Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 20 Agustus 2017 | 06:13 WIB
  • N219, Penyambung Asa

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia,
    • Fikri Halim,
    • Amal Nur Ngazis,
    • Rifki Arsilan,
    • Adi Suparman (Bandung)
N219, Penyambung Asa
Photo :
  • ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra
Pesawat N219 mendapat sambutan meriah dari masyarakat di Bandung begitu mendarat.

VIVA.co.id – “Dengan mengucap Bismillahirrohmanirrahim, inilah terbang perdana pesawat karya putra-putri bangsa Indonesia, N219!” Demikian sorak seorang pemandu acara yang menggema di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung.

Tepuk tangan dan sorak-sorai pun bergemuruh dari pinggir lintasan yang jaraknya kurang dari satu kilometer dari landasan pacu itu. Di seberang sana, pesawat perintis itu berlari kencang. Lalu semakin kencang, sampai akhirnya tak lagi menyentuh aspal.

Laa hawla wala quwwata illa billah,” sahut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, saat mengiringi pesawat yang melakukan uji terbang pertama pada 16 Agustus 2017 itu.

Saat pesawat terbang semakin tinggi, tepuk tangan semakin bergelora menggetarkan panggung di sisi lintasan. Sorak sorai pun mengalun dari ribuan karyawan PT DI dan para pengunjung yang hadir. Pesawat yang dirintis PT DI sejak 2004 itu terbang dengan ketinggian sampai 1.000 kaki, membuat decak kagum semua orang yang merasa turut melahirkannya.

“Subhanallah!” seruan itu pun terdengar sayup-sayup. “Akhirnya, bisa juga terbang. Akhirnya! Waahhh, luar biasa,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara dari Kementerian Perhubungan, Agus Santoso. Dia  tampak sangat bangga sambil melihat sang pesawat menghilang ditelan awan.

Para pejabat yang menyaksikan pun saling berpelukan dan meneteskan air mata. Selain Thomas Djamaluddin dan Agus Santoso ada juga Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso. Pesawat berkapasitas 19 penumpang itu mengudara mengelilingi langit Bandung Barat selama 40 menit sejak lepas landas pukul 09.00 WIB.

Saat mendarat di landasan pacu yang sama, dua baling-baling yang berada di depan pesawat terus menerus berputar seraya membawa pesawat ke depan para penonton. Pintu pun terbuka dan seorang pilot wanita keluar dari sisi kiri pesawat, berlari ke arah kerumunan dengan mata berkaca-kaca. Chief Test Pilot dari PT DI itu, Capt. Esther Gayatri Saleh, langsung disambut jajaran direksi PT. DI dan instansi lainnya yang ikut merasakan haru.

"Merdeka untuk Indonesia, kita bisa hadirkan produk anak bangsa. Ini masih baru perdana terbang, semua unsur pesawat merespons dengan baik," kata Esther seraya menghapus linangan air matanya.

Sejatinya, master testing plan N219 semula dijadwalkan pada 2009, kemudian target maiden flight pada awal 2016. Menurut Kepala Program N219 dari Lapan, Agus Aribowo, yang menyebut uji coba kemarin sebagai The First Engineering Development Flight Test, lamanya kemunduran yang ditargetkan dari jadwal sebelumnya, dikarenakan PT DI kehilangan banyak engineer terbaik yang merancang N219 sejak awal. Ini memberikan pengaruh psikologis engineer yang lain sehingga tidak yakin 100 persen dengan hasil perhitungan dan analisa mereka. [Baca juga: Kepak Sayap Adik Gatotkaca]

“Ini menyebabkan terjadiya iterasi desain hingga berkali-kali sampai mendekati sempurna. Desain mundur cukup lama. Ini dimaklumi karena tidak ada satu orang bule atau technical assistant dari luar negeri yang mendampingi mereka. Terbang kemarin itu membuktikan dan memberikan kepercayaan luar biasa kepada para engineering bahwa perhitungan dan analisa mereka tidak perlu diragukan,” kata Agus. [Lihat infografik: Jatuh Bangun PT DI]

Meski bergeser jauh dari target, semua orang bangga dengan suksesnya uji terbang pesawat perintis N219 hari ini. Ini artinya, pintu pasar pesawat perintis di Indonesia terbuka lebar.

Selanjutnya...Trauma N250