Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 1 Februari 2016 | 09:41 WIB
  • Saya Berhadapan dengan Pembunuh Massa Berencana

  • Oleh
    • Siti Ruqoyah,
    • Anwar Sadat
Saya Berhadapan dengan Pembunuh Massa Berencana
Photo :
  • Purna Karyanto
File Not Found

VIVA.co.id - Siapa yang tak kenal Komisaris Jenderal Budi Waseso. Namanya tenar sepanjang 2015. Bukan hanya karena dia Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), tetapi sikap tegas yang dimilikinya, membuat semua orang mendadak memperhatikan Buwas, sapaan Budi Waseso.

Awal mula tenar pada 2015, ketika Buwas tiba-tiba diangkat menjadi kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, menggantikan Komisaris Jenderal Suhardi Alius. Sepanjang menjabat sebagai orang nomor satu di reserse Polri itu, gerak-gerik Buwas disorot.

Pria berusia 54 tahun kelahiran 19 Februari 1961 ini disorot lantaran dikait-kaitkan dengan wakil kepala Kepolisian Republik Indonesia, Budi Gunawan. Buwas dianggap sebagai tangan kanannya setelah banyak mendampingi Budi Gunawan ketika dia dicalonkan menjadi kapolri.

Puncak karier Buwas di Bareskrim Polri yakni berani menindak tegas ketua dan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Aksi Buwas dan anak buahnya ketika itu memancing perseteruan antara kedua lembaga, yakni Polri dan KPK, bahkan sempat disebut Cicak vs Buaya jilid III.

Meski dicap sebagai “perusuh”, Buwas tak gentar.  Anggota polisi lulusan akademi polisi tahun 1984 ini malah makin naik daun. Dia semakin menunjukan prestasinya dalam setiap pengungkapan kasus narkoba yang tengah jadi tanggung jawabnya sekarang.

Tim VIVA.co.id baru-baru ini berkesempatan mewawancarai Buwas secara langsung di kantornya di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Dalam wawancara tersebut, Buwas blak-blakan menceritakan mulai dari kehidupan pribadi hingga karier di kepolisian. Berikut petikan wawancaranya:

Kalau boleh tahu, sebenarnya apa cita-cita Anda?

Ya, saya ini kan cita-cita dari dulu menjadi polisi. Saya dari keluarga TNI Angkatan Darat. Tapi, pada akhirnya, saya sudah memilih profesi sebagai polisi. Sebenarnya hanya bertanggung jawab saja pada polisi, itu pilihan saya.

Karena di kala hidup ini pilihan, Siapa pun manusia, di kala sudah memilih hidupnya itu adalah pilihannya dia. Jadi, dia harus bertanggung jawab, karena kan pilihan itu tidak dipaksa atau terpaksa. Dan sekarang kita harus bisa membuktikan bahwa pilihan kita itu tidak salah. Dengan apa? Ya, kita kerja benar, kerja keras. Tidak lagi membanding-bandingkan dengan yang lainnya, gitu. Ya, itulah saya sebenarnya.

Orangtua dari kesatuan TNI, kenapa tidak mengikuti? Apa alasannya untuk lebih memilih polisi?

 Saya kan hidup dari kecil dengan situasi di militer, ceritanya dulu kan anak kolong lah ya. Nah, mungkin ada faktor kejenuhan. Lalu, juga ingin melihat hal yang lain. Kalau zaman dahulu, hidup di asrama militer itu tidak bergaul dengan masyarakat, tidak seperti sekarang. Dulu itu kan mereka terisolir betul,  jauh dari mana-mana dan tidak mudah bergaul.

Kita dalam lingkungan asrama keluar masuk harus ada penjagaan, melewati penjagaan, sehingga pada saat itu, saya mungkin berpikiran. Bukan hanya saya, tetapi semua putra-putranya ayah saya, berpikiran keluar lingkungan seperti itu. 

