Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 14 Oktober 2017 | 20:05 WIB
  • Lima Detik Menyulut Pelik

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Bayu Nugraha,
    • Reza Fajri,
    • Fikri Halim,
    • Rifki Arsilan,
    • Yudhi Maulana
Lima Detik Menyulut Pelik
Photo :
  • ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Pengguna jalan tol melintas di samping gardu tol yang melayani pengisian ulang e-Money Mandiri di Gerbang Tol Cililitan, Jakarta, Selasa, 10 Februari 2017. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

VIVA.co.id – Bulir-bulir air masih menempel di badan mobil Mercedes berkelir hitam yang masuk ke gerbang Tol Bawean-Salatiga Jawa Tengah. Mulai dari atap hingga kacanya bisa terlihat jelas bulir-bulir itu bertebaran.

Tak lama, perlahan kaca di sebelah kanan belakang terlihat bergeser turun. Dari balik kaca pekat yang konon tahan dari peluru itu muncul wajah semringah Jokowi.

Dengan kemeja putih khasnya, presiden Indonesia ketujuh ini terlihat mengacungkan sebuah benda berupa kartu berbentuk persegi panjang kecil berwarna hitam keabu-abuan.

Bersamaan dengan itu, tangan kanannya terlihat terulur. Kartu kecil itu dijepitnya dengan bantuan jempol dan kemudian ditempelkannya ke sebuah mesin.

Kepala Jokowi sampai menunduk buat memastikan kartu yang ditempelnya tepat di mesin pembaca. Tak butuh waktu lama, Jokowi bersama sopirnya segera bergegas lagi.

Ya, sore di akhir September itu, Jokowi bak memberi 'peringatan'. Tanpa harus mengucap sepatah kata pun, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mencoba menyampaikan pesan bahwa kelak terhitung tanggal 31 Oktober, tak ada lagi penggunaan uang tunai di tol.

Singkat pesannya, presiden saja bayar pakai kartu, mengapa warga tidak. Jadi mesti siap-siap. Kurang lebih begitu isyarat yang ingin disampaikan mantan Wali Kota Surakarta itu.

Memotong Waktu

Merujuk data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), sejak pertama kali Indonesia memiliki tol, yakni tol Jagorawi pada tahun 1973, lonjakan pengguna tol kini berkembang sangat cepat.

Bagaimana tidak, kini ada 5 juta transaksi di tol setiap hari atau mencapai 150 juta dalam sebulan. Maklum, dalam satu jam kini di tol paling sedikit ada 2.000 kendaraan yang melintas. Bisa dibayangkan ini artinya ada 48 ribu kendaraan setiap hari. Bukan main sibuknya.

Karena itu, jelas ini menuntut pelayanan yang lebih besar. Apalagi secara teknis sebuah gardu tol cuma mampu melayani 250 kendaraan saja per jamnya. Sementara menambah gardu tol sangat tidak mungkin dilakukan.

"Akhirnya yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kapasitasnya. Meningkatkan kapasitas ini kita lakukan dengan cara apa, dengan cara mempercepat transaksinya," kata Kepala BPJT Hery Trisaputra Zuna, Rabu, 11 Oktober 2017.

Kata Hery, selama ini dengan penggunaan gardu tol pembayaran manual, waktu proses pembayaran sebuah kendaraan angka tercepatnya hanya berkisar antara 6-9 detik. "Ini kita coba potong," kata Hery.

Gagasannya, seperti yang telah dipraktikkan Jokowi di Tol Bawean-Salatiga adalah dengan menggunakan kartu elektronik. Jadi, setiap pengendara tak perlu pakai uang tunai lagi. Cukup tempel kartu lalu pergi.

sorot non tunai - gerbang tol e-toll

Sejumlah kendaraan melintas di gerbang tol Cibubur Utama, Jakarta Timur. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Dari uji coba yang dilakukan, didapatlah waktu tercepat layanan menjadi berkurang lima detik, yakni antara empat detik dan lebih cepatnya lagi cukup tiga detik. "Hitungan kita itu nanti bisa (melayani) sekitar 400 kendaraan per jam," klaim Hery.

Karena itu, lewat bantuan mesin, kini tol-tol dipercaya tidak akan lagi mengular. Selain itu tentunya petugas tak perlu repot lagi menyediakan uang kembalian dan lain tetek bengek lainnya.

Dan pastinya, berkat 'mesin ajaib' di tol itu tak perlu lagi kehadiran manusia. Semua berjalan otomatis tanpa ada interaksi apa pun kecuali menempel kartu yang berisi uang.

"Standard kita cashless transaction itu adalah 3 detik," tambah AVP Corporate Communication PT Jasa Marga, Tbk Dwimawan Heru Santoso.

"(Karena itu) Kami berharap semua sekarang beralih. Begitu nanti 31 Oktober, sudah tidak boleh lagi. Kalau ada yang tidak bawa, kami paksa beli," tambah Assistant Vice President Corporate Communication PT Jasa Marga Dwimawan Heru.

Selanjutnya, Menyulut Ribut