peluit tanda pertandingan berakhir, para pemain Madrid sangat bersuka cita. Apalagi, Kashima sempat menyulitkan, dan memaksakan skor imbang 2-2 di waktu normal, hingga memaksakan babak tambahan waktu. Terlebih untuk Ronaldo. Laga penutup tahun untuk Madrid ini terasa sangat istimewa.

Kemenangan atas Kashima itu membuat tahun 2016 ini terasa sempurna bagi CR7. Sukses menyabet gelar Piala Dunia Klub, ditambah gelar Golden Ball sebagai pemain terbaik, menegaskan tahun Monyet Api ini merupakan tahun keemasan untuk mantan bintang Manchester United ini.

Sebelum merebut Piala Dunia Klub, Ronaldo sukses menyabet Ballon d'Or 2016. CR7 sukses mengalahkan rival utamanya, Lionel Messi, dan juga bomber Atletico Madrid, Antoine Griezmann. Ini merupakan Ballon d'Or keempat yang diraih Ronaldo sepanjang kariernya. Sebelumnya, dia merebut gelar prestisius ini pada 2008 bersama Manchester United, lalu tiga kali bersama Madrid pada 2013, 2014, dan 2016.

"Ini merupakan pekan yang menyenangkan, dengan Ballon d'Or dan trofi Piala Dunia Klub, ini tahun impian. Saya berterima kasih pada rekan-rekan, karena tanpa mereka Cristiano tak akan bisa merebut trofi individu ini," ujar Ronaldo pada TVE.

"Ini merupakan tahun yang tak terlupakan dengan level kolektif maupun individu. Kami menjuarai Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Eropa (dengan Portugal). Dan sekarang, kami merebut Piala Dunia Klub, setelah beberapa hari yang lalu saya merebut Ballon d'Or," lanjutnya.

Madrid memang gagal merebut gelar La Liga musim 2015-16 lalu, karena kalah bersaing dengan Barcelona. Namun, Los Blancos berhasil menyabet trofi yang lebih bergengsi, Liga Champions. Raihan La Undecima atau gelar Liga Champions ke-11 untuk Madrid, menjadi awal dari sederet sukses Ronaldo di 2016.

Stadion San Siro, Milan, 28 Mei 2016, menjadi saksi Ronaldo menciptakan sejarah untuk Madrid. Laga final Liga Champions melawan rival sekota, Atletico Madrid harus dilanjutkan dengan babak adu penalti. Sebelumnya, laga berakhir imbang 1-1 di waktu normal, dan babak tambahan waktu.

Ronaldo maju sebagai eksekutor kelima saat adu penalti. Tendangan 12 pas Ronaldo mampu memperdaya kiper Atletico, Jan Oblak. Madrid menang 5-3 lewat adu penalti, dan memastikan gelar Liga Champions ke-11.

Cristiano Ronaldo

Tahun Monyet Api ini merupakan tahun keemasan Cristiano Ronaldo (REUTERS/Toru Hanai Livepic)

Sukses Ronaldo berlanjut di Prancis bersama Timnas Portugal di Piala Eropa 2016. Tak diunggulkan, Portugal sukses merebut gelar Piala Eropa pertama, usai menang tipis 1-0 atas tuan rumah Prancis di Stade de France, 10 Juli 2016.

Kesuksesan ini terasa emosional bagi Ronaldo. Apalagi, di saat yang hampir bersamaan, Lionel Messi malah gagal bersama Argentina. Megabintang Barcelona ini harus puas dengan status runner up Copa America 2016, usai Argentina dikalahkan tuan rumah Chile di partai final.

Belum cukup sampai di situ, Madrid berhasil meraih Piala Super Eropa. Los Blancos mengalahkan Sevilla 3-2 di Lerkendal Stadion, Trondheim, Norwegia. Meski Ronaldo tak bermain karena belum pulih dari cedera, tentunya gelar ini melengkapi kesuksesan Ronaldo sepanjang 2016.

Ronaldo juga mencatat rekor fenomenal tahun ini. Pemain 31 tahun ini mampu mencatat gol ke-500 di klub, sepanjang kariernya bersama Sporting Lisbon, Manchester United, dan Real Madrid. Gol ke-500 dicetak Ronaldo saat Madrid mengalahkan Club America di babak semifinal Piala Dunia klub 2016 lalu.

Gelar Paling Berkesan

Deretan trofi individu dan tim telah diraih Ronaldo sepanjang 2016. Dari mulai Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Eropa, Ballon d'Or, hingga Piala Dunia Klub. Lantas, gelar manakah yang paling berkesan?

"Ini merupakan tahun yang tak terlupakan dengan level kolektif maupun individu. Kami menjuarai Liga Champions, Piala Super Eropa. Piala Eropa (dengan Portugal. Dan sekarang, kami merebut Piala Dunia Klub, setelah beberapa hari yang lalu saya merebut Ballon d'Or," ucap Ronaldo pada TVE.

"Memilih salah satu yang terbaik adalah hal sulit. Namun, menjuarai Piala Eropa terasa spesial, karena ini pertama kalinya."

Pendapat Ronaldo memang ada benarnya. Berbeda dengan Madrid yang memiliki tradisi dan mental juara, Portugal lebih sering dianggap sebagai tim kuda hitam.

