Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 12 Desember 2016 | 05:50 WIB
  • Jakarta Seolah Milik Sebagian Kelompok Saja

  • Oleh
    • Syahrul Ansyari,
    • Anwar Sadat
Jakarta Seolah Milik Sebagian Kelompok Saja
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin
AHY saat mengunjungi kantor VIVA.co.id.
File Not Found

VIVA.co.id - Agus Harimurti Yudhoyono maju sebagai calon Gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Ia berpasangan dengan birokrat, Sylviana Murni.

Publik di tanah air tidak asing dengan Agus. Sebab, suami dari Annisa Larasati Pohan itu merupakan anak sulung dari Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono.

Selama ini, pria yang lahir pada 10 Agustus 1978 di Bandung itu aktif di TNI Angkatan Darat. Sebelum dicalonkan sebagai gubernur, pangkat terakhirnya adalah mayor.

Setelah resmi ditetapkan KPU DKI Jakarta sebagai calon gubernur, Agus kemudian mengikuti proses Pilkada yaitu kampanye. Di tengah aktivitas itu, pada Rabu, 7 Desember 2016, Agus beserta tim mengunjungi kantor redaksi tvOne dan juga VIVA.co.id di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Agus menanggapi berbagai macam topik. Tak hanya soal Pilkada DKI tapi juga mengenai isu-isu terkait Partai Demokrat dan karier barunya di politik. Misalnya soal kemungkinan ia maju dalam kontestasi yang lebih besar lagi tingkatannya seperti Pilpres 2019.

Berikut hasil bincang-bincang redaksi VIVA.co.id dengan Agus Yudhoyono:

Apa sebenarnya spirit Anda mau berlaga di Pilkada DKI, padahal karier Anda di militer cukup cemerlang?

Ya betul, orang berkata kenapa sih harus meninggalkan TNI karena punya karier yang baik bahkan punya masa depan yang dianggap cemerlang begitu. Tetapi bagi saya keputusan yang telah saya ambil tersebut merupakan panggilan jiwa untuk perubahan. Jadi semangatnya adalah semangat berjuang untuk perubahan, memperjuangkan masyarakat Jakarta yang kotanya lebih baik lagi dan manusianya lebih bahagia lagi, lebih menjadi bagian dari pembangunan itu semua.

Jadi tentu saya di sini ingin sekali bisa menunjukkan determinasi itu bahwa perubahan itu dibutuhkan oleh Jakarta, dibutuhkan oleh warga dan pada akhirnya itu juga yang akan menggerakkan saya untuk terus bersemangat menjaga stamina selama 2 bulan terakhir ini. Saya terus bergerilya lapangan menemui, menyapa warga, pagi siang dan malam, karena ingin benar-benar mendapatkan masukan dan juga mencatat, mendengarkan, aspirasi warga Jakarta.


Berbicara soal perubahan, perubahan seperti apa yang akan Anda lakukan jika terpilih jadi DKI 1?

Yang paling mendasar adalah saya ingin mengubah paradigma pembangunan di Jakarta. Saya melihat Jakarta itu sebagai sebuah sistem ruang kehidupan yang harus menjadi tempat yang baik, yang aman nyaman dan menentramkan semua warganya. Saya melihat saat ini Jakarta masih seolah-olah hanya milik sebagian kelompok saja. Sedangkan kita tahu bahwa kemiskinan di Jakarta juga semakin menjadi-jadi, ketimpangan sosial juga terus menganga. Banyak yang belum mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang juga cukup untuk bisa menafkahi keluarganya.

Saya ingin paradigma pembangunan Jakarta yang inklusif partisipatif di mana melibatkan semua warga dan pada akhirnya mereka semua akan mendapatkan manfaat dari pembangunan di Jakarta. Kita ingin membangun Jakarta semakin maju, aman, adil, bermartabat dan sejahtera.

Kita ingin juga Jakarta semakin modern kotanya, semakin keren, semakin menyediakan akses-akses yang lebih luas untuk berbagai pelayanan publik tetapi jangan sampai karena pembangunan itu justru menyisakan luka-luka dan rasa kalah bagi sebagian masyarakatnya. Ada gedung menjulang tinggi tetapi ada yang harus tergusur. Ada yang tertawa dalam sebuah kemewahan tetapi ada yang makan sehari pun sulit sekali.

Nah, inilah dampak-dampak pembangunan seperti ini harus bisa kita tekan betul. Jangan sampai justru akan terjadi pertentangan antarkelas sosial. Sekali lagi saya simpulkan bahwa saya ingin membawa paradigma pembangunan baru di Jakarta. Pembangunan yang humanis dan partisipatif di mana seluruh warganya akan merasakan manfaat besar dari pembangunan Jakarta.


