Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 1 Juli 2017 | 18:36 WIB
  • Lestari Jalan Daendels

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim,
    • Nur Faishal (Surabaya)
Lestari Jalan Daendels
Photo :
  • ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Foto udara jalur Simpang Exit Tol Brebes Timur di Brebes, Jawa Tengah

VIVA.co.id – Gundukan tanah merah dan cor-coran semen basah masih terlihat di jalan sepanjang 110 kilometer dari Kaligangsa Brebes hingga Gringsing Batang Jawa Tengah. Saat itu, Minggu 11 Juni 2017, pukul 08.00 WIB sejumlah pekerja bekerja ekstra keras menggarap jalan tol fungsional yang akan digunakan pemudik mengurai kemacetan jalan di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura).

Ibarat “Pohon Silsilah Keluarga”, jaringan proyek infrastruktur baru itu turunan terkini dari moyangnya, Jalan Raya Pos – yang sudah berusia ratusan tahun. Bisa jadi, warisan kolonial Belanda ini adalah jalan raya tertua yang menghubungkan ujung barat dan timur di kawasan utara Pulau Jawa.

Dulu, Jalan Raya Pos ini dibangun semasa kepemimpinan tangan besi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels di awal abad ke-19 demi memperlancar komunikasi dan mobilisasi militer untuk menghadapi ancaman serangan militer dari Inggris. Sepanjang kurang lebih 1000 Km, Jalan Raya Pos membentang dari Anyer hingga Panarukan. 

Ratusan tahun kemudian, peran jalan raya yang juga populer disebut Jalan Daendels itu justru bertambah penting, yakni sebagai denyut nadi perekonomian dan transportasi di Pulau Jawa. Bahkan, setiap musim mudik Lebaran, jalan itu masih dipandang sebagai rute favorit banyak orang. [Baca juga: 'Jalan Darah' Membawa Berkah]

Namun, seiring bertambahnya populasi dan aktivitas ekonomi, sangat memprihatinkan bila Jalan Raya Pos masih saja jadi andalan satu-satunya bagi penghubung antar-kota dan antar-provinsi di Pulau Jawa. Sudah puluhan tahun negara ini berdiri, pertanda pembangunan tidak bakal maju-maju bila minim masih prasarana jalan-jalan baru.

Maka, perlu dibangun banyak rangkaian jalan baru yang lebih lebar dan moderen, seperti jalan tol fungsional ini. Namun, Jalan Raya Pos peninggalan Daendels tetap menjadi salah satu inspirasi bagi pembangunan infrastruktur di Indonesia. [Lihat Sejarah Jalan Raya di Indonesia]

Masih dalam tahap pembangunan, jalan tol fungsional itu baru memiliki dua lajur dengan lantai semen setebal 10 sentimeter. Jalan itu juga belum memiliki pembatas jalur dan hanya dipasangi tolo-tolo (tongkat sementara pembatas lajur) dengan sejumlah reflektor yang terbatas.

Jalan yang berada di tengah-tengah lahan persawahan dan kebun tebu ini nantinya bisa  menempuh waktu tiga jam dari Brebes hingga Kendal secara normal dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam, atau memangkas waktu maksimal satu jam lebih cepat dibandingkan melalui jalan nasional pantura.

"Jalan tol fungsional ini memiliki enam pintu exit, yaitu dua pintu menuju ke jalur Pantura dan empat exit menuju ke jalur selatan. Jalur ini akan dibuka 24 jam pada H-10 Lebaran 2017, sehingga akan terurai kemacetannya," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono kepada VIVA.co.id, Sabtu 10 Juni 2017.

Ia mengungkapkan, dengan adanya pembangunan jalan tol fungsional ini maka menambah panjang jalan tol trans Jawa yang ada saat ini. Sehingga diharapkan pada 2018 nanti seluruh jalan tol trans Jawa akan terhubung dari Merak sampai Pasuruan.

"Jalan tol fungsional ini proses pengerjaannya sudah 99 persen, namun masih ada jembatan yang dibangun, salah satunya adalah jembatan kali Sambong di Kandeman Batang, sepanjang 110 meter dan dalam tujuh hari selesai," ujarnya.

sorot daendels - menpupr basuki

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (kiri) berdialog dengan wartawan saat meninjau lokasi tol di pintu keluar Tol Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Basuki mengungkapkan, sejumlah upaya untuk mempercepat proses pengerjaan proyek jalan tol ini pun dilakukan Kementerian PUPR. Bahkan, material semen untuk jembatan di tol pun direkayasa dengan meningkatkan beton dari K350 menjadi K500, sehingga waktu kering semen tidak perlu satu minggu baru bisa dilalui.

Dengan adanya pembangunan jalan tol baru ini, maka peristiwa memilukan yang terjadi pada Mudik Lebaran tahun lalu yaitu Kemacetan Parah di exit tol Brebes Timur tidak terjadi lagi. Bahkan, tahun ini sejumlah fasilitas mudik yang disiapkan lebih lengkap dan lebih melayani masyarakat.

Basuki menambahkan, proyek pembangunan jalan tol fungsional sepanjang 110 kilometer ini menelan investasi sebesar Rp90 miliar. Dana tersebut dikeluarkan oleh PT Jasa Marga (persero) sebagai investor dan operator jalan tol ini ke depannya.

Berdasarkan data Kementerian PUPR dalam tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo tambahan panjang jalan tol yang terbangun hingga akhir 2017 mencapai 568 kilometer dan jalan tol yang sudah beroperasi sepanjang 176 kilometer.

Angka panjang jalan tol tersebut tentunya sangat besar jika dibandingkan pemerintahan sebelumnya, seperti era Presiden Soeharto dalam 20 tahun hanya mencapai 490 kilometer, Habibie 7,2 kilometer, Gus Dur 5,5 kilometer, Megawati 34 kilometer dan SBY yang 10 tahun memerintah hanya sepanjang 212 kilometer.

Selanjutnya… Perawatan Rutin