Saya pada saat itu salah satunya kan melihat, ayah saya itu, kan salah satu profesi yang dia tidak suka kan polisi. Karena zaman dulu, polisi selalu diartikan dengan kegiatan yang negatif. Perilakunya, pekerjaannya, dulu terkenal pada zamannya ayah saya itu prit jigo.

Artinya, priiiiiit terus jigo (Rp25 ribu). Dan sebenarnya, itu yang menjadi salah satu rasa penasaran saya. Memang ada apa di kepolisian itu. Kok seperti itu. Citranya kok negatif. Itu mungkin yang menjadi salah satu pemicu saya untuk ingin tahu. Akhirnya, pada saat itu saya memilih jadi polisi.

Pada saat itu didukung ayah?

Enggak.

Lalu, bagaimana Anda menjalankannya?

Ya enggak apa-apa. Karena kan ayah saya kan prinsipnya begini, hidup itu pilihan. Ayah saya itu orang yang demokratis loh, walaupun keras. Tapi, di kala putranya sudah memilih, dia hanya menekankan. Ini adalah pilihanmu dan kamu telah memilih hidupmu dengan jalan ini, jalanmu. Sekarang tunjukkan, kamu harus bertanggung jawab dengan pilihanmu.

Bertanggung jawab itu dengan bekerja keras, kata ayah saya. Dan hasilnya harus bagus. Karena itu, tanggung jawab yang memilih. Ayah saya selalu bilang, tunjukkan pada saya bahwa pilihanmu itu benar.

Apakah sekarang sudah dapat jawaban dari penasaran dengan polisi?

Ya sudah. Polisi ini kan satu institusi, di mana institusi pekerjaannya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Beda dengan TNI. Sehingga orang yang bersentuhan dengan masyarakat itu langsung dirasakan, langsung dilihat. Polisi kan manusia, ada berbagai macam sifat, pikiran, dan macam-macam.

Di kala satu saja berbuat, itu hukumannya pada institusi. Umpamanya, saya seorang anggota polri, saya melakukan pemerasan terhadap masyarakat dan melakukan penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, itu nanti berhadapannya langsung kepada masyarakat.

Jadi, dirasakan masyarakat dan itu akan berdampak langsung. Itu yang sebenarnya terjadi di Polri. Makanya gini, saya selalu bilang, Polri ini tugas mulia sebenarnya. Kenapa? Karena dia aparat penegak hukum untuk menciptakan ketertiban dan keamanan, kenyamanan seluruh manusia yang ada di Bumi ini. Atau di negara ini, atau di lingkungannya. Di kala kita tidak bisa berbuat seperti itu, berarti kita tidak bekerja.

Karena yang dirasakan masyarakat, ada polisi, tapi kok tidak aman, contohnya itu saja. Itu yang dirasakan masyarakat, tidak salah kalau masyarakat itu komplain. Komplain pada polisi. Misalnya, percuma ada polisi tetapi tidak aman, tidak nyaman.

Itu yang saya bilang, kita menilai hasil kerja kita itu, ya di situ. Jadi, seorang polisi itu ya harus bisa berbuat terhadap masyarakat. Itu risikonya. Karena, abdi negara itu pengabdian. Artinya, kita mengabdi. Mengabdi untuk siapa? Untuk bangsa dan negara ini, berarti warga di daerah juga, berarti masyarakat juga, kan sederhananya begitu.

Jadi, masyarakat ini seperti tuan kita lah ya. Jadi, yang diharapkan masyarakat ini, ya seperti kita lah. Kalau jadi pembantu rumah tangga misalnya, tuannya minta dibikinin kopi, tapi dibikinkan teh, perotes enggak kira-kira? Protes kan. Seperti itu lah sebenarnya cara pemahamannya, sederhana.

Jadi, kalau masyarakat menginginkan polisi itu “A” tentunya masyarakat “A” itu didasarkan oleh perasaan mereka. Yang ingin dirasakan oleh mereka. Tiba-tiba kita “B”, nah kan enggak bisa, itu pemahaman yang sederhana sebenarnya.

 

File Not Found