Masalah di Jakarta seperti macet, banjir, kesenjangan ekonomi, manakah yang nantinya akan Anda prioritaskan?

Begini memang tidak bisa satu persatu kita katakan yang satu lebih penting daripada yang lainnya karena kehidupan juga berjalan secara simultan. Ada kepentingan mendesak yang harus segera,  yang dipentaskan ada permasalahan-permasalahan akut yang harus dicarikan solusinya secara cepat tetapi juga ada sebuah konsepsi besar yang akan terwujud melalui proses yang cukup panjang dan tidak pernah berhenti dari satu periode kepemimpinan kemudian cukup selesai di situ, tetapi berkelanjutan. Itulah yang saya katakan dengan dua prinsip yang akan saya gunakan dalam memimpin yaitu continuity atau kesinambungan dan berkelanjutan dan juga change atau perubahan.

Terhadap sesuatu yang sudah berjalan pada koridor artinya sudah berjalan dengan baik dan juga membawa arti positif bagi kemajuan masyarakat tentu itu kita lanjutkan dan ini juga keberlanjutan dari gubernur-gubernur sebelumnya. Gubernur saat ini sudah melakukan sesuatu. Gubernur sebelumnya lagi sudah melakukan sesuatu dan seterusnya.

Nah, dalam rangka estafet kepemimpinan-kepemimpinan yang baru itu adalah juga bisa meyakinkan bahwa blueprint yang telah dicetak sebelumnya itu bisa berlanjut. Tetapi saya juga menyatakan banyak hal yang masih perlu dikoreksi, diperbaiki, dan disempurnakan. Dan inilah perubahan. Change inilah kita lakukan perubahan demi perubahan untuk menjadi sesuatu yang baik.

Terhadap tadi masalah-masalah yang dianggap sudah permanen, ada banjir, ada macet, sampah dan lain sebagainya tentu itu menjadi perhatian penting bagi kita karena kita ingin mereka atau warga kita itu terbebas dari banjir. Tetapi itu juga tidak bisa terjadi dalam satu malam saja. Butuh proses internalisasi, juga perubahan mindset perubahan gaya hidup pola hidup masyarakat sehingga juga membantu upaya pemerintah dalam upaya mencegah dampak-dampak banjir.

Tetapi yang juga mendasar bagi saya adalah menghilangkan atau mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ini. Jangan sampai menjadi-jadi karena ini adalah bibit-bibit instabilitas. Kalau ada masyarakat yang hidupnya sangat sulit, sangat miskin, akhirnya mereka akan mengambil jalan pintas untuk survive, untuk meyakinkan dia tetap hidup termasuk keluarganya.

Ketika jalan pintas yang diambil itu rata-rata jatuhnya adalah negatif. Bisa menjadi kriminalitas, bisa menjadi yang lain-lainnya. Ini bisa jadi permasalahan sosial yang jauh lebih meluas, belum lagi ketika mereka merasa diperlakukan tidak adil maka akan terkristalisasi dalam semangat untuk melawan sesuatu yang misalnya si miskin akan bergerak melawan yang kaya. Ini kan tidak ingin terjadi di Jakarta ini.

Nah, itulah makanya saya menekankan betul pentingnya program-program pro rakyat untuk mengangkat masyarakat dari lembah kemiskinan.


Bagaimana Anda melihat kepemimpinan kepala daerah DKI 1 saat ini?

Kalau saya lihat itu banyak hal yang dilakukan tanpa atau kurang mempedulikan nilai-nilai kemanusiaan. Ini bukan hanya pandangan seorang AHY, tetapi ini adalah semua yang saya dengar dari masyarakat.

Setiap saya berkunjung, bergerilya lapangan, bertemu dengan masyarakat mereka permintaannya satu. "Pak tolong kami dimanusiakan." Mereka tidak meminta macam-macam. Saya kadang-kadang sedih dalam arti, kadang-kadang kita perlu belajar dari orang-orang kecil.

Mereka tidak minta macam-macam. Mereka cuma ingin didengarkan. Mereka ingin diberikan ketenteraman hati bahwa mereka tidak akan digusur secara paksa dan benar-benar disingkirkan dari kota Jakarta ini. Mereka tidak meminta tempat yang menjadi supermewah, supermegah, tidak seperti itu. Mereka tahu persis bahwa permasalahan Jakarta kompleks tetapi mereka hanya ingin didengarkan aspirasinya. Mereka ingin juga dilindungi hak-haknya dan diperlakukan secara adil.

