Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 31 Desember 2016 | 07:38 WIB
  • Geger Vaksin Palsu hingga Virus Zika

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Syaefullah,
    • Agus Rahmat,
    • Rintan Puspitasari,
    • Adinda Permatasari,
    • Diza Liane Sahputri,
    • Dian Tami,
    • Syaefullah
Geger Vaksin Palsu hingga Virus Zika
Photo :
  • VIVA.co.id/M. Ali. Wafa
Protes Kasus vaksin palsu di Bekasi.

VIVA.co.id – Siang itu, puluhan orang terlihat berkerumun di lobi rumah sakit Harapan Bunda Kramat Jati Jakarta Timur. Beberapa di antara mereka terlihat menangis dan meneriaki petugas Rumah Sakit, Minggu, 17 Juli 2016. Mereka adalah orangtua dari korban vaksin palsu.

Kasus Vaksin Palsu RS Harapan Bunda

Warga menunjukkan sejumlah kuitansi saat mendatangi Rumah Sakit Harapan Bunda di Jakarta Timur, untuk meminta kejelasan tentang dugaan anaknya mendapat vaksin palsu dari rumah sakit tersebut, Jumat, 15 Juli 2016. (VIVA.co.id/Muhamad Solihin)

Sejak pukul  09.00 WIB jumlah orangtua korban terus berdatangan hingga memadati halaman rumah sakit. Setelah menunggu hampir satu jam, petugas pendataan baru muncul.  Tidak lama setelahnya seorang keluarga korban vaksin palsu RS Harapan Bunda bernama Herlin langsung meluapkan amarahnya.

"Ke mana saja telat? Dari kemarin didata doang," kata Herlin penuh emosi, begitu petugas pendataan tiba.

Kericuhan tak terhindarkan ketika puluhan orangtua berkerumun meminta pertanggungjawaban dari rumah sakit, beberapa di antaranya bahkan histeris.  Sementara itu, polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang berjaga tampak berusaha menenangkan keluarga korban lainnya.

Aksi Orangtua Korban Vaksin Palsu di RS Harapan Bunda.

Seorang anak bersama orangtua korban vaksin palsu mendatangi Crisis Center Korban Vaksin Palsu di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta, Rabu, 20 Juli 2016. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Rumah sakit Harapan Bunda adalah satu dari 14 rumah sakit yang disebutkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu. Satu hari setelah Kemenkes mengumumkan 14 nama Rumah Sakit, Bidan dan Klinik Kesehatan yang  menjual dan menyediakan vaksin palsu pada Rabu 13 juli 2016 lalu, para orangtua korban vaksin palsu buru-buru menyerbu rumah sakit yang disebutkan.

Ya, belum lama ini kasus vaksin palsu menggemparkan Tanah Air.  Sepanjang pertengahan tahun media massa dipenuhi pemberitaan seputar vaksin palsu, sehingga mendominasi isu kesehatan nasional di tahun 2016.

Kasus ini berawal dari penggerebekan gudang pabrik pembuatan vaksin palsu di wilayah Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Rabu, 22 Juni 2016. Pabrik tersebut memproduksi sejumlah vaksin palsu, mulai dari vaksin campak, polio, hepatitis B, tetanus, dan BCG. Vaksin palsu tersebut diperjualbelikan ke sejumlah rumah sakit di DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Ironisnya, sindikat ini telah beroperasi sejak 2014 yaitu hampir 13 tahun. Namun Bareskrim Mabes Polri baru  membongkar jaringan vaksin palsu ini pada Juni 2016. 

Salah satu rumah yang digerebek adalah milik pasangan suami-istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina di kompleks perumahan elite Kemang Pratama Regency, Rawalumbu, Kota Bekasi.
Dari penggerebekan itu, penyidik menyita barang bukti berupa ribuan botol yang telah terisi cairan vaksin palsu. Sedangkan, tersangka lainnya berasal dari perusahaan distributor obat dan sejumlah dokter yang terlibat dalam peredaran vaksin palsu tersebut. 

Kemenkes bertindak

Sikap Pemerintah Terhadap Vaksin Palsu

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek (tengah) memberikan keterangan saat konferensi pers menyikapi kasus vaksin palsu di Gedung Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Selasa, 19 Juli 2016. (VIVA.co.id/Muhamad Solihin)

Komisi IX DPR yang membidangi kesehatan  buru-buru menanggapi keresahan masyarakat, pada Rabu 13 Juli 2016 rapat dengar pendapat pun digelar. Jajaran Kemenkes, BPOM dan pihak produsen vaksin pun dimintai pertanggungjawaban. Pasalnya  praktik pembuatan vaksin palsu itu disebut-sebut telah berlangsung selama 13 tahun. Tentunya pengawasan Kemenkes dan pihak yang bertanggung jawab dipertanyakan. 

Menanggapi beragam pertanyaan DPR, pihak Biofarma selaku produsen resmi vaksin dasar menjelaskan bahwa vaksin yang dipalsukan merupakan vaksin tambahan yang tidak diproduksi pemerintah lewat Biofarma. Kesimpulan tersebut didapatkan setelah Biofarma melakukan koordinasi dengan pihak Bareskrim.

