Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 24 Juni 2017 | 12:30 WIB
  • Mappatumbu, Menganyam Kebersamaan dengan Ketupat 

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Yasir (Makassar)
Mappatumbu, Menganyam Kebersamaan dengan Ketupat 
Photo :
  • ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Sejumlah warga menanti saat berbuka puasa (ngabuburit) di Anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.

VIVA.co.id – Matahari perlahan mulai terbenam di ufuk barat. Sinarnya yang menyengat saat siang mulai menghangat. Di sebuah gang di Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah ibu dan anak gadisnya hingga para remaja tampak sibuk di beranda rumah.

Lembaran janur atau daun kelapa berwarna hijau menumpuk di depannya. Terhampar di sebuah meja panjang. Sebagian di antaranya mulai dijalin, membentuk ikatan yang saling merekat.

Tak butuh waktu lama, jalinan daun kelapa itu sudah menjadi bungkus ketupat. Terkumpul di sebuah wadah plastik, siap diisi beras dan selanjutnya direbus dalam air mendidih.

sorot sulsel - ketupat

Warga menganyam ketupat di teras rumah di Makassar, Sulawesi Selatan. (VIVA.co.id/Yasir)

Ya, di kampung itu, para ibu hingga remaja memang punya tugas sendiri. Menganyam janur hingga menjadi ketupat matang. 

Meski tradisi ini juga biasa dilakukan di daerah lain, di Jawa misalnya, tapi ada keunikan tersendiri. Aktivitas menganyam hingga memasak menjadi ketupat dilakukan serentak sambil bercengkerama.

Tradisi yang melukiskan keharmonisan keluarga. Aktivitas menganyam itu pun dilakukan dengan cara duduk bersila.

Sudah menjadi kebiasaan, sang ibu mengajari anaknya menganyam janur menjadi ketupat setiap tahunnya, jelang Lebaran. Selain agar bisa membantu orang tua, diharapkan anak-anak juga bisa lebih terampil. 

Sementara itu, para pria, punya tugas lain. Mereka mengumpulkan kayu bakar untuk perapian. Biasanya, kayu tersebut dikumpulkan sehari sebelum digunakan sebagai perapian. Kalau bukan dibeli, warga biasa mencari sendiri.

Ketika selepas Isya, warga mulai menyalakan perapian. Sebanyak 30-40 bungkus ketupat yang sudah terisi beras dimasukkan ke dalam dandang besar. Sekira empat 
jam, warga menanti ketupat matang. 

Secara kompak, warga melakukan kebiasaan tersebut. Sepanjang gang, warga sibuk menjaga nyala api dari kayu bakar. 

Warga pun menyebut kebiasaan itu dengan "mappatumbu" atau memulai memasak. Tidak sejarah pasti, sejak kapan kebiasaan itu dimulai. Warga menyebut kebiasaan itu sudah ada sejak zaman penjajahan. 

"Jadi setiap tahun, memang sudah jadi kebiasaan warga (Antang) sini. Sama-sama mappatumbu. Sekalian bersilaturahmi dengan para tetangga," ujar Fahri Kahar, salah satu tokoh masyarakat kepada VIVA.co.id.

Selanjutnya, Tak Sekadar Tradisi