Nah, inilah saya lihat kurang sentuhan-sentuhan humanis, kurang sentuhan-sentuhan yang berkeadilan. Ini juga yang membuat kegusaran secara massal ketika saya berkeliling. Sekali lagi setiap saat itu banyak yang meminta "Pak, jangan gusur kami."

Kemana pun seperti itu karena kadang saya ke lokasi yang ini, itu enggak akan digusur karena bagus-bagus aja kok tidak melanggar. Tapi mereka merasa saya cepat atau lambat akan digusur. Jadi ini menimbulkan ketakutan, ini masalah saya temui di manapun, Jakarta Utara, Timur, Selatan, Barat, Pusat yang saya katakan sekali lagi, ini sih kayaknya tidak akan mungkin digusur tetapi mereka khawatir dan itu terjadi termasuk pedagang-pedagang kecil, kaki lima, dan lain sebagainya.

Saya juga mengajak mereka, mau enggak mereka jadi lebih tertib dan mau enggak dilakukan penataan. Mereka setuju harus dilakukan penataan. Mau maju, mau mau modern, mau jadi bagaimana, "Kami harus diorangkan pak, kami didengarkan, kami jangan dianggap sebagai sampah yang begitu saja tidak dipedulikan lagi yang penting selesai dari sini."

Jadi ini saya ingin membawa paradigma pembangunan yang berbeda. Kepemimpinan harus tetap efektif, harus tegas. Kalau berbicara tegas di TNI kalau tidak tegas mungkin matinya udah duluan Pak. Jadi saya mengatakan tegas, itu sudah menjadi darah daging kami mengambil keputusan di saat-saat yang sulit dan genting.

Tetapi tegas itu tidak harus melukai perasaan orang, tidak harus menjadi ditakuti oleh rakyatnya sendiri. Saya mengatakan jangan lagi ada masyarakat atau warga Jakarta yang takut dengan pemimpinnya sendiri dan juga pemerintahannya sendiri.
 

Jelang debat calon di Pilkada DKI, apa yang telah Anda dan tim siapkan?

Ya sesungguhnya saya menyiapkan debat ini sambil berjalan, tidak ada waktu khusus. Kemudian satu minggu off ngapa-ngapain, hanya untuk latihan debat, tidak seperti itu. Sehari-hari juga diskusi. Kita diskusi langsung dengan tim, dengan pakar, dengan para ahli yang punya pengalaman membangun Jakarta.

Kemudian juga tentu dari diskusi dan juga interaksi dengan masyarakat itu yang saya anggap sebagai persiapan yang harus dilakukan sejak awal sehingga saya tidak menunggu nanti kira-kira seminggu sebelum debat kemudian semuanya berhenti kegiatan. Saya rugi di situ karena artinya saya kehilangan waktu untuk menyapa masyarakat. Jadi setiap saat saya juga berdiskusi tentang berbagai substansi. Saya bertanya ini kenapa begini, kenapa begitu, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi suatu permasalahan di daerah tertentu.


Apakah dapat pesan-pesan dari SBY?

Oh ya tentu saya belajar from the best, learning from the best, karena beliau dua kali menjadi presiden, dua kali melewati proses debat yang luar biasa di tingkat nasional. Tips-tips tentunya yang saya ingin ketahui dan beliau dengan senang hati menceritakan itu bagaimana harus perform di depan publik, di depan kamera, apa yang harus dijawab. Bagaimana menggunakan waktu yang singkat itu secara efektif sehingga semua pokok-pokok pemikiran dan gagasan serta visi misi dan program yang saya tawarkan itu juga termuat dari alokasi waktu yang terbatas.


Apakah akan gantikan SBY di Demokrat?

Waduh, kita tidak ngomongin ke sana. Saya belum mau bicarakan masalah itu hari ini, karena itu akan mengganggu konsentrasi saya dalam perjuangan sehingga saya dan tim disuruh melepaskan isu-isu atau pembicaraan seperti itu. Tentu ada spekulasi di sana-sini terkait mengapa saya masuk politik dan lain sebagainya tetapi sekali lagi saya mengatakan ya udah deh kita fokus aja. Mending tidak usah kita berasumsi karena nanti akan menimbulkan isu-isu yang tidak perlu untuk saat ini.


Posisi gubernur DKI belakangan ini kan sangat strategis. Misalnya saja Pak Jokowi, hanya 2 tahun menjabat, ikut Pilpres 2014, lalu melenggang ke Istana, jadi presiden. Apakah itu bakal jadi satu rujukan? Yang kedua, dari diri Anda, apakah ada keinginan untuk jadi presiden?

