Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 5 Agustus 2017 | 17:33 WIB
  • Sinambung Lawak Indonesia

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Bimo Aria,
    • Shintaloka Pradita Sicca,
    • Mohammad Yudha Prasetya,
    • Isra Berlian,
    • Rifki Arsilan,
    • Bayu Nugraha,
    • Foe Peace Simbolon
Sinambung Lawak Indonesia
Photo :
  • VIVAnews/Fernando Randy
Ludruk Kartolo

VIVA.co.id - Feni Rose nyaris terjatuh dari kursinya sembari terbahak-bahak. Dia mengambil sehelai kertas dan mengipaskan ke wajahnya. Berusaha kembali tenang.

Namun, presenter yang didaulat jadi juri sebuah acara komedi ini masih saja cekikikan. Beberapa kali terlihat memaksa bibirnya mengatup, usahanya itu seperti sia-sia.

Kipas kertas yang dipergunakannya untuk mengibaskan angin ke rambut panjangnya juga tak bisa berbuat banyak. Limabelas otot wajahnya yang sejak tadi sudah tertarik-tarik, membuat mukanya memerah.

Lalu, dengan jari telunjuk kiri terlipat, ia pun menyeka ujung matanya dengan kulit di punggung jari telunjuknya. Sepertinya air mata Feni keluar tanpa disengaja.

Hari itu, apa yang dialami Feni, hampir serupa dengan ratusan orang lain yang duduk di tribun penonton di belakang Feni. Penampilan lawak tunggal atau Stand Up Commedy – yang digelar sebuah stasiun televisi nasional beberapa waktu lalu itu – memang berhasil membuat suasana riuh.

Mimik dan gaya tutur khas Jawa Dodit Mulyanto, seorang komika yang kebetulan menjadi penampil di acara itu diakui benar-benar mengocok perut. Tak cuma tiga juri, ratusan penonton bahkan dibuatnya terpingkal.

Hingga kini, kepingan kehebohan itu tetap bisa disaksikan di layanan video Youtube. Meski acara itu telah setahun silam, terbukti tetap digemari. Faktanya, video ulangan ini telah menembus lebih dari 6,2 juta orang penonton.

Di Indonesia, diakui sejarah perlawakan memang minim literasi. Maklum sejak lampau ada anggapan bahwa humor itu hanyalah dunianya kaum jelata. Para priyayi atau pejabat harus berwibawa, serius dan harus selalu terlihat bisa disegani.

Meski begitu, komedi sejatinya telah dinikmati berpuluh tahun lalu umumnya dalam bentuk kesenian rakyat seperti Ludruk, ketoprak, lenong, atau pun pagelaran wayang.

Ludruk Kartolo

Sejumlah aktor saat mementaskan pertunjukan Ludruk Kartolo di Graha Bhakti Budaya Jakarta, (12/04/2012). Foto:VIVAnews/Fernando Randy

Bentuk penampilan komedi ini bisa dilakukan berkelompok atau dilakukan sendiri (monolog). Usai kemerdekaan Indonesia, tahun 1949 misalnya, pernah populer sosok Cak Markeso. Sosok seniman ludruk tunggal ini berkeliling kampung dan melawak seorang diri.

Lalu ada juga nama Srimulat di tahun 1950-an. Kelompok pelawak yang mengkolaborasikan musik, tari dan komedi dalam satu paket. Mereka berkeliling dari Jawa Timur sampai Jawa Tengah.

Di tahun 1958, muncul grup lawak bernama Trio Los Gilos. Anggotanya Mang Udel, Mang Cepot dan Bing Slamet. Konon kelompok inilah yang akan menjadi figur contoh kelompok lawak generasi berikutnya.

Sejalan itu, kelompok-kelompok lawak pun makin berkembang. Beragam nama seperti Kwartet Jaya, Surya Grup, Pancaran Sinar Petromak, Warkop DKI, Sersan Prambors dan lain sebagainya pun lahir. [Baca juga: Warkop DKI, Berjaya Sepanjang Masa]

Begitu pun dengan sosok perorangan seperti Bing Slamet, Edi Sud, Ateng, Iskak, Benyamin S dan lainnya bersemi di Indonesia. [Lihat infografik: Sejarah Lawak Indonesia]

Sayang memang, sikap represif Orde Baru kala itu ditambah terbatasnya stasiun televisi membuat banyak grup lawak atau pun figur perseorangan timbul tenggelam.

Selanjutnya…Lawakan Dulu dan Kini