Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 29 April 2017 | 21:48 WIB
  • Seabad Wayang Orang Sriwedari Berjuang

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Rifki Arsilan
Seabad Wayang Orang Sriwedari Berjuang
Photo :
  • VIVA.co.id/Rifki Arsilan
Pagelaran wayang orang Sriwedari di TMII, Jakarta

VIVA.co.id – Perempuan setengah baya itu mengambil posisi tak jauh dari panggung. Duduk di tempat  penonton. Sesekali matanya menyapu pentas, mencuri pandang pada rekan-rekannya yang bergerak seirama, berdialog, menari dan menembang.

Mereka berlatih untuk pagelaran wayang orang Mintaraga. Dihajat untuk memperingati 107 tahun Pagelaran Wayang Orang Sriwedari, kebanggaan masyarakat Kota Solo. Di Taman Sriwedari, pagelaran wayang orang selama ini hampir setiap hari dipentaskan.

Rambut Eny Sulistyowati yang panjang dikuncir saat latihan gladi resik pementasan. Tak hanya panjang, rambut hitam tampak kontras dengan kulitnya yang putih.

Sesekali, Eny menyeka keringat di hidungnya. Latihan memang belum tuntas, namun kulit sang pelakon itu terlihat mulai memerah. Gladi resik yang menguras energi.

Wayang orang bukan hal baru bagi Eny. Menghidupkan seni klasik dan tradisi Jawa itu bahkan sudah menjadi panggilan hidup. Setidaknya begitu yang dipaparkan oleh produser Triardhika Production tersebut.

Kali ini, produksinya menyokong pementasan wayang orang yang cukup besar untuk merayakan ulang tahun Wayang Orang Sriwedari, yang biasanya menjadi hiburan rakyat secara rutin di Solo.

Eny bercerita, Triardika sudah tak terhitung memproduksi dan mendukung pementasan wayang di berbagai tempat, hanya kebanyakan dalam skala kecil karena terbentur biaya dan promosi. Namun selain di pertunjukan skala kecil, dia sendiri sudah melakon di tiga pertunjukan wayang orang yang cukup besar antara lain Opera Ken Dedes tahun 2012 kemudian pertunjukan Mahabandana pada tahun 2014.

Terbaru pementasan ulang tahun Paguyuban Sriwedari pada 25 April 2017 di Jakarta, yang mengambil kisah Mintorogo. Wayang orang ini menceritakan tentang Arjuna yang bertapa dan menyiapkan diri mengalahkan raksasa Niwoto Kawojo. Arjuna dalam Mintorogo dibantu oleh bidadari yang bernama Bidari Supraba. Eny pada pertunjukan itu, mengambil peran sebagai Supraba.

Eny bercerita bahwa berlakon wayang bukan sekadar melakukan kerja seni yang bisa ditonton banyak orang. Tantangan di masa kini, seni budaya yang sarat filosofis dan pesan moral itu harus bisa dipertahankan dan terus dihidupkan.

Wayang Orang

Salah satu pementasan wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta. (VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis)

“Wayang itu secara filosofis memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia. Jadi apa pun yang ada di wayang itu karena wayang itu sebenarnya wewayangan atau bayang-bayang. Jadi apa yang terjadi sekarang ini sebenarnya di wayang zaman dahulu itu sudah ada, sudah dikisahkan dalam cerita pewayangan itu. Jadi itulah keunggulan filsafat wayang,” kata Eny saat ditemui VIVA.co.id beberapa waktu lalu di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Selanjutnya…Empat Generasi