Saya yakin setiap warga Indonesia memiliki cita-cita untuk menjadi salah satu putra terbaik bangsa tetapi saya ingin sekali lagi mendudukkan situasi ini secara proper sehingga saya tidak terjadi deviasi pengurasan energi yang tidak perlu dan menimbulkan spekulasi yang macam-macam.
Dengan begini saja orang terlalu banyak asumsi dan saya sekali lagi tidak mengatakan saya ini dalam rangka Pilpres 2019 atau apapun. Saya ingin berhasil memenangkan Pilgub DKI 2017.


Status hukum Pak Ahok secara tidak langsung mengerek elektabilitas Anda. Tanggapan Anda sendiri bagaimana, lalu untuk mempertahankan itu apa?

Saya pikir itu asumsi yang tidak fair ketika mengatakan gara-gara Pak Ahok ada masalah dengan hukum terus AHY meningkat. Justru sebaliknya saya banyak dirugikan karena saya tidak tahu apa-apa kemudian dianggap kita lah yang menggerakkan aksi demo, kita lah yang menjelaskan Pak Ahok dalam situasi hukum dan lain sebagainya kan tidak fair bagi kami dan keluarga besar dan tim sukses ini jadi boro-boro diuntungkan justru bagi saya, saya dirugikan karena mendapatkan limpahan fitnahnya begitu.

Dan saya mengatakan, saya tidak pernah mendompleng pada isu-isu tertentu. Penistaan agama pasti akan memancing ke reaksi, reaksi dari siapapun yang merasa dirugikan dan itu akan eskalatif sifatnya. Tergantung bagaimana negara hadir atau tidak, pemerintah hadir atau tidak untuk menyelesaikan masalah tersebut dan ini sangat sensitif.

Kita tahu negara kita negara yang supermajemuk, maka hal-hal semacam ini akan mengundang reaksi sehingga kalau ada gelombang aksi dan menurut saya kata-kata aksi ini harus dilihat dulu ini aksi atau reaksi. Kalau menurut saya itu adalah gelombang reaksi (terhadap) aksinya atau sebabnya apa. Nah, ini kadang-kadang kita jadi blur nih. Ini sebab dan akibatnya yang mana kok jadi seolah-olah ada reaksi itu dianggap sebagai sebuah akibat, kemudian dibilang ada aksi tandingan. Waduh semakin kisruh ini gawat nih kalau Indonesia kemudian masuk ke dalam situasi yang semakin runcing. Contohnya antara satu kelompok dengan kelompok lainnya itu bahaya sekali.

Saya selama di TNI tugas saya menjaga persatuan NKRI harga mati, makanya saya begitu sedih begitu melihat akhir-akhir ini kok jadi isu-isu kebhinekaan, kemajemukan, disintegrasinya perselisihan antara SARA segala macam itu kok bisa mencuat lagi. Padahal itu harusnya menjadi think of the past harusnya masuk museum. Kenapa akhir-akhir ini malah muncul lagi?

Jadi kembali ke pertanyaan yang tadi, saya sungguh tidak merasa diuntungkan dan tidak ada korelasi khusus, tidak ada studi yang mengatakan pindahnya itu langsung ke saya karena di sini ada dua pasang calon lainnya. Ada dua penantang kecuali terlihat sekali perbedaannya kemudian gerusannya masuk ke saya, ada dua penantang lainnya saya dengan Mpok Sylvi dan Mas Anies dengan Bang Sandi. Jadi sebetulnya begitu konstelasinya. Saya tidak sama sekali merasa diuntungkan, justru merasa dirugikan.


Terkait membenahi Jakarta jika wilayah yang perizinannya berantakan. Apa yang akan Anda lakukan?

Kita atau saya dan Mpok Sylvi mengangkat program perumahan rakyat. Jadi ini sebetulnya tinjauannya begini, kita ingin lingkungan rumah-rumah hunian yang semakin layak terutama buat masyarakat yang hidupnya saat ini dalam lingkungan yang sangat padat dan sangat kumuh serta setiap saat dihantui oleh banjir.

Program rumah rakyat itu tentu akan mengubah horizontal housing menjadi vertical housing. Memang akan ada perubahan mindset di situ tetapi harapannya membangun birokrasi yang sama makanya kami angkat on-site upgrading membangun di tempat yang sama tentu tidak langsung serta merta akan ada pilot project masuknya secara bertahap dan seterusnya.

