Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 8 April 2017 | 08:28 WIB
  • Bemo Ganefo Warisan Soekarno

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Dian Tami,
    • Yunisa Herawati
Bemo Ganefo Warisan Soekarno
Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa
Bemo saat mangkal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta

VIVA.co.id – Pagi itu Jakarta tampil benderang. Sesuai tabiat, potret kemacetan masih jadi menu utamanya. Namun seperti biasa pula, atmosfer ini tak memengaruhi para sopir bemo untuk mangkal menjejerkan kendaraannya menunggu penumpang di kolong flyover Stasiun Karet, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tergambar jelas semua kendaraan roda tiga ini terlihat tua dan lusuh, cat mengelupas, serta dipenuhi gempuran karat.

Tak sampai menunggu penumpang penuh, seorang pengemudi bemo terlihat berlari, kemudi langsung diayun. Seakan-akan para sopir bemo sadar diri dengan peminatnya. Empat hingga lima orang, sudah cukup bagi mereka untuk langsung melaju di padatnya lalu lintas Jakarta.

Para pengemudi bemo di sana rata-rata sudah berpuluh-puluh tahun mencari nafkah di kawasan tersebut. Bahkan ada yang menjadi sopir bemo dari generasi ke generasi.

Jika difigurkan, bemo merupakan kendaraan yang memiliki suara khas sumbang cenderung sember, serta berasap tebal. Asap menyembur siapa saja yang ada di dekatnya. Tak terbayang bagaimana perasaan pengendara di sekitarnya, mungkin memang butuh kelapangan hati besar jika berkendara di dekat bemo. Meski nian, aksi selap-selip masih bisa dilakoni, kendati tenaga tak berbanding lurus dengan suara knalpot.

Sorot Bemo

Warga masih menggunakan bemo sebagai transportasi harian di Jakarta. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Di balik gambaran miris soal bemo, ada cerita besar yang pernah dikepalnya. Dahulu bemo merupakan tunggangan berjaya yang banyak dibangga-banggakan warga ibu kota. Untuk sekadar berangkat kerja, sekolah, hingga melancong, bemo-lah andalannya. Apalagi dengan harga murah yang diusung, jadilah bemo bagian dari kendaraan favorit rakyat dahulu kala.

Tak banyak yang tahu pula jika perusahaan transportasi besar sekelas Blue Bird terlahir dari rahim bemo. Sebelum kuat menancapkan kuku bisnisnya di bidang pertaksian, Blue Bird lebih dahulu mengoperasikan bemo sebagai armada. Hingga pada akhirnya bisnis berkembang, Blue Bird mengukuhkan diri sebagai perusahaan layanan taksi pada 1972.

Menurut Executive Officer Research and Development PT Astra Daihatsu Motor, Pradipto Sugondo, bemo merupakan kendaraan Daihatsu pertama yang masuk ke Indonesia. Tetapi saat itu bukan dibawa oleh mereka, karena PT ADM baru mengawali kiprahnya pada 1973 dan bekerja sama dengan Astra International pada 1978.

"Waktu itu setahu saya bemo masuk dalam jumlah besar satu kali, jadi bukan produksi sampai tahun berapa, tidak. Jadi sekali datang tidak tahu berapa ribu unit dan berapa kali pengiriman. Itu impor dari Jepang. CBU (Completely Built Up), jadi belum diproduksi di sini," kata Pradipto kepada VIVA.co.id.

Selanjutnya, Menyingkirkan Becak