Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 28 Maret 2016 | 06:01 WIB
  • Saya Tak Minta Apa-apa dari Warga DKI, Tapi Tawarkan Solusi

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Lilis Khalisotussurur
Saya Tak Minta Apa-apa dari Warga DKI, Tapi Tawarkan Solusi
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Sandiaga Salahuddin Uno
File Not Found

VIVA.co.id - Setelah tekadnya bulat maju sebagai bakal calon gubernur, Sandiaga Salahuddin Uno mulai sibuk melakukan safari politik. Di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta nanti, pria kelahiran Rumbai, Pekanbaru, 28 Juni 1969 tersebut, sadar bahwa lawan-lawannya bukan rival mudah.

Termasuk, bakal calon petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang kembali akan maju untuk periode keduanya. 

Saat diwawancarai VIVA.co.id beberapa waktu lalu di kantornya di Gedung Recapital, Jakarta Selatan, Sandi, begitu sapaan akrab Sandiaga Uno menuturkan alasannya yakin maju di kontestasi politik tersebut.
 
Dia juga menjelaskan program andalannya untuk merebut hati warga Jakarta melalui pendekatan yang berbeda.
 
Menurut pengusaha muda tersebut, tak perlu masuk gorong-gorong untuk menunjukkan ketulusan seorang calon pemimpin. Simak wawancara lengkapnya berikut ini:
 
Sudah mulai sibuk safari politik?
 
Bakal, enam bulan ke depan sampai September.
 
Melelahkan?
 
Enggak sih. Semangat, karena dibarengi ketemu teman lama. Ke pasar tradisional, APSI, Asosiasi Pasar terus kita ke habib-habib, terus juga menyapa warga di beberapa daerah lintas komunitas, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh lokal.
 
Banyak sih yang dari dunia usaha juga yang kita datengin, karena isu yang sekarang mulai berkembang gelombang PHK (pemutusan hubungan kerja). Terus, kita pengen dengar apa harapan dunia usaha ke depan. Kebijakan apa yang bisa membantu mereka. Jadi, dibarengi dengan kerja sosial. Jadi, senang aja, sekaligus silaturahim. 
 
Jadi, resmi mau jadi calon gubernur, karena memang diminta Prabowo Subianto (Ketua Umum DPP Partai Gerindra)?
 
Jadi, sebetulnya diminta sama pimpinan, sama Pak Prabowo dan Gerindra. Terus, melalui tahapan awal. Baru akhir Januari, saya diundang untuk penjaringan. Saya lihat kontraknya, apa sih yang mesti dilakukan. Ternyata, kontraknya melakukan kegiatan sosial. Wah, itu kan saya senang.
 
Kita bukan meminta sesuatu dari warga, tetapi justru tawarkan solusi, gagasan, mendengarkan aspirasi. Jadi, ini memang suara dari rakyat harus kita kumpulkan aspirasinya dan bagaimana kita memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang ada di warga sekarang ini.
 
Kalau dibanding kader lain di Gerindra, relatif baru?
 
Baru banget.
 
Pernah bertanya mengapa Anda yang dipilih, toh masih ada kader lebih senior?
 
Saya tanya juga, why me and don’t give this tough job, karena saya relatif baru dan awam di politik. Kalau boleh dibilang kan, saya pengusaha. Terus, Pak Prabowo bilang, “saya punya insting politik. Insting politik saya, biasanya benar. Insting politik saya minta. Salah satu insting politiknya (Prabowo) yang benar itu adalah 2012 mendukung Pak Jokowi (Joko Widodo) dan Gubernur Basuki sekarang. Saya melihat bahwa kamu tuh cocok. Bawa angin segar di Jakarta, meneruskan pembangunan ke arah yang lebih baik.”
 
Kan, katanya bisa dekat dengan kaum muda di Jakarta, demografinya tuh bisa dibilang 18-35 ya. Dan, generasi di X dan Y ini yang akan membentuk suatu opini yang sangat-sangat nyaring Jakarta mau dibawa ke mana.
 
Insting Prabowo itu meleset di Pemilu 2014, bagaimana?
 
Instingnya Pak Prabowo, nah dia juga sampaikan itu. Kadang-kadang benar, tetapi kadang salah. Salah instingnya, salah satunya adalah dia hitungan politiknya kadang enggak tepat. Memiliki insting bahwa tetap akan bersama dengan PDIP, atau Jokowi, tetapi dia bilang itu adalah politik. Tujuan politik itu adalah menawarkan suatu yang lebih baik buat rakyat Indonesia. Yang penting niatnya. 
 
Kalau niatnya tulus, ikhlas, dan mendorong, agar kita bisa berpolitik dengan suatu nuansa yang baru. Itu yang dia dorong. Tetapi, dia sebutkan juga persis bahwa dia kadang-kadang salah juga. Saya belum komentar dia sudah ngomong. Tetapi, tanpa emosi sama sekali, dia sampaikan dengan sangat serius, waktu kita bicara berdua empat mata. Enggak ada rasa kecewa Beliau bahwa sekarang Jakarta itu kan posisinya Gerindra. Gubernur Basuki kan meninggalkan Gerindra. Jadi, enggak ada sama sekali penyesalan. Ya itu adalah konsekuensi daripada politik.
 
Bertemu Prabowo di Hambalang saat itu?
 
Sekali ketemu di Jakarta, dua kali ketemu di Hambalang. Itu yang santai.
 
Anda sempat masuk Partai Demokrat dulu, atau hanya simpatisan?
 
Saya enggak pernah di politik sebelumnya. 
 
Jadi, soal dulu sempat mau maju jadi calon bendahara umum Partai Demokrat?
 
Dulu sempat ada pembicaraan awal-awal, tetapi enggak pernah terealisasi.
 
Berarti tak punya KTA (kartu tanda anggota) Demokrat?
 
Enggak punya. Saya pertama kali masuk politik ini Gerindra. Enggak sama sekali (punya KTA). Saya hubungan baik dengan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), dengan mas Anas (Anas Urbaningrum) juga. Tetapi, enggak pernah menjadi anggota Demokrat, atau pengurus.
 
Tapi benar tidak, waktu Kabinet Indonesia Bersatu II pernah ditawarkan menjadi menteri?
 
Secara langsung enggak ada yang 2009 ya. Secara langsung memang enggak pernah ada pembicaraan itu. Saya memang mendukung Pak SBY waktu 2009, tetapi murni enggak pernah ada keinginan atau dorongan. Namanya banyak disebut-sebut media, tteapi waktu itu saya dukung tanpa pamrih. Waktu itu, Pak SBY sangat memperhatikan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) dan itu yang menjadi suatu hal yang saya passionate (bernafsu) sekali. Saya punya passion dalam pengembangan UMKM dan kewirausahaan.
 
Kebetulan beberapa ide-ide saya seperti KUR (kredit usaha rakyat), akses terhadap pelatihan dan training UMKM diadopsi oleh zaman Pak SBY di Kementerian UMKM dan di perbankan. Jadi, saya banyak interaksi saat itu tapi enggak pernah ada pembicaraan masuk di kabinet.
 

File Not Found