Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 24 Juni 2017 | 13:32 WIB
  • Jejak Tradisi Lebaran Ketupat Tanah Jawa

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Putri Firdaus,
    • Fajar Sodiq (Solo),
    • Nur Faishal (Surabaya),
Jejak Tradisi Lebaran Ketupat Tanah Jawa
Photo :
  • ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
Tradisi makan ketupat saat lebaran tiba

VIVA.co.id – Ketika berada jauh dari pusat kota, di salah satu daerah agak pelosok di Jawa Timur, suasana Idul Fitri tak semeriah di kota-kota besar. Meski gema takbir tetap berkumandang dari masjid atau surau, tetapi hidangan menyambut Idul Fitri belum ada.

Kuliner khas Hari Raya, atau yang juga disebut Lebaran, yakni ketupat belum tersedia di atas meja. Biasanya, ketupat justru baru dibuat beberapa hari setelahnya, mendekati Hari Raya lain, yang disebut Lebaran Ketupat.

Ketupat adalah penganan yang terbuat dari beras dan dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa, atau janur berbentuk segi empat. Makanan tradisional ini memang menjadi menu wajib perayaan Lebaran di beberapa wilayah Indonesia.

Terutama di tanah Jawa, perayaan Lebaran setelah puasa Ramadan umumnya dilakukan tak cuma sekali, tetapi dua kali. Pertama, Idul Fitri yang dirayakan tepat pada tanggal 1 Syawal, dan yang kedua adalah Lebaran Ketupat. Di Jawa, Lebaran Ketupat kerap dirayakan sepekan usai Idul Fitri, atau setelah melaksanakan puasa Syawal selama enam hari.

Lebaran ketupat jatuh pada tanggal 8 Syawal tiap tahunnya. Dua Lebaran ini dirayakan dengan cara berbeda oleh masyarakat Muslim Jawa, yang masih menjalankan tradisi dua Lebaran.

Bangunan Keraton Kesunanan Surakarta

Keraton Kasunanan yang berada di Surakarta. (VIVA.co.id/Fajar Sodiq)

Soal sejarah lahirnya tradisi warisan Wali Songo tersebut, budayawan sekaligus putra dalem mendiang Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwono (PB) XII, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo menuturkan, Lebaran Ketupat diperkenalkan kali pertama oleh Sunan Kalijaga, tokoh Islam Njawani, yang menggunakan simbol-simbol kuat dengan nilai Jawa dalam melakukan syiar Islam.  

"Beliau mengajarkan agama Islam dengan mengikat bersama tradisi yang sudah ada. Contohnya melalui makanan (ketupat). Karena makanan ini sudah ada di Jawa, sejak sebelum Islam di Nusantara. Makanya, Sunan Kalijaga membuat model baru syiar Islam menggunakan makna simbolis," tutur dia kepada VIVA.co.id, belum lama ini.

Sementara itu, anggota Tim Ahli Bidang Kuliner Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Linda Farida Rahmat menjelaskan bahwa tradisi yang dibawa oleh Sunan Kalijaga ini pun tak sekadar tradisi, tetapi memiliki makna dan filosofi tersembunyi.

Menurut dia, Lebaran Ketupat di Jawa punya beberapa sebutan, di antaranya Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat, artinya mengaku dan lapat bermakna salah, jadi Ngaku Lepat berarti mengakui kesalahan dan saling memaafkan.

"Kalau Laku Papat itu ada empat hal yang kita lakukan, Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan," kata dia, ketika dihubungi VIVA.co.id.

Linda menjelaskan, Lebaran berarti saling meminta maaf, dilebarkan hatinya untuk memaafkan orang lain dan berhati besar untuk minta maaf kepada sesama. Sedangkan Luberan dari kata luber, yang artinya melimpah. Jadi, harus berbagi dengan orang yang kurang beruntung, dengan memberi sedekah, dan biasanya dilakukan sebelum Lebaran.

Sementara itu, Leburan berarti saling melebur kesalahan dengan bermaaf-maafan. Dan, Laburan dari kata labor, atau mengecat putih hati, artinya hati dibersihkan dari sifat yang tidak baik.

Adapun ketupat yang selalu ditemani dengan hidangan lain, melambangkan keberagaman dan kebersamaan. "Kalau bersatu, itu kan nikmat dan jadi sarana untuk silaturahmi, karena ketupat tidak bisa dimakan sendiri," ujarnya.

Tradisi Lebaran Ketupat di tanah Jawa, memiliki substansi yang sama meski dilakukan dengan cara yang sedikit berbeda. Kali pertama, tradisi ini memang hanya dirayakan di keratin, atau pesantren. Namun, lambat laun, mulai diadopsi masyarakat, bahkan hingga ke luar Jawa.

Selanjutnya, Kemeriahan Lebaran Ketupat