"Sebetulnya vaksin Biofarma tidak ada yang dipalsukan, karena menurut pengakuan tersangka, vaksin Biofarma hanya digunakan sebagai bahan oplosan untuk pembuatan vaksin produk impor yang harganya mahal,” ujar Direktur Pemasaran PT Biofarma Mahendra Sudardono dalam rapat bersama DPR.

Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang juga telah berkoordinasi dengan Bareskrim, memastikan bahwa isi vaksin palsu tersebut tidak membahayakan. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Aman Pulungan pada waktu itu mengungkapkan bahwa kandungan bahan-bahan oplosan yang digunakan untuk membuat vaksin palsu dosisnya sangat kecil dan efeknya sangat minimal, artinya tidak akan memiliki efek apapun.

Meski tidak memiliki efek samping, namun IDAI mengkhawatirkan dampaknya justru pada anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin sebagaimana mestinya. “Tapi efek yang paling merugikan adalah anak atau bayi-bayi yang divaksin dengan vaksin palsu tersebut yang seharusnya kita harapkan mempunyai antibodi terhadap penyakit, ini tidak ada antibodinya,” ujar Aman.

Vaksin ulang    

Vaskinasi Ulang di Puskesmas Ciracas

Seorang anak di-vaksinasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta, Senin, 18 Juli 2016. (VIVA.co.id/Muhamad Solihin)

Ibarat menebus dosa akan kurangnya pengawasan, akhirnya pemerintah memutuskan untuk melakukan vaksinasi ulang terhadap bayi dan anak yang diketahui terkena vaksin palsu. 
Program tersebut merupakan hasil rapat Satgas Vaksin Palsu, gabungan dari Bareskrim Polri, Kementerian Kesehatan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang telah dibentuk sebelumnya.

"Kemenkes akan segera memberikan vaksinasi ulang terhadap anak-anak yang terdata mendapatkan vaksin palsu. Vaksinasi ulang akan dimulai dari klinik di Ciracas," ujar Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang, di Kemenkes, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2016.

Tercatat ada 197 bayi menerima vaksin palsu. Vaksinasi ulang kemudian dilakukan di 14 rumah sakit dan 37 fasilitas kesehatan yang tercatat menjual vaksin palsu di sembilan kota provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Bandung, Surabaya, Pekanbaru, Palembang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Batam, dan Serang.

Selain itu, Satuan Tugas Penanganan Vaksin Palsu membuka 50 posko layanan imunisasi ulang di wilayah Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Di posko ini, masyarakat juga bisa memeriksakan kesehatan anak.

IDAI juga mengungkapkan bahwa vaksinasi ulang adalah cara yang tepat untuk memberikan perlindungan terhadap korban. Vaksin anak, menurut IDAI, masih berpengaruh bila diberikan hingga usia 18 tahun. Karena itu, anggapan bahwa bayi dan anak sudah terlewatkan usia untuk diberi vaksin, dipatahkan oleh organisasi dokter tersebut.

Menurut rekomendasi IDAI, setidaknya ada 14 jenis vaksin yang diperuntukkan bagi usia 0 hingga 18 tahun, yaitu hepatitis B, polio, BCG, DTP, Hib, rotavirus, influenza, campak, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela A dan HPV. IDAI menyarankan bahwa vaksinasi ulang akan mencakup vaksin-vaksin wajib tersebut.

Darurat wabah zika sepanjang tahun

Poster peringatan virus Zika di Bandara Soekarno-Hatta.

Poster peringatan bahaya virus Zika di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. (REUTERS/Beawiharta)

Belum juga reda soal urusan vaksin palsu, Indonesia harus dihadapkan dengan virus zika yang tengah merebak di banyak negara. Pada September 2016, pemerintah Indonesia mengumumkan status darurat zika.

Infeksi virus zika diawali dengan banyaknya bayi yang lahir dengan kondisi mikrosefalus di Brasil akibat terinfeksi zika. Virus ini mulai mewabah di beberapa negara, dan dengan cepat menyedot perhatian dunia. 

Sejak akhir tahun 2015 hingga 2016, tercatat sudah lebih dari 4000 bayi yang lahir dengan ukuran otak dan kepala yang lebih kecil. Zika meluas ke berbagai negara khususnya di kawasan Amerika Latin. Amerika Serikat, Inggris, hingga negara-negara di Eropa.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC (Centers for Disease Control and Prevention) di Amerika Serikat pun langsung mengimbau ibu hamil menunda rencana berpergian ke kawasan Amerika Latin. Selain itu, para wanita yang baru menikah diimbau untuk menunda kehamilan. 

Virus Zika mulai mewabah di Asia sejak Februari 2016. Pemerintah China mengumumkan bahwa salah satu pria warga China berusia 34 tahun positif terinfeksi Zika, pria tersebut diketahui baru saja pulang dari Amerika Selatan.

