Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 17 Juli 2017 | 06:12 WIB
  • Jangan Remehkan Pendatang Baru di Pilkada 2018

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Jangan Remehkan Pendatang Baru di Pilkada 2018
Photo :
  • VIVA/Dwi Royanto
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo

VIVA.co.id – Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah serentak bakal dihelat pada 2018. Meski masih beberapa bulan lagi, namun geliatnya kini sudah mulai kentara. Publik pun mulai menakar, siapa sosok yang tepat untuk memimpin mereka lima tahun mendatang. 

Bicara Pilkada, publik tentu masih terngiang hiruk pikuk pilkada serentak 2017 lalu. Dari ratusan daerah yang menggelar pilkada serentak, Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah ‘bintangnya’.

Banyak yang mengibaratkan imbas pesta demokrasi di Ibu Kota seperti kotak pandora yang menyisakan riak. Isu SARA hingga potensi konflik begitu kentara, yang tentunya memicu keprihatinan publik Tanah Air.  Publik berharap kegaduhan di Jakarta tak menular di pilkada daerah lain.

Jawa Tengah adalah salah satu daerah yang menggelar Pilkada serentak 2018, selain Jawa Timur dan Jawa Barat yang juga menggelar Pilkada pada 2018. Provinsi berpenduduk hampir 35 juta orang dengan 35 kabupaten/kota itu tentu menjadi daerah 'seksi' untuk diperebutkan elite poltik tingkat nasional.

Partai politik sudah terus berlomba memunculkan kader terbaiknya untuk diusung memperebutkan Jateng satu.

Selama beberapa dekade, Jawa Tengah dikenal sebagai basis merah atau wilayah kekuasaan PDI Perjuangan.  Berkaca pada Pilgub 2013 lalu, partai yang  sendirian mengusung calon gubernur dan wakil gubernur itu pun mendominasi kemenangan.

Kala itu, Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko mampu meraih kemenangan tinggi dengan prosentase 48,42 persen, unggul jauh dari dua lawannya yakni incumbent Bibit Waluyo- Sudijono Sastroatmodjo (30,26 persen) dan Hadi Prabowo-Don Murdono (20,92 persen)

Bagaimana kesiapan Jawa Tengah menghadapi Pilkada serentak 2018? Dan bagaimana peluang incumbent Ganjar Pranowo untuk bisa diusung lagi oleh PDIP?

Secara khusus Jurnalis VIVA co.id, Dwi Royanto berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di rumah dinasnya Puri Gedeh Semarang beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana persiapan Jawa Tengah menghadapi Pilkada serentak 2018? Kendala apa saja yang masih dihadapi daerah-daerah yang menggelar Pilkada?

Kalau Jawa Tengah secara keseluruhan Insya Allah siap ya. Setidaknya PR terbesar ada pada penyelenggara, KPU dan Bawaslu. Baik KPU dan Bawaslu sudah menyampaikan kepada kita intinya dia siap, karena sebenarnya teknisnya tinggal mengulang saja. Kebijakan yang perlu diambil kan tinggal nanti berapa TPS ada di sana dan lain-lain. Kalau tidak salah dari KPU sudah berjalan mulai daftar pemilih dan update-update seputar itu.

Mungkin yang perlu disiapkan oleh pemerintah provinsi termasuk DPRD adalah penganggaran. Nah penganggaran ini sampai saat ini masih kurang. Nanti kita akan dorong ke APBD perubahan dan APBD murni 2018. Jadi dari persiapan penyelenggara sudah dilaporkan kepada kami, relatif mereka siap. 

Apa kendala di luar anggaran?

Mungkin yang perlu dijaga hari ini adalah bagaimana proses demokrasi dan demokratisasinya harus berjalan dengan baik. Ini dibutuhkan partisipasi masyarakat dan partai politik. Umpama begini, kita punya pengalaman kemarin Pilkada DKI yang ramai sekali tentu kita belajar bagaimana mengelola isu, kemudian komunikasi yang kira-kira lebih objektif, baik dan tidak menyinggung perasaan orang. Itu kita mesti belajar. Karena itu jadi faktor yang sulit ditentukan tapi bisa muncul tiba-tiba. Karena beda-beda daerah beda isu yang akan muncul.

Apakah sosialisasi Pilkada Jawa Tengah 2018 sudah berjalan? Sejauh mana progresnya?

Kalau sosialisasi, masyarakat Jawa Tengah sudah tahu. Bahkan masyarakat Jateng sudah tanya bagaimana Pilkada 2018. Jadi sebenarnya mereka tahu. Mereka relatif juga punya pilihan. Sosialisasi relatif tidak sulit. KPU, Bawaslu dan partai politik yang paling gencar. Karena parpol kan mulai mengusung calon melalui media.

Media sendiri sekarang juga mendorong sosialisasi seperti dimunculkan kandidat banyak dengan menyampaikan untuk divote-divote gitu. Itu cara sosialisasi yang bisa membuat masyarakat tahu. Ada juga yang mereka bersosialisasi sendiri, ada yang berminat mencalonkan juga.

