Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 7 April 2017 | 11:50 WIB
  • Hikayat Kampung Cukur

  • Oleh
    • Mustakim,
    • Rifki Arsilan
Hikayat Kampung Cukur
Photo :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto
Aktivitas memotong rambut (cukur) di Kampung Cukur, Garut, Jawa Barat.

VIVA.co.id – Ruangan seluas dua kali empat meter persegi ini terasa sempit. Dua kursi berdiri kokoh di tengah ruangan. Di depannya, peralatan cukur seperti gunting, pisau, sisir, clipper dan perlengkapan lainnya tampak menumpuk di meja kayu yang menempel di dinding. Di atasnya terpampang cermin berukuran besar. Poster berbagai model rambut dan sejumlah foto yang sudah dibingkai ikut menghiasi dinding ruangan.  

Pagi itu, sejumlah orang tampak berkerumun di salah satu sudut ruangan. Mereka mengelilingi satu dari dua kursi yang ada di ruangan yang terletak di depan rumah tersebut. Sebagian dari mereka masih berusia belasan. Para remaja tersebut mengenakan seragam, kaos warna biru dongker dengan tulisan Barber School Abah Athrox. Sementara sisanya yang berusia lebih tua, mengenakan seragam warna merah dipadu putih dan hitam bertuliskan Persatuan Pangkas Rambut Garut (PPRG).

Sorot - Kampung Cukur Garut Jawa Barat

Pria dengan rambut penuh uban di kepala tampak duduk di kursi. Di belakangnya, seorang remaja usia belasan terlihat sibuk merapikan rambut pria yang tak lagi muda tersebut. (VIVA.co.id/Purna Karyanto)

Pria dengan rambut penuh uban di kepala tampak duduk di kursi. Di belakangnya, seorang remaja usia belasan terlihat sibuk merapikan rambut pria yang tak lagi muda tersebut.

Remaja tersebut tampak canggung saat menggerakkan gunting dan sisir. Sesekali dia memperhatikan arahan pria yang ada di depannya. “Itu pegang guntingnya salah,” ujar pria berseragam PPRG memberi arahan.

Pria tersebut adalah Rijal Fadilah. Pagi itu, guru sekaligus salah satu pendiri sekolah pangkas rambut bernama Barber School Abah Athrox tersebut sedang memberikan pelajaran kepada anak didiknya. Beberapa kali ia mengoreksi cara anak didiknya memegang sisir dan gunting. Sesekali pria 48 tahun itu mengambil alih gunting dan sisir dari siswanya untuk memberi contoh langsung.

Rijal mengungkapkan sekolah cukur tersebut berdiri sekitar enam bulan lalu. Sebelumnya, selain menjadi tukang cukur atau seniman pangkas, ia kerap berkeliling Jakarta untuk mengajar pangkas rambut. Pria yang akrab disapa Abah Athrox ini sengaja mendirikan sekolah pangkas rambut guna menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di bidang pangkas rambut yang unggul. Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan pangkas rambut.

“Banyak pengusaha pangkas rambut yang mengeluh karena karyawannya banyak yang keluar,” ujarnya saat VIVA.co.id berkunjung ke rumahnya, Rabu 22 Maret 2017.

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, sekolah pangkas rambut Abah Athrox ini terlihat sederhana. Tak ada gedung bertingkat dan papan nama. Hanya ruang tamu yang disulap jadi kelas sekaligus tempat praktek para siswa. Sementara, penanda sekolah ini hanya spanduk yang dibentangkan di depan rumah.

Abah Athrox menuturkan, sejak didirikan, sekolahnya sudah meluluskan 25 siswa. Saat ini, ada sekitar sepuluh siswa yang masih belajar di sekolah yang berlokasi di Kampung Peundeu, Desa Banyuresmi, Kecamatan Banyuresmi, Garut ini. Masa belajar terbilang pendek, yakni hanya satu bulan. Meski demikian, materi yang diberikan lumayan banyak, mulai dari teori hingga praktik di lapangan.

“Semua teori diajarkan, mulai dari pengenalan alat hingga cara menggunakan,” ujar pria yang sudah jadi tukang cukur sejak 1985 tersebut.  

Selanjutnya...Otodidak