Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 27 Februari 2017 | 04:30 WIB
  • Indonesia 'Supermarket' Bencana

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Anwar Sadat
Indonesia 'Supermarket' Bencana
Photo :
  • VIVA.co.id/M. Ali. Wafa
Kepala BMKG Andi Eka Sakya
File Not Found

VIVA.co.id – Bulan Februari diprediksi menjadi waktu, di mana intensitas hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia sedang mencapai puncaknya. Tingginya curah hujan ini berpotensi menyebabkan bencana hydro-meteorologi di sejumlah wilayah, seperti banjir dan tanah longsor.

Seperti yang terjadi di Ibu Kota Jakarta pada Selasa lalu, 21 Februari 2017. Hujan yang turun selama beberapa hari belakangan, menyebabkan banjir di sejumlah titik di Jakarta. Meskipun curah hujan yang turun lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya, nyatanya Jakarta tetap saja banjir.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan curah hujan yang terjadi di Jakarta pada 21 Februari lalu, berkisar 21 milimeter hingga 118 mm, jauh lebih kecil dibandingkan dengan hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta pada tahun 2007, 2013, dan 2014, yang saat itu mencapai 200-350 mm.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya menyebut, fenomena banjir Jakarta terjadi karena banyak faktor. Tingginya curah hujan di suatu daerah dan sekitar, turut memengaruhi banjir suatu wilayah. Banjir juga bisa dipicu perilaku manusianya yang minim kesadaran terhadap lingkungan dan pola hidup.

Tidak saja Jakarta, faktor-faktor lain juga bisa menjadi pemicu banjir di sejumlah wilayah di Indonesia. Sadar bahwa potensi bencana bisa terjadi setiap saat, maka mitigasi bencana dan pengetahuan terhadap cuaca menjadi penting untuk menjadi perhatian masyarakat.

Untuk mengetahui lebih lanjut faktor-faktor apa saja yang menyebabkan banjir Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, termasuk prakiraan meteorologi Indonesia sepanjang 2017 ini, maka redaksi VIVA.co.id berkesempatan mewawancarai Kepala BMKG Dr. Andi Eka Sakya M.Eng untuk membahas persoalan ini.

Berikut, petikan wawancana Kepala BMKG dengan redaksi VIVA.co.id, Jumat 24 Februari 2017:

Bagaimana analisis BMKG terkait banjir yang terjadi di Jakarta 21 Februari lalu? Apa benar dipengaruhi banyak faktor?

Ini lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang kami sebut faktor iklim yang berpengaruh, atau yang memengaruhi Indonesia, misalkan pada saat itu ada El Nino, atau La Nina, lalu kemudian di Samudera Hindia ada Indian Dipole Mode, atau kemudian ada Main Geophysical Observatory (MGO), atau kemudian nama-nama yang barang kali tidak begitu dikenal.

Pokoknya, kumpulan awan besar, tetapi membawa tekanan yang berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia, terus kemudian juga harus dilihat SSD (Sea Surface Density)-nya, lalu temperatur permukaan lautnya. Tetapi, kita kan bicara pada bulan Februari. Jadi, kita batasi pada bulan Februari, kemudian di Jakarta dulu.

Jadi, faktor-faktor itu ada banyak. Jadi, tidak kemudian kita hanya bicara satu hal saja. Jadi, multi variabel cost kalau saya bilang. Jadi, disebabkan banyak variabel ini yang belum dilihat oleh masyarakat Indonesia.

Apakah curah hujan tanggal 21 Februari lalu di atas batas normal?

BMKG itu melakukan pengamatan ini setiap 12 jam, kita gabungkan. Nah, hujan di atas 50 mm itu dinyatakan lebat terus, kemudian akan lebat sekali kalau di atas 100 mm.

Kasus kemarin itu, ini kita bisa lihat ini ada 145 titik di sepanjang tol Bekasi, dan di sini artinya di Jakarta saja dan istilahnya tidak ada kiriman, atau ada kiriman tapi kecil. Semuanya, hujan ada di Jakarta semua.

Dengan fenomena banjir Jakarta 21 Februari lalu, bagaimana BMKG menjelaskan intensitas hujan Jakarta dari tahun ke tahun?

Ini yang saya ingin tunjukkan. Ini dari 2002 sampai 2017 (memperlihatkan data curah hujan Jabodetabek kurun waktu 2002-2017). Ini di Tangerang, Curug, Tanjung Priok, Kemayoran, Cengkareng, Darmaga Bogor, di Halim.

Mengapa saya buat begitu? Supaya kita melihat bahwa banjir di Jakarta itu tidak semata-mata disebabkan oleh banjir di Jakarta, dan lihat ini (memperlihatkan data), ini adalah rata-rata 30 tahun yang garis ini. Nah, kita juga melihat pada 2002, 2007. Ini banjir nih, barangkali yang warna-warnanya ini, mulai dari 2002 ini warnanya cokelat, yang cokelat ini 2002, juga waktu itu ingat enggak 2012 banjir juga.

Banjir juga, padahal di bawah rata-rata dia. Ini kecil sekali kan pada 2012, hujan di Tangerang,  Curug, Tanjung Priok, Kemayoran, Cengkareng, tetapi besar di Darmaga, tetapi di Halim kecil. Artinya, pada waktu itu banjir sebetulnya datang dari luar.

2013, banjir juga kan? Halim pada waktu itu di bawah rata-rata masih, terus kemudian di Darmaga agak tinggi nih. Darmaga itu kan Bogor, tetapi di Jakarta sebetulnya kecil, nih artinya apa? Hujannya juga dari sana.

Pada tahun 2007, juga banjir. Pada 2007 itu disebabkan oleh tipologi hujan yang kemudian terjadi di Jakarta. Artinya, banjir disebabkan oleh hujan yang ada di Jakarta. Bagaimana dengan 2017? 2017, yang ungu ini (garis dalam data curah hujan yang ditunjukkan).

Pada Februari yang tanggal 1 sampai dengan 23 memang (intensitas hujan) di atas rata-rata ini di Curug, kecil (intensitas hujan) di Tangerang ya, kemudian di Cengkareng sedikit di atas rata-rata, Kemayoran sedikit di atas rata-rata,  Darmaga Bogor tidak begitu (deras hujannya). Sebetulnya, hujannya di daerah sini aja genangannya, di Jakarta saja.

Kalau dibandingkan dengan kejadian hujan, atau banjir di tahun 2012, 2013, 2015, juga awal pada waktu itu Pak Jokowi (Joko Widodo) menjadi gubernur, atau Presiden, itu kan besar sekali banjirnya. Jadi, kita bisa membayangkan sebetulnya ada permasalahan lain selain hujan itu tadi. Itu yang ingin saya sampaikan.

 

Data curah hujan Jabodetabek BMKG

Berikutnya, apa penyebab eksternal tingginya curah hujan>>>

File Not Found