Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 11 September 2017 | 05:51 WIB
  • Asing Bisa Jadi Penasihat, Keputusan Tetap di Kita

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
Asing Bisa Jadi Penasihat, Keputusan Tetap di Kita
Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa
Ketua Indonesia E-Commerce Association (iDEA) Aulia Marinto
File Not Found

VIVA.co.id – Mengelola perdagagan elektronik bagi Aulia Marinto sepertinya bukanlah hal sulit. Meski berlatar belakang dari perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkomsel, mengelola Blanja.com tidak terlalu menjadi beban. Pasalnya, dia mengklaim jika e-commerce pertama kali hadir di industri operator telekomunikasi.

Pria yang sempat menjabat sebagai juru bicara dan sekretaris korporasi di Telkomsel ini sangat yakin dengan klaim itu karena industri konten premium sempat tumbuh dan berkembang dengan pesat serta menghasilkan banyak pemasukan yang berarti bagi Telkomsel kala itu. Jual beli konten di smartphone, baik pembelian wallpaper, ring tone, ringback tone, dianggap sebagai cikal bakal e-commerce. Jadi operator telekomunikasi dianggap haruslah bisa mengelola e-commerce lebih baik dari siapapun.

Tidak heran jika kemudian anggota Indonesia e-Commerce Association (idEA) banyak yang memilihnya untuk menjadi pimpinan puncak di organisasi tersebut. Di idEA, Aulia harus bisa menyatukan banyak kepala untuk bisa menerima perbedaan. Apalagi e-commerce baru tumbuh dan sedang digodok aturan untuk bisa membuat industri ini ‘mature’di masa depan, khususnya dalam menghadapi invasi dari negara China yang gencar melakukan investasi besar-besaran di ranah ini. Ditambah, seorang milyuner China didapuk untuk menjadi penasehat e-commerce Indonesia.

Bagaimana tantangan yang sebenarnya dihadapi e-commerce Indonesia dan sikap idEA terhadap ‘invasi’ China? Berikut wawancara Ketua idEA, Aulia Marinto dengan Viva.co.id beberapa waktu lalu.

Bagaimana kesan Anda, dari telekomunikasi nyemplung ke e-commerce?

Dari segi industri memang beda. Tapi saya kalau mengerjakan sesuatu dengan passion. Di Telkomsel, sebagian waktu saya bertugas mendevelop sesuatu yang baru, baik produk maupun bisnis. Jadi sebenarnya saya tidak terlalu kaget.

Yakin bisa mengembangkan e-commerce dengan induk operator telekomunikasi?

Tahun 2000 Telkomsel pernah menggelar ‘e-commerce’ tapi waktu dulu bukan itu sebutannya karena yang dibeli adalah konten, macam ringtone, ringback tone, MMS, dan lainnya. Dulu bayarnya bisa pakai kartu kredit tapi umumnya pakai pulsa, digunakan hanya untuk di handset. Namun dulu saya juga sudah merencanakan kemungkinan membeli consumer goods pakai pulsa tapi tidak jalan karena kepentok aturan Bank Indonesia. Jadi soal perdagangan elektronik, operator sudah memulainya sejak lama.

Lalu kenapa dengan Elevenia dan Cipika (masing-masing milik XL Axiata dan Indosat)?

Industri (e-commerce) ini masih baru dan pendekatan atau mendevelop bisnisnya beda dengan digital ala operator telko. Bisnis digital telko itu identik dengan akses dan konten seperti video dan lainnya. Apalagi sekarang prospeknya besar dan banyak orang yang ingin masuk. Model e-commerce juga tidak mengejar profitability dan revenue di depan, harus keluarkan uang dulu. Tapi memang bisnis ini harus jadi unit tersendiri karena harus sangat fokus.

Peta e-commerce RI sendiri bagaimana. Berapa anggota idEA?

Model umum di RI, marketplace, retail online dan classified ads. Di luar negeri lebih vertikal. Kategorinya lebih  beragam lagi, sudah terkategorisasi dengan baik, mulai dari fashion, penjualan barang elektronik, dan lainnya. Kalau anggota idEA sudah ada 300an, tak hanya pelaku e-commerce tapi seluruh yang ada di ekosistem e-commerce, mulai dari payment, delivery service, digital marketing tools, research dan tentunya pemilik platform.

Data pertumbuhan dari idEA?

Belum ada. Tapi kami sedang kerjakan bersama pemerintah. Ke depan kami akan gunakan pendaftaran elektronik yang mempermudah mereka melaporkan url dan bisnis e-commerce yang dibuat.

File Not Found