Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 8 Juli 2017 | 15:36 WIB
  • Berawal dari 'Si Kijang'

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Pius Yosep Mali,
    • Yunisa Herawati
Berawal dari 'Si Kijang'
Photo :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto
Mobil Toyota Kijang generasi ketiga dipajang di pabrik Toyota Motor Manufacturing Indonesia yang berada di Karawang, Jawa Barat

VIVA.co.id – Puluhan orang menggerompok salah satu gerai kendaraan di Jakarta Fair, Kemayoran, Minggu malam, 11 Juni 2017. Mata mereka tertuju pada sebuah mobil kelir merah dengan wujud yang tak 'familiar'. 

Meski kompak memandangi ‘barang baru’ itu, mereka juga sibuk dengan tingkah masing-masing. Ada yang sambil bercengkerama dengan teman, berbincang dengan wiraniaga, melihat-lihat mobil, sibuk memfoto, hingga menikmati kudapan. 

Rupanya, yang dikerubungi adalah salah satu jenama mobil tak terkenal di Tanah Air, Wuling. Dari penuturan seorang tenaga penjual, diperoleh informasi kalau mereka tengah memamerkan sebuah mobil keluarga terbaru dengan banderol murah.

Mendengar ucapan ini, suasana makin ‘beringsang’, banyak pengunjung yang penasaran dengan mobil gerangan.

"Namanya Wuling Confero S, di sini sudah bisa dipesan, cukup siapkan uang tanda jadi Rp5 juta. Kami juga siapkan berbagai promo menarik termasuk cashback jika melakukan pemesanan di Jakarta Fair," demikian 'jurus kecap' seorang tenaga penjual meyakinkan para pengunjung.

"Harga sementara kami jual Rp130 juta untuk tipe terendah, dan termahal Rp165 juta. Kapasitas penumpang tujuh orang, fitur lebih baik dari merek-merek Jepang," tuturnya.

sorot mobil - Wuling Confero S buatan China.

Mobil MPV Wuling Confero S buatan Cina yang dipamerkan di Jakarta. (VIVA.co.id/Pius Yosep Mali)

Wuling merupakan jenama pendatang baru dunia otomotif nasional yang gencar menancapkan kuku bisnis di Indonesia. Genderang bisnis produsen asal China ini sudah ditandai dengan guyuran investasi mencapai US$700 juta atau lebih dari Rp9 triliun untuk membangun markas di Cikarang. 

Setidaknya langkah mereka sudah lebih progresif ketimbang pemain mobil sekaliber Korea Selatan yang masih mengandalkan impor, kendati sudah hadir selama lebih dari dua dekade. 

Apa yang dilakoni Wuling terbilang wajar melihat fakta moncernya penjualan mobil penumpang di Indonesia. Lebih dari 40 persen penjualan mobil di Tanah Air memang didominasi segmen MPV, seperti yang diusung Wuling. 

Maka jangan heran bila segmen ini jadi sesak dengan banyaknya ragam produk dari berbagai merek. Sementara itu, jenama-jenama yang berkuasa hampir semua dari Jepang, seperti Toyota, Daihatsu, Honda, Nissan hingga Mitsubishi.

MPV merupakan kendaraan multiguna. MPV adalah klasifikasi mobil "multifungsi" yang dapat digunakan sebagai pengangkut penumpang sekaligus kendaraan pembawa barang. Kendaraan bertipe ini cenderung memiliki klasifikasi "minibus" (bus kecil) dilihat dari bentuknya. 

Produksi kendaraan yang bertipe MPV biasanya terdapat dua varian yaitu untuk membawa penumpang (dengan kursi penumpang belakang) dan untuk membawa kargo (tanpa jendela dan kursi penumpang belakang), yang hanya dikhususkan untuk membawa barang.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengatakan, masyarakat Indonesia memang cukup unik. Mereka memiliki preferensi produk mobil berbeda dengan selera masyarakat dunia. Apabila tren global mengarah ke model sedan dan Sport Utility Vehicle (SUV), masyarakat justru memfavoritkan mobil MPV untuk segala kebutuhan.

"Pasar kita memang unik. Tren permintaan domestik masih lebih banyak meminati MPV. Tren ini masih akan terjadi dua sampai tiga tahun ke depan," ujar Kukuh Kumara.

Ada satu faktor pendukung mengapa MPV dapat menjadi idola jamak masyarakat. Kata Kukuh, selain dapat memuat lebih banyak penumpang hingga tujuh orang, struktur pajak MPV beda dengan jenis sedan yang merupakan primadona di pasar global. Mobil sedan dikenakan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) hingga 30 persen, sedang MPV hanya 10 persen.

Selanjutnya, Sejarah Panjang