Nyaris tak ada yang mengunggulkan Portugal menjadi juara di Prancis. Seleccao das Quinas melaju ke babak 16 besar dengan raihan pas-pasan, hanya menjadi salah satu peringkat 3 terbaik dari Grup F.

Perlahan namun pasti, Portugal mampu menjawab semua keraguan. Kroasia, Polandia, dan Wales berhasil ditaklukkan dalam perjalanan ke final. Puncaknya, Seleccao menjadi juara untuk kali pertama, usai menang tipis 1-0 atas tuan rumah Prancis di final.

Timnas Indonesia Pemersatu

Indonesia Gagal Raih Juara Piala AFF 2016

Di balik kegagalan Indonesia di Piala AFF, ada hikmah yang mendalam. Sepakbola terbukti mampu menyatukan masyarakat Indonesia. (ANTARA/Wahyu Putro A)

Seluruh mata pencinta sepakbola Indonesia tertuju ke Rajamangala Stadium, Bangkok, 17 Desember 2016 lalu. Harapan melihat timnas Indonesia juara Piala AFF, untuk kali pertama muncul, setelah Indonesia sukses menang 2-1 di leg 1 di Stadion Pakansari, beberapa hari sebelumnya.

Jika sukses menjadi juara, tentu saja ini ibarat dongeng. Tim Merah Putih mengikuti jejak tim-tim non-unggulan yang sukses menjadi juara. Sebut saja, Leicester City di ajang Premier League, musim lalu. Atau Yunani di Piala Eropa 2004 dan Portugal di Piala Eropa 2016.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Indonesia lagi-lagi harus puas menjadi runner up. Dua gol Siroch Chattong ke gawang Kurnia Meiga membuyarkan mimpi rakyat Indonesia. Tim Merah Putih kembali harus puas duduk di posisi 2, untuk kali kelima. Indonesia kalah 2-3 agregat dari Thailand, usai kalah 0-2 di leg 2.

Tak ada lagi senyuman dari Boaz Solossa seperti saat menyingkirkan Vietnam di semifinal. Atau, senyum kebanggaan Stefano Lilipaly setelah membawa Indonesia lolos dari lubang jarum, dengan mengalahkan Singapura di laga pamungkas penyisihan grup.

Namun, tentu saja jika melihat kendala yang dihadapi Indonesia di awal turnamen, hasil ini sudah di atas target. Persiapan yang dilakoni Timnas juga sangat mepet, karena baru lepas dari sanksi FIFA. Bukan hanya itu, pelatih Alfred Riedl juga dipusingkan, karena hanya bisa membawa dua pemain dari setiap klub Torabika Soccer Championship.

Masalah bertambah jelang turnamen dimulai. Irfan Bachdim yang selalu menjadi andalan dalam berbagai uji coba mengalami cedera, dan batal tampil di Filipina. Melihat berbagai masalah tersebut, pencapaian Timnas bisa menembus final bisa dibilang luar biasa.

"Anak-anak kelelahan setelah bermain lebih menyerang di babak kedua. Kami sulit membongkar pertahanan Thailand. Ketika Anda harus bangkit dari angka nol, sulit bermain untuk menciptakan serangan yang bagus demi mendapat peluang," kata Riedl usai kalah dari Thailand di partai puncak.

Pelatih asal Austria itu menambahkan skuatnya lebih banyak ditekan pada babak pertama. "Tapi, Thailand tidak benar-benar mendapat kesempatan di babak pertama. Gol pertama Thailand beruntung. Di babak kedua, sayangnya kami kebobolan cepat," ujarnya.

Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, menegaskan bahwa apa yang telah ditampilkan oleh Boaz Solossa cs merupakan kerja maksimal dari seluruh jajaran tim. Meski demikian, Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) tersebut juga meminta maaf jika gagal memenuhi ekspektasi besar rakyat Indonesia.

"Kami tahu seperti apa besarnya harapan rakyat Indonesia kepada Timnas, saya bisa merasakan hal itu. Terima kasih bangsa Indonesia atas doa serta dukungan luar biasa ini, semoga sepakbola kita akan tetap maju ke depannya," ungkap Edy.

"Saya juga harus sampaikan, jangan ada yang menyalahkan siapa pun dengan kekalahan ini. Kalau ada yang mau disalahkan, salahkan saya sebagai Ketua Umum PSSI saat ini," tegasnya.

Namun, di balik kegagalan ini, ada hikmah yang mendalam. Sepakbola terbukti mampu menyatukan masyarakat Indonesia. Semangat Bhinneka Tunggal Ika benar-benar terlihat saat sama-sama berteriak ketika Timnas mencetak gol kemenangan. Atau, tangis yang sama-sama pecah setelah Indonesia kembali gagal juara.

"Saya kira banyak mengejutkan kita semua. Beberapa faktor, seperti persiapan yang pendek karena setelah sanksi dari FIFA. Yang terpenting saat ini bukan masalah menang atau kalah, tapi pelajaran di balik itu," kata Presiden Indonesia, Joko Widodo.

"Karena kita lihat Timnas Garuda ini, betul-betul bisa menyatukan bangsa kita. Menunjukkan kebhinekaan kita bahwa perbedaan, kemajemukan, keberagaman menjadi sumber kekuatan bangsa kita," tutur dia.

Baca juga:

Emas Bulutangkis dan Kejutan Rosberg

Momen Penting Olahraga 2016