Apa sosialisasi itu sudah sampai level bawah?

Kalau sampai level bawah sekali tidak. Kecenderungannya kan memang tidak terlalu tinggi. Waktu zaman saya dulu sekitar 55-56 persen. Pileg juga sekitar 60 sekian persen. Jadi partisipasinya dulu tidak tinggi. Nah mungkin sekarang masyarakat tahu bisa lebih tinggi.

Bagaimana kans Anda diusung kembali PDIP untuk Pilkada Jateng 2018?

Kalau tradisi di PDIP itu simpel ya. Pengalaman saya sendiri 2013 itu sudah ada 22 pendaftar di DPD PDIP. Saya pendaftar ke-23. Jadi artinya, kalau bicara kans semua kader punya kans dan silakan mendaftar.

Biasanya PDIP punya seleksi internal. Seleksi internal itu ada tes mulai psiko tes, wawancara dan macam-macam yang kita sendiri juga mempertimbangkan survei-survei yang ada. Nah itu tradisi PDIP di provinsi-provinsi besar Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri) yang menentukan. Tapi kans, semua orang punya.

Bukankah Anda calon terkuat saat ini?

Trennya incumbent selalu terkuat. Apalagi kalau calon belum muncul. Sama waktu dulu saya mau masuk ya, Pak Bibit Waluyo sebagai incumbent paling tinggi waktu itu, belum ada yang ngalahin. Maka orang akan memilih-milih, fragmentasinya masih banyak. Tapi begitu ditetapkan calon, langsung mengerucut pada pilihannya. Lah nanti akan diperkuat dengan proses politik seperti kampanye, debat dan lain sebagainya, baru penentuan.

Jadi kalau orang melihat saya, karena mungkin saya masih incumbent. Tinggal nanti apakah selera dari masyarakat masih cocok apa enggak dengan saya, begitu kira-kira.

Bagaimana komunikasi Anda dengan internal PDIP?

Oh ada. Saya komunikasi, saya melaporkan kepada Ketua Umum pada Sekjen dan pada DPP dan DPD. Kemarin sebelum Rakernas kita Rakerda, kita juga bicara di sana. Sekali kita diundang untuk menjelaskan beberapa hal.

Kalau komunikasi jalan, termasuk dengan DPC, PAC bahkan tingkat ranting. Tapi komunikasinya tidak melulu berkaitan dengan Pilkada. Terkadang mereka menyampaikan aspirasi. Ternak lah, jalannya rusak lah, rumahnya dia dan tetangganya yang roboh dan perlu bantuan rumah tak layak huni.

Kalau komunikasi itu sejak saya dilantik sampai hari ini masih oke. Kita gunakan teknologi ya telepon, SMS, WhatsApp, media sosial itu masih.

Berkaca pada Pilkada serentak 2017, beberapa calon gubernur yang diusung PDIP kandas, apa reaksi Anda? Tidakkah itu menjadi 'warning' bagi PDIP di Pilkada Jateng?

Oh ya, kalau sebenarnya seluruh kandidat punya kesadaran politik kita bisa mengevaluasi diri. Kenapa kita menang atau kenapa kita kalah. Kekalahan itu ditentukan pasti oleh kenapa tidak dipilih kan.

Nah, kenapa orang tidak memilih itu biasanya akan bergantung pada apakah penantangnya lebih menarik. Apakah program-program juga lebih menarik, apakah kemudian ada rekam jejaknya yang akan menarik; dan yang terakhir apakah komunikasinya akan baik atau tidak. Maka kalau mau menang lagi ya komunikasinya harus baik.

Ada banyak contoh ya, komunikasinya buruk kalah. Ada komunikasinya baik sekali tapi kemudian yang lain lebih seksi dan menarik, ini bisa menjadi kompetitif. Jadi tidak bisa kita sombong, tidak bisa merasa jawara terus merasa seolah-olah kita akan menang tidak.

 Jadi selalu berkaca dengan Pilkada serentak kemarin, ada peluang-peluang yang biasa bisa menang, yang sudah populer juga menang juga banyak. Terus kemudian tidak boleh meremehkan para pendatang baru. Tinggal kita mengatur saja strategi masing-masing.

Sebagai Gubernur tentu Anda tidak ingin situasi Pilkada Jateng 'panas' seperti Jakarta, apa kiat Anda untuk memastikan isu SARA seperti di Pilkada DKI tidak terjadi di Jateng?

Ya kita sudah belajar banyak. Kalau dulu orangtua mengatakan mulutmu harimaumu sekarang jarimu harimaumu. Mungkin nanti bisa keputusanmu harimaumu, penampilanmu harimaumu. Macam-macam sekarang yang mungkin bisa jadi harimau yang siap menerkam.

