Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 16 September 2017 | 14:20 WIB
  • Kala Kartu Sakti Tak Diakui

  • Oleh
    • Mustakim,
    • Reza Fajri,
    • Eduward Ambarita,
    • Isra Berlian,
    • Diza Liane Sahputri,
    • Syaefullah,
    • Chandra G. Asmara,
    • Rifki Arsilan
Kala Kartu Sakti Tak Diakui
Photo :
  • ANTARA FOTO/Agus Bebeng
Seorang petugas perlihatkan contoh kartu BPJS Kesehatan

VIVA.co.id – Minggu dini hari, 3 September 2017 menjadi mimpi buruk bagi Rudianto Simanjorang dan Henny Silalahi. Pasangan suami istri itu kehilangan Debora Simanjorang, anak kelimanya yang baru berusia empat bulan.

"Malam itu saya sangat panik. Saya dibangunin istri saya dan langsung ambil motor untuk bawa anak saya ke rumah sakit," ujar Rudianto saat VIVA.co.id menyambangi rumahnya di Jalan Husen Sastranegara, Gang H Jaung RT 02/01 Kampung Baru, Kecamatan Benda, Tangerang, Banten, Kamis malam 14 September 2017.

"Saya ngebut, karena istri saya juga panik. Kita enggak bawa apa-apa. Pokoknya gimana caranya cepat sampai ke rumah sakit. Istri saya juga enggak pakai sendal, cuma pakai daster. Anak saya langsung digendong pakai selimut, sudah langsung tancap. Paling 10 menit itu sudah sampai RS. Mitra Keluarga," ujar ayah lima anak ini mengenang.

Setibanya di rumah sakit, istrinya langsung membawa Debora ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) guna mendapatkan pertolongan. Debora pun sempat mendapatkan perawatan di IGD itu. 

Tak lama berselang, seorang dokter keluar dan menemui Rudianto. Ia diminta memasukkan Debora ke ruangan pediatric intensive care unit (PICU) agar mendapatkan perawatan secara khusus.

Rudianto dan Henny Silalahi pun bergegas menuju kasir untuk mengurus administrasi agar anaknya bisa masuk ruang PICU. "Nah, di situ kami diminta untuk menyiapkan biaya administrasi. Kami harus menyerahkan uang jaminan Rp19,8 juta," ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang air isi ulang ini menuturkan.

"Kami kebingungan. Kami enggak punya uang sebanyak itu. Akhirnya karena saya tidak bawa apa-apa waktu berangkat ke rumah sakit, saya pulang dulu ke rumah ambil dompet, ATM, dan hp," tuturnya.

Setelah itu, Rudianto mengambil uang tabungan di ATM yang tersisa Rp5 juta. "Saya serahkan ke administrasi. Mereka bilang, ini saya terima dulu, saya tanyakan ke dokternya dulu bisa atau tidak kalau uang jaminannya hanya Rp5 juta, dan saya disuruh menunggu," ujar pria 47 tahun ini.

Malang bagi Rudianto dan Henny, pihak rumah sakit menolak memberikan ruang PICU untuk Debora. Alasannya, uang jaminan Rudianto masih kurang. 

Tak putus asa, Rudianto langsung pergi mencari rumah sakit yang memiliki fasilitas ruangan PICU dan menerima pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di sekitar Tangerang.

Rudianto kembali memacu sepeda motornya dan menyambangi satu demi satu rumah sakit yang ada di Jakarta Barat. Sayangnya, hasilnya nihil. Rudianto pun kembali ke RS Mitra Keluarga, Kalideres mengupayakan Debora bisa dirawat di ruang PICU rumah sakit tersebut.

"Kami bilang kepada dokter dan orang administrasi di Mitra Keluarga bahwa di rumah sakit lain PICU tidak tersedia. Kami minta tolong agar Debora dimasukkan ke ruang PICU di situ. Kami akan mencari kekurangan uang mukanya. Ternyata tetap tidak bisa,” ujarnya.

Kartu BPJS yang ia sodorkan tak bisa membantunya. RS Mitra Keluarga Kalideres berdalih, mereka tak bekerja sama dengan program kesehatan pemerintah tersebut.

“Sekitar pukul 10.00, saya dan istri dipanggil oleh dokter. Saya disuruh masuk ke UGD lagi, mereka bilang anak saya sudah kritis. Istri saya sudah nangis. Kami masuk, saya pegang tangan anak saya memang sudah dingin, ternyata Debora sudah pergi," ujar Rudianto dengan mata berkaca-kaca.

“Saya sudah minta-minta tolong, mengemis dan tetap tidak dikasih,” ujar Henny dengan mata sembap.

Selanjutnya, Perlakuan Berbeda