Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 28 Oktober 2017 | 09:50 WIB
  • Bajakan Si Pelaris

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Rifki Arsilan,
    • Anwar Sadat,
    • Irwandi Arsyad,
    • Daru Waskita (Yogyakarta),
    • Nur Faishal (Surabaya),
    • Adi Suparman (Bandung),
Bajakan Si Pelaris
Photo :
  • ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Warga melihat buku koleksi relawan Perpustakaan Terbuka yang dijejerkan di halaman Mesjid Agung Atsauroh di Serang, Banten

VIVA – Lelaki berperawakan sedang itu berjongkok, sambil menata tumpukan buku di serambi kiosnya. Dia pungut tiga buku, lalu menegakkan mereka di atas tumpukan ratusan lainnya yang sudah disusun, baik dalam posisi rebah hingga bertingkat-tingkat.

Sesekali dia mengibas-ngibaskan pembersih debu dari bulu ayam pada permukaan buku paling atas yang tertutup abu tipis. Dia menggeser sekira empat jengkal letak jongkoknya untuk memeriksa tumpukan lain. Di sana dia menemukan lapisan debu lebih tebal dari yang semula. Segera saja disapukannya kemoceng yang mulai rontok helai-helai bulunya itu.

Pria itu mengerling kala seseorang menghampiri lapaknya dengan tatapan memeriksa pada beberapa buku yang ditegakkan tadi. Setelah menoleh lalu meletakkan kemoceng di sebelah tempatnya berjongkok, dia menyapa, "Cari buku apa, Mas?" Dia menggeleng ketika disebut buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer.

Sentra Buku Kampoeng Ilmu Surabaya

Dua buku Sang Pemuda dan Bumi Manusia di sentra buku Kampoeng Ilmu Surabaya. (VIVA/Nur Faishal)

Tak menjual karya si pengarang legendaris itu bukan berarti ia hilang akal. Penjual itu lalu mengambil dua buah buku dengan nama pengarang yang sama dan menyodorkannya: Sang Pemuda dan Cerita dari Blora. Di sampul buku tertulis nama penerbit Hasta Mitra. Masing-masing dihargai berbeda, empat puluh ribu rupiah untuk Sang Pemuda dan tiga puluh ribu rupiah untuk Cerita dari Blora.

Mul, begitu lelaki itu biasa disapa rekan-rekan sesama pedagang buku di sentra buku Kampoeng Ilmu di Surabaya itu, menunjuk novel lain yang dipajang. Buku baru. Novel percintaan yang lagi beken di kalangan muda-mudi, Matahari dan Bintang karangan Tere Liye serta Dilan dan Milea karya Pidi Baiq. Semua terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Buku-buku itu dibanderol sama-rata: Rp25.000. Tebal buku-buku itu sebenarnya tak jauh beda: tiga ratus sampai empat ratus halaman. Hanya Matahari yang paling tebal, 400 halaman; dan yang lebih tipis Dilan, 348 halaman. Di toko buku Gramedia, novel Matahari dan Bintang masing-masing seharga Rp88.000, sementara Dilan dan Milea masing-masing Rp79.000.

Mul tak mengungkap dengan terang mengapa buku-buku yang disebut terakhir itu berharga jauh lebih murah. Namun dia menyiratkan alasan mengapa harga bukunya berbanderol miring. "Dicetak ulang, Mas,” katanya, merujuk pada buku-buku baru yang tergolong laris. “Kalau buku lama,” ujarnya menunjuk Sang Pemuda dan Cerita dari Blora, “ada yang fotokopian."

Pemeriksaan sekilas pada fisik buku itu tampak tak ada yang berbeda. Tapi jika dilihat lebih saksama, permukaan sampul bukunya rata, tak ada bagian yang timbul pada cetakan huruf-huruf judulnya. Kertas pada bagian isi novel itu berbahan kertas buram. Tinta pada tulisan juga terlihat pudar di sejumlah halaman.