Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 6 Mei 2017 | 11:22 WIB
  • Selidik Kerja Hacker

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia,
    • Rifki Arsilan,
    • Fajar Ginanjar Mukti,
    • Afra Augesti
Selidik Kerja Hacker
Photo :
  • REUTERS/Nacho Doce
Seorang anak muda sedang berkomunikasi di jalanan Sao Paulo, Brasil.

VIVA.co.id – Dia bukan tipikal peretas (hacker) seperti yang sering digambarkan di film-film Hollywood: berambut keriting, tampilan acak-acakan, berkacamata tebal dan berbadan ramping. Namun bertubuh cukup kekar dan berkepala plontos. Mirip bodyguard, terkesan sedikit cuek. Dia mengaku mantan hacker dan hanya mau dikenal di artikel ini dengan inisial H.

“Maaf ya, lama menunggu. Tadi ada meeting dulu sebentar. Saya H,” kata dia saat memperkenalkan diri kepada VIVA.co.id di suatu gedung bertingkat di Jakarta Selatan, Jumat 5 Mei 2017.

Kerahasiaan memang harus dijaga. Dia mengaku sudah mengubur dalam-dalam latar belakangnya sebagai hacker, yang membuatnya sempat terjerumus ke dalam kriminalitas dunia maya. Sesudah "tobat," kini dia memimpin suatu divisi keamanan siber di suatu perusahaan penyedia jasa komputasi awan di Jakarta. Itu sebabnya, demi menjaga reputasi dia dan tempatnya bekerja, H tak mau identitasnya diumbar.

sorot hacker - Tugu Hiu dan Buaya Kota Surabaya.

Kota Surabaya menjadi tempat H memulai belajar tentang hacker. (VIVA.co.id/Adri Irianto)

H mengaku tidak suka mengenang masa lalunya saat masih bergabung dalam sebuah "hacktivism" di Surabaya semasa muda. Maka, saat ditanya laman apa saja yang pernah dia sabotase dan siapa nama aliasnya di dunia maya, H berupaya mengalihkan pertanyaan. Dia lagi menikmati kehidupannya sekarang ini.

Namun, H masih hapal luar dalam, sekaligus antusias menjelaskan cara kerja hacker. Termasuk saat dimintai tanggapan soal aksi deface yang dilakukan hacker terhadap beberapa situs operator telekomunikasi beberapa hari lalu, H cuma tertawa nyinyir. ”[Pemberitaan] media massa saja yang lebay. Deface itu kan hanya dilakukan oleh Lamer atau Script Kiddie,” ujarnya.

Setelah ditelusuri, Lamer berarti tidak mempunyai pengalaman dan pengetahuan tapi ingin menjadi hacker. Lamer bisa juga disebut ‘hacker wannabe’. Sedangkan Script Kiddie adalah seseorang yang tidak punya keahlian namun menggunakan program yang dikembangkan orang lain untuk menyerang atau men-deface website.(Baca juga: Ragam Kejahatan Dunia Maya)

“Biasanya, lamer atau script kiddie melakukan aksi deface atau hack untuk show off atau pamer. Mereka ada rasa bangga saat semua orang membicarakan aksi mereka, apalagi sampai dipublikasi ke media. Padahal sebenarnya yang meng-hack bisa jadi hanya anak kecil yang sering menghabiskan waktu di warnet, bermain game,” kata H.

Pendapat yang sama juga pernah diutarakan pakar keamanan Internet, Profesor Richardus Eko Indrajit dari Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructur (ID-SIRTII). Dalam makalahnya yang dipublikasikan di laman ID-SIRTII, Eko menilai saat ini hacker merasa tertantang jika dapat masuk ke sebuah sistem tertentu, yang dianggap sulit untuk dipenetrasi. Tindakan itu berhasil menstimulus hormon-hormon dalam tubuh manusia masa kini yang memberikan sebuah sensasi tersendiri secara alami.

Meskipun aksi deface tetap bisa menjadi peringatan bagi perusahaan, terkait lubang dalam jaringannya, H agak keberatan menyebut defacer tersebut sebagai hacker. Malah, seorang hacker "Gantengers" - yang mampu membobol uang miliaran rupiah milik Tiket.com - pun masih belum bisa disebutnya sebagai hacker profesional dan mahir. (Baca juga: Mereka Mengacak-acak Celah Keamanan)

“Aksi hacker untuk kasus (Tiket.com) itu, kalau yang saya baca, dia kebetulan menemukan kerentanan yang berisi informasi credential, berupa username dan password, yang bisa mengakses dan mengambil alih transaksi. Itu juga menurut saya hanya kebetulan. Sultan juga dikatakan meng-hack ribuan situs. Itu bukan meng-hack, pasti hanya deface,” kata H.

Aksi hacker Tiket.com itu disebutnya sebagai kejahatan yang menggunakan metode hacking bernama social engineering. Hacker mana pun bisa menarik uang dari kerentanan menggunakan social engineering, termasuk para Lamer dan Script Kiddie.

Hanya saja bedanya, kata H, tergantung keberanian dan aksi nekat yang dimiliki. Kebetulan, Sultan memiliki aksi nekat dan keberanian itu.

Selanjutnya...Tipe-tipe Hacker