Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 24 Juni 2017 | 13:12 WIB
  • Katupek Sumatera Barat, Tak Hanya Saat Lebaran

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Putri Firdaus,
    • Putri Firdaus,
    • Andri Mardiansyah (Padang)
Katupek Sumatera Barat, Tak Hanya Saat Lebaran
Photo :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Seorang penjual menganyam ketupat dagangannya di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten

VIVA.co.id – Bagi masyarakat Indonesia, bukan Lebaran namanya kalau tidak makan ketupat. Bahkan di beberapa daerah di Tanah Air ada yang dinamakan Lebaran Ketupat. Jawa menjadi daerah yang paling kental akan tradisi Lebaran kedua yang biasanya dirayakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri tersebut. Ternyata itu bermula dari Raden Mas Sahid, anggota Wali Songo yang dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Dialah yang memperkenalkan dan memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan Lebaran Ketupat yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal.

Menurut kajian H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat sudah merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah pada awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur kelapa berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Ketupat

Ketupat usai dianyam dan siap dijual oleh pedagang di Jakarta. (VIVA.co.id/Shintaloka Pradita Sicca)

Ketupat sendiri memiliki makna yang luar biasa di balik namanya. Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, kata ketupat berasal dari kupat. Parafrase kupat adalah 'ngaku lepat', yang artinya 'mengaku bersalah'. Janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata 'jatining nur', yang bisa diartikan 'hati nurani'. Secara filosofis, beras yang dimasukan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi. Jadi, bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Hal yang sama diungkapkan Pakar Kuliner Indonesia, Linda Farida Rahmat. Selain ngaku lepat, ada istilah laku papat yang juga ada di balik makna ketupat. Laku papat adalah empat hal yang harus dilakukan di Idul Fitri, yaitu lebaran, luberan, leburan dan laburan.

"Kalau lebaran setelah puasa, kita meminta maaf, dilebarkan hatinya untuk memaafkan orang lain dan berhati besar untuk minta maaf sama orang. Kalau luberan, luber itu artinya melimpah. Jadi karena banyak, kita harus berbagi dengan orang yang kurang beruntung, kita suka kasih sedekah, itu jadi kebiasaan sebelum Lebaran, seperti zakat misalnya," ujar Linda saat dihubungi VIVA.co.id lewat sambungan telepon beberapa waktu lalu.

"Leburan, kita melebur setelah bermaaf-maafan karena di Islam kita harus bermaafan walaupun tidak selalu saat Lebaran. Sementara laburan setelah tiga tindakan itu kita labur lagi, kita cat putih lagi hati kita. Artinya hatinya kembali dibersihkan dari sifat yang tidak baik. Dilabur hati kita jadi putih lagi, bersih lagi," ucap wanita yang juga merupakan anggota Tim Ahli Bidang Kuliner Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia itu.

Selanjutnya, Tak Sepopuler di Jawa