Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 22 April 2017 | 19:30 WIB
  • Mengibarkan Perajin Wastra Wanita

  • Oleh
    • Maya Sofia,
    • Linda Hasibuan
Mengibarkan Perajin Wastra Wanita
Photo :
  • instagram.com/lennyagustin18
Lenny Agustin

VIVA.co.id – Berwarna. Barangkali ini istilah yang paling tepat menggambarkan sosok Lenny Agustin. Ragam warna selalu membalut penampilan perancang busana kelahiran Surabaya tersebut. Gaya lincah,  rambut pendek dengan gradasi pelangi dan busana funky membuatnya terlihat begitu eksentrik bila dibandingkan desainer Indonesia kebanyakan.

Bukan hanya wujudnya saja yang membetot perhatian. Prestasi wanita yang sudah menggeluti dunia fashion designer selama 16 tahun ini pun tak kalah mencolok. Lenny tercatat pernah mewakili Indonesia di ajang Japan Fashion Week 2008, masuk dalam daftar 25 Inspiring Women 2014, dan bahkan karyanya pernah ditulis dalam New York Times.

Menjadi seorang perancang busana sesungguhnya sudah terpatri di benak Lenny sejak masih kecil. Hanya saja, tak mudah bagi dia untuk meyakinkan kedua orangtua. Meski orangtua tak menentang, kata Lenny, mereka tak mengizinkannya untuk menempuh pendidikan di sebuah sekolah mode non-formal selepas SMA.

"Mereka enggak setuju bukan karena cita-citanya, tapi karena bentuk sekolah fashion yang tidak formal waktu di Surabaya. Setelah saya menemukan sekolah formal Seni Rupa dan Desain Mode ISWI, mereka mengizinkan," ujar Lenny.

Tak hanya ISWI, Lenny ‘tancap gas’ dengan menempuh pendidikan di dua sekolah mode lainnya, yakni Bunka dan Lasalle College Jakarta.  Berbekal ilmu yang diperoleh, Lenny mantap mengukuhkan kariernya sebagai perancang busana dengan membuka usaha butik pada 2001.

Sebagai pendatang baru, ada berbagai tantangan yang dihadapi ibunda penyanyi Gavin MJ ini kala itu. Apalagi, ia tak punya pengalaman sama sekali dalam mengelola sebuah usaha.

"Sebagai perancang mode baru, saya harus berusaha masuk ke dunia mode dan menarik perhatian. Kemudian juga berusaha survive menjalani industrinya," ujar Lenny.

Dengan tetap berpijak pada hasratnya mengeksplorasi busana dan wastra nusatara atau kain tradisional Indonesia, Lenny berusaha menciptakan karya yang berbeda dari perancang busana lain. Ia lantas memadukan kebaya dengan busana yang tak biasa, seperti rok tutu, rok span, bahkan legging. Hasilnya, busana tradisional lebih terlihat muda, ringan, serta fun.

Inilah yang kemudian menjadi ciri khas sang desainer hingga saat ini. Dalam setiap karyanya, ia ingin mengajak remaja dan ibu-ibu muda tidak ragu mengenakan busana tradisional. "Saya ingin masyarakat kita tidak menganggap apa yang disebut tradisional itu tidak bisa diekspresikan lebih kekinian," kata salah seorang pengurus Indonesian Fashion Chamber (IFC) ini.

Bagi Lenny, kain tradisional adalah identitas Indonesia. Dengan kain tradisional pada setiap karyanya, ia berharap bisa membantu kelestarian budaya Indonesia sekaligus mendukung para perajin di daerah. Di sisi lain, ini juga jadi tantangan tersendiri baginya. Sebab, kain tradisional tidak diproduksi massal atau besar-besaran.

Belasan tahun wara-wiri di industri model Tanah Air tampaknya belum cukup mampu menggoda Lenny melebarkan sayapnya hingga ke luar negeri. Ada alasan khusus mengapa ia enggan go international.

"Saya melihat pasar di dalam negeri masih sangat luas dan perlu konsentrasi juga untuk meraihnya," ucap Lenny.

Selanjutnya, Berbagi Ilmu