Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 27 Maret 2017 | 05:32 WIB
  • Masyarakat Harus Setop Ketergantungan pada Uang Tunai

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
Masyarakat Harus Setop Ketergantungan pada Uang Tunai
Photo :
  • Dok. Istimewa
Director of True Money Indonesia, Nussy Aryanto
File Not Found

VIVA.co.id – E-Money merupakan tren yang sedang berkembang. Penggunaan uang elektronik ini diharapkan bisa dinikmati oleh semua masyarakat Indonesia. Namun memang sulit melakukan edukasi langsung ke masyarakat dan menghilangkan kebutuhan akan uang fisik dan menggantinya dengan kartu.

Bank Indonesia mencatat untuk tahun 2015 volume transaksi uang elektronik di Indonesia sudah mencapai hampir 535 juta transaksi dengan nilai transaksi Rp5,283 triliun. E-Money memiliki banyak pemain di Indonesia. Selain e-Money Mandiri, Xl Tunai, dan TrueMoney, pemain lainnya adalah BPD DKI Jakarta, BCA, Telkom, Telkomsel, Bank Mega, Skye Sab Indonesia, Indosat, BNI, BRI, Finnet,  Artajasa, CIMB Niaga, Nusa Satu Inti Artha (Doku), Smartfren Telecom, MVCOMMERCE Indonesia.

Dari sekian banyak pemain, PT Witami Tunai Mandiri, sebagai pemilik merek dagang uang elektronik TrueMoney, memiliki ambisi yang lumayan besar. Salah satunya adalah menciptakan ekosistem uang elektronik yang bisa dinikmati oleh semua masyarakat Indonesia.

Bagaimana pasar e-Money dan strategi True Money mencapai visinya? Berikut petikan wawancara Viva.co.id dengan Direktur True Money Indonesia, Nussy Aryanto.

Bagaimana pasar e-money di Indonesia saat ini?

Pasar Indonesia didominasi oleh transaksi transportasi, antara lain Tol, Busway dan KCJ, dan ke depan MRT ataupun LRT, kesemuanya dikelola dan diterbitkan oleh Bank, khusus untuk e-money sebagai alat belanja (purchase) sirkulasinya masih sangat kecil dibanding penggunaan untuk transportasi, sehingga perusahaan fintech yang memanfaatkan e-money sebagai alat bayar sangat sedikit.

Pertumbuhannya seperti apa?

Pasar e-money di Indonesia masih tumbuh sebesar +27<6 persen dalam volume, dan sebesar +33<7 persen dalam value pada tahun 2016. Itu dibandingkan dengan tahun 2015 (Year on Year).

Dalam dunia Fintech secara keseluruhan, di mana dan bagaimana posisi e-money?

e-money yang dimanfaatkan sebagai alat bayar pada fintech posisinya adalah yang terakhir dibanding dengan uang tunai, debit dan kredit. Bahkan di bawah pembayaran Fintech menggunakan konsep transfer antarbank. Secara keseluruhan, pasar e-money masih mempunyai kontribusi sebesar 32 persen.

Apakah ada perubahan yang lebih baik saat ini, yang dirasakan di industri e-money, ketimbang saat awal kemunculan e-money beberapa tahun lalu?

Dengan dibukanya interoperability (secara terbatas) antarpenerbit e-money memudahkan nasabah melakukan pembelian via merchant sehingga pengguna e-money meningkat jumlahnya. Terlebih jika monopoli pada merchant-merchant tertentu seperti tol, busway dan KCJ dibuka untuk penerbit lain selain bank.

Bagaimana peta persaingan e-money di Indonesia? Di mana posisi True Money?

Terdapat 10 bank, 5 perusahaan telekomunikasi dan 7 perusahaan nonbank-nontelekomunikasi yang mempunyai izin e-money. True Money masuk di kategori akhir ini. Sampai saat ini terdapat 22 lisensi e-money dirilis oleh Bank Indonesia dan sementara masih didominasi oleh institusi perbankan. 

Selanjutnya...

File Not Found