Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 6 Mei 2017 | 11:06 WIB
  • Mereka Mengacak-acak Celah Keamanan

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Mereka Mengacak-acak Celah Keamanan
Photo :
  • REUTERS/Alexandre Meneghini
Seseorang mengakses internet di dalam mobil di Havana, Cuba.

VIVA.co.id - Pagi itu, satu hari jelang penghujung 2016. Seorang pria berambut pirang di Bonn, Jerman, menyandarkan punggungnya di sebuah kursi. Ia duduk santai. Sebuah meja makan berada persis di dekatnya. 

Di atas meja, beberapa potong roti gandum tersaji. Sepotong roti berpindah ke tangan kirinya. Tangan kanannya mulai mengoleskan selai. Secangkir kopi pun terseduh menemani sarapan paginya kala itu. 

Sejenak, matanya beralih ke perangkat mobile. Ditariknya perlahan dari meja makan itu. Pria pirang itu mulai berselancar lewat akun Twitternya. 

Rupanya, semalaman jagat maya riuh dengan kabar Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ke Rusia. Negeri Paman Sam menuding Negeri Beruang Putih mencampuri Pemilu AS yang berlangsung pada 2016.
 
Pria bernama Tillmann Werner itu paham. Sanksi itu bisa melahirkan bola panas antardua negara adidaya dunia tersebut. Werner, peneliti firma keamanan siber CrowdStrike itu masih santai menjelajahi linimasa Twitter-nya. 

Lamat-lamat sorot mata Werner terpaku pada tautan pernyataan resmi dari Gedung Putih. Pusat pemerintahan AS itu menargetkan sejumlah nama dan institusi Rusia. 

sorot hacker - national security amerika

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan blacklist sejumlah nama yang patut diwaspadai dalam dunia cyber. (REUTERS/Pawel Kopczynsk)

Dari daftar nama yang ditarget AS itu, mata Werner masih awam dengan fitur-figur tersebut. Ia merasa asing. Werner melanjutkan scroll linimasa Twitter-nya. Sejenak, menurut laman Wired, dia menghentikan scrolling

Jarinya terhenti, matanya terkunci, pada satu nama di antara deretan target AS. Evgeniy Mikhailovich Bogachev, nama itu yang memaksa mata dan pikiran Werner mengasah. 

Nama itu bukan baru baginya. Werner telah sejumput mengenali sepak terjang Bogachev. 

Baginya, pria asal Rusia itu licin dalam menjarah dan meneror sistem keuangan dunia. Jerat hukum tak mampu melumpuhkan aksinya selama bertahun-tahun. Werner pernah merasakan bagaimana rasanya beradu, bertengkar dengan pria Rusia itu. 

Sarapan santai Werner pagi itu berubah menjadi teka-teki menghantui pikirannya. Werner tak habis pikir, ulah apa yang dilakukan Bogachev pada Pemilu AS. 

Pikirannya terus bekerja, Bogachev yang ia kenal adalah ‘master’ dalam merampok bank. Bukan mengacak-acak pemilu negeri orang. 

Werner terus bertanya, apa peran Bogachev di pusaran pergantian pemimpin Negeri Paman Sam. Sarapan Werner berakhir dengan 'hantu' penasaran.

Selanjutnya, Buron Paranoid Nomor Wahid