Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 29 Juli 2017 | 15:07 WIB
  • Cari Kehidupan di Luar Bumi

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Cari Kehidupan di Luar Bumi
Photo :
  • REUTERS/Stringer
Puluhan warga melihat peluncuran roket dari Wenchang Satellite Launch Center di Wenchang, provinsi Hainan, China

VIVA.co.id – Seorang petani jagung duduk di sebuah ruangan cukup luas. Di hadapannya sederetan ilmuwan dengan pandangan serius. Mereka rupanya tengah menginterogasi  si petani bernama Joseph Cooper itu. Dia  harus mengungkapkan kenapa bisa sampai menemukan suatu tempat yang menghebohkan.

Cooper berbelit-belit menjelaskannya. Dia mengaku hanya tak sengaja sampai di lokasi itu dalam perjalanan bersama putrinya, Murph Cooper. Mereka akhirnya tersesat hingga ke tempat fasilitas paling rahasia di dunia tersebut. Sang ilmuwan tak percaya, mereka yakin Cooper tahu dan menyembunyikan sesuatu.

"Cooper tolong jujurlah pada mereka (ilmuwan)" kata Profesor Brand menengahi perdebatan.

Sang petani beringsut dan akhirnya melunak, sambil memeluk erat Murphy, dia menjelaskan tersesat di lokasi paling rahasia karena dituntun oleh sebuah anomali. Ilmuwan makin penasaran, mengejar pengakuan Cooper.

"Anomali seperti apa," sela salah satu ilmuwan.

Cooper mencoba menjelaskan dengan berbelit. Ilmuwan tak sabar, memintanya untuk spesifik menjawab, minta langsung ke inti jawaban.

Murphy langsung merespons, mereka mengetahui koordinat lokasi paling rahasia di dunia itu karena adanya anomali gravitasi. Seketika ilmuwan saling beradu pandang, wajah mereka kaget dan terkejut terlihat. Mereka makin penasaran, mengernyitkan alis, terus interogatif, gravitasi semacam apa, di mana anomali itu terjadi.

Cooper merespons. Dia tak akan menjawab lebih terang tanpa sebuah jaminan. Sambil memegang erat kepala anaknya dengan kedua tangan, Cooper ingin begitu mengatakan semuanya dengan jujur, bersama putrinya bisa dibebaskan dari interogasi di ruang paling rahasia di dunia dan segara pulang dari ‘tawanan’ ilmuwan.

Ilmuwan tersenyum melihat reaksi memohon Cooper. Profesor Brand lantas bertanya kepada Cooper, tahukan dia siapa yang menginterogasinya.

"Kau tak tahu siapa kami, Cooper?" ujar profesor Brand. "Tidak profesor," jawab petani dengan wajah lelahnya.

Orang-orang yang menginterogasinya adalah ilmuwan NASA.

"NASA iya, NASA tempat yang sama dulu kamu bekerja," ujar profesor Brand. Cooper merupakan petani yang sebelumnya adalah mantan pilot uji coba NASA.  

Sang profesor bangkit dari tempat duduknya dan mengisyaratkan tangan, bersamaan dengan itu dinding kayu ruangan interogasi bergeser otomatis.

Profesor Brand mengajak Cooper ke ruang sebelah, sebuah fasilitas produksi dan operasi rahasia NASA. Berjalan pelan mengikuti Profesor Brand, mata kosong Cooper melepas pandang ruangan operasi. Copper terlihat masih belum sadar dengan apa yang dilihatnya. Di depannya para teknisi dengan seragam khas laboratorium, putih, sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing, mengelas, mengecek komponen mesin roket dan lainnya.

Profesor Brand menjelaskan, NASA sedang menjalankan rahasia untuk mencari solusi krisis pangan yang terjadi di dunia. Selama tujuh tahun sebelumnya, gandum telah susah berkembang, kemudian tanaman Okra menyusul tahun ini, kentang di Irladia mati juga,akibat wabah hawar, sebuahbadai debu menerjang daratan, kata sang profesor. Dunia sedang krisis bahan makanan, tanaman makanan semua nyaris mati akibat wabah tersebut. Tinggal jagung, yang juga menunggu mati juga.

Cooper terpana dengan paparan Profesor Brand. Cooper meyakinkan kepada sang profesor, peradaban manusia pasti punya cara menangani krisis tersebut. Profesor Brand menjelaskan, krisis ini memang akan berdampak, terutama pada generasi anak cucu setelah generasi Cooper.

Cooper akhirnya sadar dengan jalan pikiran Profesor Brand. Dia bertanya apa rencana NASA untuk menyelamatkan dunia. Profesor mengatakan, manusia tak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia, tapi memang digariskan untuk meninggalkan Bumi, mencari tempat selamat. Mata Cooper terpaku pada wahana antariksa di depannya. Dia bertanya apakah benar ilmuwan akan mengirimkan misi ke antariksa untuk mencari rumah baru bagi manusia.

Mengikuti misi Lazarus, kata Profesor Brand membenarkan rasa penasaran Cooper.

Namun Cooper skeptis. Setahunya tak ada planet di Tata Surya yang mampu mendukung kehidupan, bahkan bintang terdekat yang jaraknya 1000 tahun cahaya lamanya, untuk itu dia bertanya ke mana misi Lazarus akan dikirim mencari rumah baru.

sorot antariksa - nasa juno - orbit jupiter - planet

Aktivitas Pesawat antariksa nirawak Juno yang dikembangkan NASA saat memasuki orbit planet Jupiter. (NASA/JPL-Caltech/Handout via REUTERS)

Tatapan mata Profesor Brand turun ke bawah, menghela napas. Dia enggan membeberkan detail misi penerus Lazarus, yakni misi Endurance, kecuali dengan satu syarat. Cooper harus setuju menjadi pilot misi Endurance. Cooper menolaknya, dengan alasan dia belum pernah melewati stratosfer bagaimana bisa dia layak untuk menjalankan misi yang jauh di luar angkasa. Misi Endurance ternyata mencari rumah baru, sebuah kelompok planet di galaksi jauh di luar Tata Surya yang belum dikenali ilmuwan.

Cooper setuju tawaran menjadi pilot Misi Endurance. Kemudian dia dijelaskan mengingat tantangan anomali gravitasi ada dua skenario misi. Rencana A, misi akan mengirimkan awak ke galaksi lain dengan wahana antariksa. Rencana B, skema bom populasi, yang akan membawa sel telur yang telah dibuahi yang dibekukan. Kemudian di bawah ke galaksi lain untuk nanti ditumbuhkan dan berkoloni di galaksi lain.

Pada Rencana A, awak akan dikirim ke galaksi lain, memastikan kondisi planet yang dituju. Jika planet tersebut layak huni, awak akan mengirimkan sinyal. Setelahnya awak akan dibuat hibernasi, tidur panjang. Menunggu awak lain menyelamatkan mereka.

Penunjukan Cooper menjadi pilot Misi Enduracne itu merupakan bagian dari film “Interstellar,” yang dirilis 2014.

Selanjutnya...Rumah Baru Manusia