Jadi orang belajar betul dan saya belajar betul, sadar betul mana yang kemudian kita bisa bersikap dengan gaya A, gaya B dan mana yang harus gaya C. Bahasanya bagaimana kita ngemong. Maka komunikasi itu betul-betul akan jadi tulus. Kalau suasana ngemong itu bisa diberikan dan ketemu, maka itu akan jadi poin. Tapi apapun namanya kayak Jawa Tengah, apalagi dibanding dengan Jakarta, kita lebih gede ya. Hampir 35 juta penduduk dan 35 kabupaten/kota.

Optimis isu SARA tidak terjadi?

Ya disamping komunikasi ya bagaimana mengelola isu. Isu akan bisa muncul. Maka sekarang kita mencoba mengedukasi publik. Sejak dari awal saya dan Pak Heru Sudjatmoko menjadi gubernur dan wakil gubernur, misi kami adalah pendidikan politik.

Yang dulu orang banyak mengatakan, ngapain, rak cetho, misi kok pendidikan politik, nggak jelas. Padahal pendidikan politik yang saya maksud itu saya pengen masyarakat di Jawa Tengah sadar bahwa dia bagian dari politik besar di Jawa Tengah. Dia bisa berpartisipasi, ikut menentukan, ikut mengkritik, ikut oposisi dan bisa memaki-maki tapi juga bisa mendukung.

Maka,  mengapa saya membuka kanal banyak-banyak, ya itu untuk komunikasi. Mau SMS, WA boleh, mau media sosial boleh atau datang langsung. Kita juga buatin call center, harapan saya cara itu untuk meredam sehingga kita bisa ketemu di banyak tempat dan ruang.

 Kalau komunikasi itu bisa dilakukan, harapannya ini bisa meredam. Tapi saya tidak bisa pungkiri lho, kalau sudah tidak suka sama saya atau kemudian saya jadi target lawan pasti akan ada degradasi. Negatif campaign, black campaign pasti akan muncul. Dan itu dalam dinamika politik biasa. Kalau saya sih siap-siap saja.

Saat ini sudah ada isu SARA yang ditujukan kepada Anda?

Kalau SARA mungkin enggak. Kalau kebijakan mungkin. Ada yang setuju dan tidak setuju. Umpama, katanya ada program Jateng tanpa lubang, itu nyatanya masih ada lubang. Itu biasa. Kemudian pejabat yang tidak disetujui kepada masyarakat dan dipepetkan kepada saya ada.

Saya bisa melihat yang paling gampang dari partai politik. Umpama tadi ada hasil reses, ternyata menarik. Soal jalan rusak itu katanya gubernur harus bertanggung jawab, padahal jalan desa. Saya berpikir, masa iya sih jalan desa gubernur.

 Lalu persiapan mudik, katanya jalan nasional gubernur harus bertanggung jawab karena gubernur juga wakil pemerintah pusat. Saya mbatin masak juga iya begitu (jalan nasional tanggung jawab gubernur).

Apakah Anda sudah menakar siapa-siapa saja yang akan menjadi penantang nanti?

Belum. Wong semua lagi lempar-lemparan kok. Ada test the water. Pokoknya muncul dulu. Soal yang mengkritik, saya kira enggak apa-apa. Karena yang mengkritik, saya kira punya keinginan. Kan ada banyak cara orang merayu. Kalau kita ingin merayu masyarakat, cara merayu kita kan banyak punya penawaran.

Ya ada yang merayu kamu cantik, dia jelek atau kamu paling cantik daripada dia, itu banyak. Ada juga merayu seperti dia bisa dia mampu dan tidak mampu, maka pilihlah saya. Itu juga ada.

Bagaimana pendapat Anda soal Marwan Jafar atau Sudirman Said dan tokoh lain yang banyak disebut jadi penantang nantinya?

Kalau saya melihat kredibilitas Pak Marwan bagus. Pernah jadi menteri, Sudirman Said juga pernah jadi menteri. Saya kira mereka tokoh-tokoh berkualitas. Menurut saya selamat datang di Jawa Tengah.

Beberapa nama itu kini telah banyak mengkritik Anda, apa respons Anda?

Kalau kritik itu biasa bagi saya. Saya juga tukang kritik. Menurut saya kritik itu vitamin kok. Menarik. Tinggal nanti masyarakat yang melihat, kan gitu. Masalahnya kan sepihak. Tapi kalau bisa bertemu dalam satu diskusi, mungkin bisa kita sajikan tontonan yang menarik bagi masyarakat yang edukatif. Apakah debat publik, seminar dan macam-macam.

Umpama beberapa tokoh pengen maju terus buat kritikan, maka itu adalah cara merayu masyarakat yang paling bagus. Jadi ketika kita punya gaman (senjata),  punya sangu (bekal), maka sangu kita  yang kita tawarkan.

Umpama saya punya tempe, saya punya telor dan saya punya roti, mau enggak saya kasih. Itu yang saya kira menarik. Tapi kalau enggak punya kita ngomong, 'eh dia jelek lho itu, kamu jangan pilih dia ya', nah yang semacam itu sangunya belum punya dia. Maka dia bicara yang orang lain sebagai targetnya. Dan saya kira dalam sebuah proses politik itu biasa.