Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 12 Agustus 2017 | 14:53 WIB
  • Nyonya Meneer Tak Lagi Kuat Berdiri

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Rifki Arsilan,
    • Rifki Arsilan,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Nyonya Meneer Tak Lagi Kuat Berdiri
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
Pabrik PT Nyonya Meneer yang terletak di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah.

VIVA.co.id –  ‘OBYEK INI DALAM SITA UMUM’. Tulisan itu terpampang, persis di depan bangunan yang berlokasi di Jalan Kaligawe Km 4, Kota Semarang, Jawa Tengah ini. Pengumuman yang ditulis dalam huruf kapital itu terpampang di spanduk warna kuning berukuran 3x6 meter yang menempel di pintu pagar. Tak jauh dari pagar, terlihat papan nama atau plang bertuliskan ‘MUSEUM JAMU NJONJA MENEER’ dan ‘NJONJA MENEER’ berukuran besar. 

Spanduk berisi pemberitahuan segel dipasang di sisi depan pintu gerbang kompleks pabrik PT Nyonya Meneer di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis, 10 Agustus 2017.

Seorang karyawan mengamati tulisan pengumuman penyitaan di pabrik PT Nyonya Meneer, Jalan Kaligawe Semarang. (VIVA.co.id/Dwi Royanto)

Sore itu, Rabu, 9 Agustus 2017, bangunan yang berada persis di pinggir kali ini tampak sepi. Tak ada lalu lalang orang dan kendaraan laiknya sebuah perusahaan. Juga tak terdengar suara mesin yang sedang beroperasi. Bangunan berdinding putih dengan cat yang mulai kusam ini tampak lengang.

Perusahaan yang sudah berdiri sejak 1919 ini sedang terlilit utang. Akibat tak kuat membayar, perusahaan diputuskan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang. Pabrik jamu legendaris ini pun goyang.

Perusahaan Keluarga

PT Nyonya Meneer merupakan bisnis keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Menurut buku Family Business: A Case Study of Nyonya Meneer, One of Indonesia’s Most Successful Traditional Medicine Companies, perusahaan ini didirikan oleh Lauw Ping Nio, nama asli dari Nyonya Meneer. Produk jamunya terkenal sejak 1919 dan memiliki pabrik pertama di Semarang, Jawa Tengah.

Nyonya Meneer sendiri lahir di Sidoarjo, Jawa Timur pada 1895 dan tinggal di Semarang dengan suaminya saat pendudukan Belanda. Besar di Sidoarjo, Meneer kecil menerima banyak didikan dari sang ibu, termasuk meracik tanaman untuk digunakan sebagai obat. Warisan orangtua ini yang kemudian menjadi cikal bakal industri jamu terbesar di Indonesia yang produknya berhasil menembus pasar internasional ini.

Bangunan pabrik Nyonya Meneer.

Salah satu bangunan pabrik PT Nyonya Meneer yang ada di Semarang. (VIVA.co.id/Dwi Royanto)

Sebutan Meneer ia dapatkan sejak masih berada di dalam kandungan. Ibunya gemar memakan butiran-butiran halus sisa tumbukan padi yang dalam bahasa Jawa disebut Menir. Maka saat Lau Ping Nio lahir, sang ibu kerap memanggilnya dengan sebutan Meneer.

Semasa kecil, wanita yang akrab disapa Nonie Meneer ini tak hanya diajarkan meracik jamu, namun juga beragam keterampilan rumah tangga seperti merawat tanaman, memasak dan mengurus rumah. Didikan tersebut membuatnya tumbuh menjadi wanita yang disiplin dan kreatif.

Paras Tionghoa Jawa Nonie Meneer yang cantik menarik perhatian pemuda asal Semarang berdarah Tionghoa, Ong Bian Wan. Pemuda yang berprofesi sebagai pedagang tersebut jatuh hati pada Meneer. Tanpa ragu, Ong menyunting Meneer yang saat itu masih berusia 17 tahun. Setelah menikah, muncullah panggilan baru yang melekat hingga kini, Nyonya Meneer.

Dikutip dari laman resmi Njonja Meneer, dikisahkan bahwa pada suatu ketika suaminya jatuh sakit. Ia mengeluhkan sakitnya di bagian perut. Sumber lain menyebutkan, suaminya jatuh sakit karena bekerja terlalu keras akibat kekejaman Belanda.

Namun, pada waktu itu mendapatkan pengobatan yang layak tidak mudah. Sejumlah dokter yang didatangi tak kunjung bisa menyembuhkan. Terdesak, Meneer pun mencoba meracik jamu dari tanaman obat dengan peralatan sederhana, berbekal ilmu yang diajarkan ibunya. Ajaib, suaminya sembuh. Sejak itu Meneer bersemangat mengasah kemampuannya membuat dan meramu jamu.

Ketika usia Meneer menginjak 24 tahun, jamu racikannya mulai dikenal. Kabar mengenai kemampuan Meneer yang jago meramu obat yang mujarab mulai terdengar masyarakat sekitar. Sejak itu Meneer mulai menyebarluaskan jamu buatannya untuk membantu orang-orang di sekitarnya yang sakit.

Nyonya Meneer yang ringan tangan dan peduli pada sesama dengan senang hati meracik untuk mereka yang demam, sakit kepala, masuk angin dan terserang berbagai penyakit ringan lainnya. Semakin banyak yang merasakan khasiat jamu racikan Nyonya Meneer, semakin banyak pula permintaan untuk mengantarkan sendiri jamu yang sudah mulai ia kemas.

Selanjutnya, Bisnis Jamu Terbesar di Indonesia