Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 12 Agustus 2017 | 15:03 WIB
  • Lampu Kuning dari Sang Legenda

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Rifki Arsilan,
    • Chandra G. Asmara,
    • Lilis Khalisotussurur,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Lampu Kuning dari Sang Legenda
Photo :
  • ANTARA FOTO/Aji Styawan
Pabrik jamu PT Njonja Meneer yang berada di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah.

VIVA.co.id – Raut muka Siti Musliatun terlihat letih. Keringat masih membasahi wajahnya. Dua jam sudah ia mengayuh sepeda tuanya. 

Jarak 20 kilometer ditempuh dari tempat tinggalnya di Desa Perampelan, Sayung, Kabupaten Demak menuju Kota Semarang. Saban hari, jarak sejauh itu ia tempuh. 

Tak ada maksud lain. Siti hanya ingin menagih hak pesangon dari perusahaan bekas tempatnya bekerja, PT Nyonya Meneer. Perempuan berusia 57 tahun itu bekerja di pabrik jamu legendaris itu sejak 1983. 

Namun, delapan bulan terakhir, Siti tak pernah lagi menerima upah. Sejak itu pula, ia bertekad menagih tanggung jawab PT Nyonya Meneer hingga haknya dipenuhi.

Siti Musliatun, bekas buruh pabrik jamu PT Nyonya Meneer, bersepeda untuk menuntut haknya dari rumahnya di Demak menuju pabrik di Semarang pada Senin, 7 Agustus 2017.

Siti Musliatun (kiri) saat mengayuh sepeda menuju ke pabrik PT Nyonya Meneer di Jalan Kaligawe Semarang, Jawa Tengah. (VIVA.co.id/Dwi Royanto)

Saat tiba di salah satu pabrik PT Nyonya Meneer di Jalan Raden Patah Kota Semarang, tangannya bergegas mengetuk pintu yang sudah terkunci. Namun, harapannya selalu hampa. Tak ada seorang pun yang membukakan pintu berkarat itu.

"Saya mau tagih lagi pesangon saya yang ditunggak pabrik delapan bulan. Saya tiap hari berangkat dengan sepeda," kata Siti saat ditemui VIVA.co.id pada Senin, 7 Agustus 2017.

Siti datang pagi-pagi karena sebelumnya dijanjikan akan diberikan pesangon oleh seorang mandor pabrik bernama Yuni. Tapi, lagi-lagi, janji itu tak juga terealisasi karena sang mandor tak juga menemuinya.

Sebagai buruh lepas sejak 34 tahun silam, tugas Siti memilah bahan baku obat-obatan jamu menjadi serbuk jamu. Dari bekerja di bidang pengayakan jamu itu, dia mendapatkan upah Rp70 ribu per hari. 

Kondisi yang dialami Siti kian pahit saat dipindah kerja dari pabrik di Jalan Kaligawe ke Jalan Raden Patah pada tahun 2000-an. Sejak saat itu, pekerjaan produksi jamu semakin menyusut. Sang mandor kadang-kadang memintanya libur karena produksinya yang menyusut.

Siti memang tak sendiri. Isubroto, pegawai pensiunan pabrik jamu tertua di Indonesia itu, juga merasakan kegetiran serupa. Tangan pria 62 tahun itu tampak gemetar. Wajahnya berkaca-kaca dan memperlihatkan kerisauan. 

Lipatan koran dipegangnya dengan erat saat hendak memulai percakapan ihwal nasib masa tuanya yang terlunta-lunta. Kerisauan Broto bukan tanpa alasan. Sejak diminta pensiun pada 2016, Broto ternyata belum mendapatkan uang pesangon atas pengabdiannya selama puluhan tahun.

"Saya baru tahu kalau perusahaan akhirnya tutup. Sekarang hanya bisa pasrah, enggak bisa berbuat apa-apa lagi," kata Broto saat ditemui di rumahnya, Sabtu, 5 Agustus 2017. [Baca juga: Nyonya Meneer Tak Lagi Kuat Berdiri]

Broto telah 25 tahun bekerja di pabrik jamu asli Semarang itu. Karier Broto dilalui sebagai seorang sopir mobil karyawan sejak 1991. Selama bekerja di pabrik tersebut, Broto terhitung sebagai karyawan yang cukup berprestasi. Tak sekalipun dirinya mendapatkan teguran dari perusahaan. [Lihat Infografik: Sejarah Industri Jamu]

Seharusnya, uang pensiunan yang harus diterimanya sebesar Rp63 juta. Namun, nominal yang menjadi haknya itu hingga kini tak juga dibayarkan perusahaan.

Selanjutnya, Jatuh Pailit