Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 24 Juli 2017 | 11:29 WIB
  • Kontroversi Rompi Warsito

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Putri Firdaus,
    • Diza Liane Sahputri,
    • Rifki Arsilan
Kontroversi Rompi Warsito
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Dr. Warsito P. Taruno menunjukkan ECCT (Electro-Capacitive Cancer Theraphy) Brain dan ECCT Breast, hasil ciptaannya bersama tim CTECH Labs Edwar Technology Company di Alam Sutera, Tangerang Selatan, B

VIVA.co.id – Hari masih pagi. Jam di tangan menunjukkan pukul 08.00 WIB. Lobi utama sebuah rumah sakit besar di kawasan Jakarta Barat itu mulai ramai.

Petugas layanan dan kasir terlihat sibuk. Pasien makin banyak berdatangan. Beberapa di antaranya tampak membawa perbekalan cukup banyak.

Rosnani, 58 tahun, salah satu pasien Rumah Sakit Kanker Dharmais itu, juga sudah mengantre. Perempuan paruh baya itu didiagnosis menderita kanker payudara pada 2012.

Kepada VIVA.co.id, dia bercerita, satu-satunya penanganan penyakitnya dengan jalan operasi. Sebab, sudah stadium tinggi sehingga penanganan harus cepat. 

"Awalnya setelah dicek semua. Laboratorium, radiologi, hasilnya positif (kanker)," ujarnya, Kamis, 20 Juli 2017.

Operasi pengangkatan payudara pun sudah dilakukan dua kali di dua rumah sakit berbeda. Pertama di Rumah Sakit Dharmais dan kedua Rumah Sakit Pelni.

Pascaoperasi, perempuan yang tinggal di Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini, rutin melakukan kemoterapi selama enam bulan.

Rosnani mengaku, sejak didiagnosis kanker, dia tidak berpikiran untuk berobat ke luar negeri. Alasannya simpel, karena sekarang rumah sakit di Indonesia teknologinya sudah canggih. Kualitas dokternya pun diakuinya tidak kalah dengan luar negeri.

"Enggak lah (berobat ke luar negeri). Orang (dokter) kita sudah pintar-pintar kok. Saya percaya," tutur dia, sembari melempar senyum tipis.

Selesai kemoterapi, Rosnani melanjutkan, kondisi tubuhnya biasanya lemah. Ini lumrah karena metode itu menguras sekali tenaga, sehingga pasien wajib makan tiap usai melakukan kemoterapi.

Ia mengatakan, metode kemoterapi ini tergantung berat badan pasien. Apabila berat badan rendah, dosisnya kecil. Begitu pula sebaliknya.

"Seminggu satu kali kemo. Kalau berat badan stabil di atas 50 kilogram, biasanya per tiga minggu selama 6 bulan," papar dia.

Mengenai total biaya yang dikeluarkan, Rosnani menjawab sekitar Rp300 juta. Begitu besarnya biaya penyembuhan kanker tidak membuat Rosnani mencari pengobatan alternatif. 

Ia rutin melakukan check-up, baik ke RS Pelni maupun Dharmais, untuk memastikan tubuhnya bebas kanker.

"Itu (biaya) lima tahun lalu, sebelum ada BPJS Kesehatan. Karena sekarang sudah ada BPJS, biaya pengobatan untuk segala jenis kanker hampir di-cover semua," ujar Rosnani.

Untuk beberapa jenis obat, mengharuskan pasien seperti dirinya membeli sendiri. "Memang ada kelebihan biaya. Tapi itu tidak besar," ucap dia, yang enggan menyebut angkanya.

kanker serviks - IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) - deteksi kanker

Petugas medis dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Gorontalo menyiapkan tempat pemeriksaan IVA/Pap Smear di Kota Gorontalo, Gorontalo. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Kendati demikian, Rosnani memiliki harapan besar kepada pemerintah. Ia mengatakan, pemerintah harus menyediakan fasilitas untuk penderita kanker di seluruh daerah di Indonesia.

Sebab, RS Dharmais satu-satunya rumah sakit khusus kanker, sehingga pasien dari Sabang sampai Merauke ramai-ramai berobat ke rumah sakit yang ditunjuk sebagai Pusat Kanker Nasional itu.

"Teman saya dari Ambon, Sumatera, dan Papua, semua dikirim ke Dharmais," tuturnya. "Memang peralatannya komplet, canggih, dan gratis bagi pemakai BPJS Kesehatan. Tapi kan ongkosnya sangat mahal. Kasihan kalau yang pas-pasan," ujarnya.

Ia lalu membandingkan jumlah dokter onkologi atau spesialis kanker di rumah sakit kawasan Jakarta. Paling banyak jumlahnya di RS Dharmais dan RS Cipto Mangunkusumo.

"Di rumah sakit lainnya paling banyak dua orang dokter onkologi. Bayangkan kalau pasiennya banyak. Jadi, pemerintah harus sediakan tenaga medis, spesialis penyakit kanker dan fasilitas seperti laboratorium, radiologi," tutur dia.

Selanjutnya, Terobosan Pengobatan Kanker