Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 26 Agustus 2017 | 20:49 WIB
  • Tergiur Legitnya Bisnis Umrah

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Rifki Arsilan,
    • Irwandi Arsyad,
    • Syaefullah,
    • Lilis Khalisotussurur,
    • Ade Alfath,
    • Dani (Bekasi),
    • Andri Mardiansyah (Padang),
Tergiur Legitnya Bisnis Umrah
Photo :
  • VIVA.co.id/ Eko Priliawito
Iming-iming promo umrah murah memikat banyak jemaah untuk pergi ke Tanah Suci.

VIVA.co.id – Maryanah (52) sudah sepekan ini susah makan. Wajahnya lesu, tatapannya kosong, sesekali jari-jemari perempuan paruh baya itu meremas kertas dengan gemas. 

Tak banyak kata yang keluar dari Maryanah. Kini, ia lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian sembari melamun.

Maryamah depresi gara-gara gagal berangkat umrah. Ia telanjur menggelar syukuran, mengundang handai taulan, pamitan, karena sebentar lagi akan ke Tanah Suci. 

Rencana itu seolah sirna, saat mendengar kabar biro perjalanan umrah tempat dia mendaftar tersandung kasus. Uang belasan juta rupiah yang sudah dia setorkan pun terancam raib.

"Saya stres mikirin ini. Uang saya Rp18 juta hilang begitu saja. Terus saya umrah gagal," kata warga  RT 03/19, Jatimakmur, Pondok Gede, Kota Bekasi itu pada Minggu, 20 Agustus 2017.
 
Senasib, Martini Mukti Sulaiman (71), warga Komplek Parupuak Raya Blok G/5 Kelurahan Parupuk Tabing, Kota Padang, Sumatera Barat, juga mengalami hal serupa. Rencananya untuk ibadah umrah ke Tanah Suci kandas.

Wanita yang sehari-hari berdagang telur puyuh hanya bisa pasrah dan menunggu kepastian apakah uang yang sudah ia setorkan dapat dikembalikan. 

"Butuh waktu lama bagi saya untuk mengumpulkan uang itu, bahkan sampai berutang. Saya berharap uang saya dapat kembali, atau berangkatkan saya umrah," ujar Martini saat ditemui di kediamannya, Rabu 23 Agustus 2017.

Tak ubahnya Edi (67). Ia sengaja datang lebih pagi ke kantor Badan Reserse Kriminal Polri di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Kebetulan, kantor Bareskrim itu dijadikan posko pengaduan penipuan umrah.

Ia ingin mengadukan nasibnya yang tak kunjung diberangkatkan pihak travel. Sambil menunggu jam kantor buka, Edi hanya berdiri termenung, wajahnya kosong menatap lembar demi lembar yang dia bawa dalam sebuah map yang dia jinjing pagi itu. 

"Kaget dan shock lah setelah lihat berita di televisi. Apalagi kita sudah bayar lunas," kata Edi saat ditemui di Bareskrim Polri beberapa waktu lalu.

Maryanah, Martini, dan Edi hanya segelintir dari sekian ribu korban jemaah promo umrah murah yang ditawarkan PT First Anugerah Karya Wisata, atau First Travel. Harga umrah yang gencar dipromosikan cuma sekitar Rp14,3 juta. [Baca juga: Umrah Mandiri, Seru dan Menantang]

Kasus ini bermula setelah First Travel beberapa waktu lalu menggelar seminar untuk merekrut 1.000 agen untuk menjaring calon jemaah umrah, dengan iming-iming promo umrah murah sekitar Rp14,3 juta. Jemaah diminta setor biaya di awal, dan dijanjikan akan berangkat beberapa bulan hingga setahun kemudian. [Lihat infografik: Pilih Travel Umrah atau Umrah Mandiri?]

Kantor First Travel di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Pihak kepolisian dan instansi terkait membuat posko pengaduan atau crisis center untuk menampung pengaduan jemaah.

Baru pada pertengahan 2017, kasus First Travel meledak. Para jemaah datang berbondong-bondong ke kantor First Travel menanyakan nasib keberangkatan mereka. 

Saking membeludaknya laporan, sampai-sampai kepolisian dan instansi terkait membuat posko pengaduan atau crisis center untuk menampung pengaduan jemaah.

Berbagai persoalan disampaikan oleh para jemaah kepada posko pengaduan. Antara lain, sudah membayar lunas tapi belum berangkat, sudah membayar lunas dan sudah berada di bandara tapi gagal berangkat. 

Ada juga yang meminta pengembalian biaya atau refund dana yang telah disetor dan paspor yang masih berada di pihak First Travel.

Parahnya lagi, ada jemaah yang sudah membayar lunas biaya umrah, ditambah membayar uang carter pesawat per orang Rp2,5 juta, agar tetap bisa berangkat, tapi tetap saja gagal berangkat.

"Sampai Senin, 21 Agustus, 4.043 korban datang langsung ke posko pengaduan dan 1.614 lapor melalui email," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Herry Rudolf Nahak, Selasa 22 Agustus 2017.

Sejauh ini, polisi telah menetapkan pasangan suami-istri pemilik First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan sebagai tersangka kasus penipuan dan penggelapan dana jemaah umrah First Travel. Dalam pengembangannya, polisi juga menetapkan adik Anniesa, Kiki Hasibuan sebagai tersangka. Di First Travel, Kiki menjabat sebagai manajer keuangan.

Selanjutnya, Umrah Tipu-tipu