Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 24 Juni 2017 | 13:03 WIB
  • Lebaran Khas Bali dengan 'Ketupat Ngejot'

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Putri Firdaus,
    • Bobby Andalan (Bali)
Lebaran Khas Bali dengan 'Ketupat Ngejot'
Photo :
  • ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Menu untuk buka puasa bersama umat muslim pada tradisi Megibung di Masjid Al Muhajirin Kepaon, Denpasar, Bali.

VIVA.co.id – Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, umat Muslim di Bali pun bersukacita menyambut suara takbir berkumandang, tanda Hari Kemenangan telah datang. Meski takbir terdengar hingga ke Pulau Dewata, Bali, perayaan Lebaran di pulau yang dijuluki sebagai salah satu surga dunia ini tak semeriah seperti di Pulau Jawa.

Meriah dan semaraknya Lebaran juga pawai takbir keliling, hanya terlihat di perkampungan Muslim di Bali. Mulai dari pedesaan di Kepaon, Kota Denpasar, Pegayaman, hingga Kabupaten Buleleng.

Bali memang terkenal toleran dengan keberagaman. Bahkan, di tengah padatnya jumlah penganut Hindu di Bali, umat Islam tetap leluasa merayakan tradisi Lebaran. Biasanya ada pawai menggemakan takbir diiringi dengan baleganjur, yaitu alat musik tradisional yang biasa digunakan untuk mengiringi ritual keagamaan umat Hindu di Bali.

"Situasi Lebaran di Bali yang meriah perayaannya ya di kampung-kampung Muslim kayak di Kampung Jawa atau Kampung Kepaon. Di sana memang umat muslimnya sudah turun temurun menetap. Tapi secara umum situasi di Bali, khususnya Kota Denpasar dan sekitarnya, sangat sepi karena mayoritas penduduknya mudik," terang salah seorang warga Bali saat berbincang dengan VIVA.co.id.

sorot bali lebaran muslim bali mudik

Sejumlah penumpang menuruni kapal penyeberangan Padangbai-Lembar (Bali-Lombok) di Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Bali. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Saat Lebaran tiba, kebanyakan umat Muslim Bali memilih pulang kampung. Sebagian lagi memilih memanfaatkan libur untuk kembali ke daerahnya (di Denpasar warga Bali juga banyak pendatang dari kabupaten lain). Jadi, jangan heran, lalu lalang kendaraan yang biasanya padat, saat Lebaran justru terlihat sepi sekali. Hanya satu dua mobil saja yang melintas.

Meski tak semeriah seperti di Pulau Jawa, Bali tetap memiliki tradisi saat Lebaran. Salah satunya, tradisi Lebaran Ketupat turun temurun.

Ketupat sendiri adalah penganan yang terbuat dari beras dan dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa atau janur berbentuk segi empat. Makanan tradisional ini memang menjadi menu wajib perayaan Lebaran di beberapa wilayah Indonesia. Tak terkecuali di Bali.

Tim Ahli Bidang Kuliner Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Linda Farida Rahmat menjelaskan bahwa tradisi Lebaran Ketupat ini awalnya dibawa oleh Sunan Kalijaga. Bukan sekadar tradisi, tapi momen ini memiliki makna dan filosofi tersembunyi.

Menurut dia, Lebaran Ketupat yang awalnya ada di Jawa punya beberapa sebutan, di antaranya Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat, artinya mengaku dan lapat bermakna salah. Jadi Ngaku Lepat berarti mengakui kesalahan dan saling memaafkan.

"Kalau Laku Papat itu ada empat hal yang kita lakukan, Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan," kata dia ketika dihubungi VIVA.co.id.

Linda menjelasakan, Lebaran berarti saling meminta maaf. Dilebarkan hatinya untuk memaafkan orang lain dan berhati besar untuk minta maaf kepada sesama. Sedangkan Luberan dari kata luber, yang artinya melimpah. Jadi harus berbagi dengan orang yang kurang beruntung, dengan memberi sedekah, dan biasanya dilakukan sebelum Lebaran.

Sementara Leburan, berarti saling melebur kesalahan dengan bermaaf-maafan. Dan Laburan dari kata labur atau mengecat putih hati, artinya hati dibersihkan dari sifat yang tidak baik.

Adapun ketupat yang selalu ditemani dengan hidangan lain, melambangkan keberagaman dan kebersamaan. "Kalau bersatu itu kan nikmat dan jadi sarana untuk silaturahmi karena ketupat tidak bisa dimakan sendiri," ujarnya.

Selanjutnya...Tradisi Ngejot