Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 10 Juni 2017 | 11:36 WIB
  • Berawal dari Semarang

  • Oleh
    • Mustakim,
    • Fajar Ginanjar Mukti,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Berawal dari Semarang
Photo :
  • ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Rangkaian kereta api kuno membawa sejumlah wisatawan melintasi kawasan Rawa Pening di Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

VIVA.co.id –  "Naik kereta api, tut, tut, tut. Siapa hendak turut. Ke Bandung, Surabaya..." 

Nyanyian itu sayup-sayup terdengar dari gang, sebuah kampung di pesisir pantai Kota Semarang, Jawa Tengah. Sekelompok anak-anak dipandu seorang ibu-ibu yang tak lagi muda terlihat asyik menyanyikan lagu ciptaan Ibu Soed tersebut. Sesekali mereka tertawa dan bercanda.

Kampung padat penduduk yang penuh gang sempit ini bernama Spoorland. Kampung yang diapit rawa-rawa ini diyakini merupakan lokasi asal muasal lahirnya kereta api di Indonesia. Spoorland merupakan lokasi stasiun pertama Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada tahun 1864.

Jalur kereta di semarang

Jalur rel kereta api yang melintas kawasan Lawang Sewu pusat kota Semarang pada tahun 1920. (kitlv.nl)

Konon, nama Spoorland sudah ada sejak ratusan silam. Penamaan itu lahir sebagai nama jalan sejak zaman penjajahan kolonial Belanda. Hingga kini, kampung itu terus berevolusi menjadi nama kampung yang kondisinya nyaris tenggelam karena sering dihantam air pasang. 

Dan jauh sebelum kampung itu ada, jejak stasiun dan jalur kereta api pertama itu hilang dan tenggelam tergerus air rob dari laut.

"Saya ingat betul, waktu awal-awal di sini, bangunan stasiun masih ada relnya. Bapak dulu masinis. Bangunan stasiun itu luas di sepanjang kampung ini," ujar Ngatiyem (79), salah seorang warga kepada VIVA.co.id, Rabu, 7 Juni 2017.

Ngatiyem mengatakan, ia dan mendiang suaminya sudah tinggal di kampung ini sejak tahun 1954. Suaminya yang bernama Suyono merupakan pensiunan pegawai kereta api. "Tiap ditanya orang dulu saya tinggal di gudang persediaan. Karena dulu belum ada nama kampung Spoorland," ujar perempuan asli Yogyakarta itu.

Ngatiyem dan mendiang suaminya menjadi saksi tenggelamnya rel dan stasiun bersejarah tersebut akibat air pasang. Ia memperkirakan, kedalamannya telah lebih dari 20 meter. 

Selanjutnya, Rel Pertama