Nah, yang sekarang terjadi itu menggusur dari satu titik ke titik yang jauh dari lokasi atau habitat aslinya kemudian putuslah mata pencahariannya. Ingat, yang kita hadapi ini adalah manusia memiliki hati, pikiran dan perasaan. Sungguh menyedihkan rasanya kalau diputus begitu saja dari tempat tinggal yang sudah ditinggalinya puluhan tahun.

Kita tahu ada masalah juga dengan legalitas peruntukan dan segala macam, tetapi itu ada caranya. Nah, celakanya saat ini masyarakat lemah tidak pernah mendapatkan bantuan hukum. Nah, yang kuat dengan segala uangnya dan modalnya dan dia bisa hire puluhan lawyers.

Lalu masyarakat ini yang berpikir dan bingung gimana ini betul ada masalah tetapi yang kita hadapi ini manusia yang harus diperjuangkan dan ini rakyat kita sendiri. Ini bukan musuh kita, ini rakyat kita sendiri yang mengais rezeki dari tempat itu. Anaknya itu masih kecil, masih perlu pendidikan, dan kesehatan. Nah, ini mereka tidak ada yang membela saya, ini bisa dikatakan ingin membela mereka.

Saya hadir ke tengah-tengah masyarakat ingin membela mereka, harapan mereka, membela mimpi mereka. Mungkin ada sebagian yang bilang saya enggak mimpi muluk-muluk. Saya hanya ingin anak saya sekolah, saya enggak apa-apa jualan di gerobak sampai lanjut usia, yang penting anak saya bisa sekolah. Apakah itu muluk-muluk? Sedangkan satu sisi ada yang sudah sangat berkecukupan hidupnya kemudian dia tidak tenggang rasa, tidak melakukan solidaritas sosial.

Oleh karena itu, terhadap hal-hal yang berkaitan dengan aspek hukum, kita duduk bersama ada cara-cara yang lebih humanis, melakukan pendekatan yang lebih humanis melalui advokasi dan bantuan hukum misalnya. Dan juga sekali lagi apa yang saya angkat ini adalah amanah konstitusi pasal 34, fakir miskin merupakan tanggung jawab negara dan negara harus hadir untuk mereka. Pemerintah harus hadir untuk mereka.
 

Terkait proyek reklamasi, bagaimana tanggapan Anda?

Soal reklamasi saya tentu akan review semuanya. Setiap kebijakan itu pasti ada alasannya tetapi tentu tidak memuaskan semua pihak tapi menurut saya sebuah keputusan atau kebijakan yang diambil maka harus melibatkan semua pihak. Ketika nanti ada yang tidak terpuaskan itulah realitas demokrasi tetapi harus melibatkan semua pihak dalam pengambilan keputusan.

Nah, sayangnya di sini saya melihat ada masyarakat tertentu yang tidak diajak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan itu. Padahal, mereka yang terkena dampaknya yang paling besar. Contohnya yang lain-lain mungkin paham ya maksud saya. Inilah yang akan saya lakukan ketika Insya Allah saya terpilih, maka saya akan review semua dulu.
Apakah ada aspek-aspek tertentu yang terlewatkan selama ini seperti aspek legalitasnya, kemudian aspek batas sosialnya, dan ekosistemnya dan lain sebagainya, tentu bagaimana masyarakat melihat itu semua secara sosial dan perekonomian.

Bukan batalkan atau lanjutkan saya tidak katakan batal atau lanjutkan. Untuk sementara kita review dulu. Itu PR untuk semuanya menurut saya dan duduk bersama.


Program RT/RW itu bagaimana?

Begini, saya mengangkat program pemberdayaan komunitas RT/RW. Jadi community base development program. Nah, komunitas itu harus digerakkan sehingga mereka juga sekali lagi merasa terayomi dan berpartisipasi dalam pembangunan. Sekarang kan gini, masing-masing komunitas mempunyai masalah yang berbeda-beda, di RW 1 butuh perbaikan selokan, di RW 2 butuh lapangan bulutangkis, mereka biarkan bermusyawarah mendapatkan, dan menunjukkan kualitasnya.

Setelah itu menunjukkan untuk dijadikan program untuk perbaikan ataupun pengadaan melalui mekanisme transparan dan akuntabel dan juga itu bentuknya program. Saya sampaikan Rp1 miliar per RW per tahun itu sekali lagi bentuknya program bukan bagi-bagikan uang. Jadi, ini kalau mereka happy artinya mereka merasa dilibatkan dalam pembangunan.

File Not Found