Setelah China, kemudian pemerintah Hong Kong ikut mengumumkan warganya yang dinyatakan positif terinfeksi Zika setelah pulang dari Pulau St.Barthelemy di Karibia. Selanjutnya wabah virus zika juga sampai di Asia Tenggara. Seperti dikutip dari Reuters, di Thailand tercatat 349 orang terinfeksi zika sejak Januari, termasuk 25 ibu hamil.

Berdasarkan penemuan tersebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian menetapkan kasus virus zika sebagai darurat kesehatan internasional pada 2 Februari 2016. Setelah Thailand, akhir Agustus 2016, giliran pemerintah Singapura yang melaporkan adanya warga yang terinfeksi virus zika di negaranya. Bermula dari 41 orang yang terjangkit, kini jumlahnya sudah mencapai ratusan orang.

Pemerintah Malaysia pada awal September 2016 juga mengonfirmasikan seorang warganya yang terinfeksi virus zika. Warga Malaysia itu diduga tertular setelah mengunjungi Singapura.

Zika di Indonesia

Masuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia bergegas membentuk pertahanan untuk mewaspadai masuknya Zika dengan memasang termal scanner di pintu masuk, seperti pelabuhan dan bandara. Selain itu, warga yang mengalami demam setelah pulang dari negara yang terjangkit virus zika juga diminta melapor.

Ilustrasi/Singapura Darurat Virus Zika.

Penumpang pesawat terbang berjalan melewati sistem kamera FeverScan yang digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh setelah bepergian dari Singapura, di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, 30 Agustus 2016. (REUTERS/Beawiharta)

Kementerian Kesehatan pun saat itu mengimbau ibu hamil untuk menunda rencana berpergian ke Singapura sejak September 2016. Namun pada akhir Agustus 2016 penyebaran virus zika juga ditemukan di Indonesia. Hal itu diakui oleh Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Selasa, 30 Agustus 2016.

Pihaknya mendapat laporan bahwa sudah ada warga Indonesia yang terkena virus zika. "Ada temuan Suku Anak Dalam di Jambi itu positif," ujar Nila.

Nila menjelaskan, orang tersebut positif zika setelah dilakukan penelitian laboratorium. Nila mengatakan, demam berdarah dan penyakit akibat zika memang memiliki penyebab sama yaitu nyamuk Aedes Aegypti.

"Jadi kemungkinan kita bisa terkena juga zika, dan ada beberapa laporan yang sudah pulang dari Indonesia, wisatawan positif zika dari Indonesia," kata Nila.

Sama seperti Singapura, menurut Nila, antisipasi telah dilakukan pemerintah dengan menempatkan petugas kesehatan di pintu masuk dan keluar wilayah negara seperti pelabuhan dan bandara.  

Penularan virus zika

Nyamuk aedes aegepty pembawa virus zika.

Nyamuk aedes aegepty pembawa virus zika. (REUTERS/Paulo Whitaker)

Diketahui, virus zika sudah ada sejak puluhan tahun silam. Dilansir Reuters, peneliti menyebutkan bahwa virus zika ditemukan pertama kali di hutan Zika Uganda Afrika. Virus ini ditemukan pada monyet yang mengidap demam kuning.

Pada 1948 virus ditemukan berasal dari nyamuk Aedes Africanus di hutan Zika. Empat tahun kemudian, manusia pertama yang terinfeksi virus zika ditemukan di Uganda dan Tanzania pada tahun 1952. Selanjutnya hingga tahun 1980,  zika terdeteksi pada nyamuk dan monyet sepanjang ekuator Afrika.

Sepanjang tahun darurat zika di beberapa negara, efek beratnya ahanya terjadi pada ibu hamil karena menyebabkan bayi lahir dengan mikrosefalus.

Lucia Noronha, pakar patologi dari Brizilian Society of Pathology memastikan bahwa virus zika memang terdeteksi dalam jaringan otak sehingga menyebabkan mikrosefali pada bayi. Namun, tidak berakibat serius pada pasien selain ibu hamil.

Mulanya, virus zika diketahui hanya menyebar lewat gigitan nyamuk seperti halnya DBD. Akan tetapi, dari sejumlah kejadian di berbagai negara, virus zika bisa menular lewat transfusi darah dan hubungan seksual, termasuk seks oral.

Peneliti menemukan virus zika masih terdeteksi di area organ vital selama hampir satu pekan. Penelitian lainnya menunjukkan, virus zika mampu bertahan di sperma selama setidaknya 90 hari. Penelitian lain pun mengungkapkan, virus zika terdeteksi di urine, air ketuban ibu hamil, hingga air liur.

Kasus mewabahnya virus zika di berbagai negara sampai saat ini masih terus diteliti. Kini sejumlah ilmuwan tengah berusaha membuat vaksin virus zika. Kemudian pada Juni 2016 lalu, perusahaan yang membuat vaksin zika, Inovio Pharmaceuticals dan GeneOne Life Science, mengumumkan akan melakukan uji tahap awal keamanan zika terhadap 40 orang setelah mendapat izin dari pihak berwenang di Amerika Serikat. (ms)

Baca juga:

Bernostalgia Lewat Film

Tahun Berpulangnya Para Pesohor