Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 25 September 2017 | 05:44 WIB
  • Saya Ingin Bermanfaat untuk Orang Lain

  • Oleh
    • Mustakim,
    • Shintaloka Pradita Sicca,
    • Rochimawati
Saya Ingin Bermanfaat untuk Orang Lain
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Ahmad Fuadi Bicara Novel Anak Rantau
File Not Found

VIVA.co.id – Nama Ahmad Fuadi langsung meroket, sejak meluncurkan trilogi Negeri Lima Menara. Negeri Lima Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara membuat namanya melambung. Nama mantan jurnalis Tempo ini langsung masuk jajaran novelis papan atas. Apalagi, setelah salah satu novelnya difilmkan. 

Setelah sukses dengan trilogi Negeri Lima Menara, kini jebolan Universitas Padjajaran Bandung ini merilis novel barunya berjudul Anak Rantau. Fuadi mengatakan, butuh waktu lama untuk menulis dan menyelesaikan novel ini. Mantan wartawan Voice of America ini juga mengaku butuh waktu sekitar tiga tahun untuk merampungkan novel terbarunya tersebut.

Penerima sejumlah beasiswa ini mengatakan, dia tak memilki latar belakang sastra. Tak hanya itu, pria kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 30 Desember 1973 ini, bahkan mengaku tak suka membaca buku sastra. Saat berkunjung ke VIVA.co.id, ia buka kartu. Ia menulis novel atas dorongan istrinya.

Lalu, bagaimana sebenarnya proses kreatif dari pria yang hangat dan ramah ini? Demikian, penuturan Penulis Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia pada 2011 ini:

Apa yang membuat Anda tertarik menulis novel?

Saya sebenarnya tidak banyak membaca novel. Saya memang pernah membaca buku Lima Sekawan. Tetapi, bukan penggila novel. 

Kok bisa nulis trilogi Negeri Lima Menara?

Waktu saya habis dari Gontor, di Jakarta, saya menikah dengan gadis yang besar di Jakarta, berlatar belakang Jawa dan Minang. Dia anak metropolitan. Kalau ngobrol dengan dia, saya bilang, kamu itu enggak tahu tentang pesantren, tentang desa. 

Saya cerita, di pondok, kita kalau ngelindur pakai bahasa Arab, bahasa Inggris. Dia ketawa dan enggak percaya. Lama-lama dia bilang, ini kan kisah menarik dan inspiring. Enggak banyak yang tahu apa isi pesantren. Selama ini, yang muncul dalam berita hanya teroris. Tetapi, pendidikan di pesantren enggak pernah orang luar yang tahu. Dia minta saya menuliskan.

Lalu?

Saya mikir, kalau ditulisin jadi apa ya? Jadi reportase, atau jadi apa? Kalau reportase kepanjangan. Kenap enggak novel aja. Kebetulan waktu itu mas Andrea Hirata lagi cerita pendidikan di Belitung dan membukakan mata orang. Kalau gitu, boleh juga saya bikin novel yang menceritakan pendidikan di pesantren.

Jadi pemicunya adalah istri?

Selain trigger dari istri, di Gontor itu moto penting yang selalu diingatkan kepada kita adalah ‘kamu jadi apa aja silakan, tetapi yang penting kamu harus bermanfaat bagi orang lain’. Carilah tempat di mana kita bisa bermanfaat dengan maksimal.

Maksudnya?

Waktu itu saya pikir, terlalu sibuk dengan urusan duniawi, tentang kerja, sekolah, hidup nyaman. Saya ingat, teman-teman saya yang lulus dari pesantren ada yang membuat pesantren dengan murid 3.000 orang itu besar banget manfaatnya. Ada yang punya uang banyak banget, dan dia membagi hartanya ke banyak orang. Nah, saya apa? Sebenarnya itu perjalanan ke dalam, apa yang dikerjakan oleh diri saya. Sekolah itu manfaatnya buat diri saya, ada duit itu hanya buat keluarga saya, enggak lebih dari itu yang bisa saya lakukan.

Lalu?

Lalu, saya ingat punya cerita dan bisa nulis. Paling enggak nulis berita. Waktu itu belum nulis novel. Dari situ ketemulah ide cerita. Ada dorongan dari istri, keinginan untuk bermanfaat lebih luas, akhirnya mulailah saya menulis. Sebenarnya, ada khawatir dari istri saya, karena saya baca novel aja jarang, tetapi mau nulis novel. 

Bagaimana Anda belajar nulis fiksi?

Ada momen, di mana istri saya tugas ke Singapura. Di sana, dia cari buku cara menulis novel. Judulnya, "How to Write a Novel". Kata istri saya, "Nih, bang saya kasih hadiah (buku panduan itu), baca dulu baru nulis."

Dia khawatir nanti jelek. Jadi, saya bikin buku benar-benar dari dasar, baca buku panduan, barulah menuliskan cerita menjadi sebuah novel.

Hasilnya?

Kritikus bilang, ini novel kok kayak laporan jurnalistik. Mungkin juga ya, saya belum cocok jadi novelis, jadinya reporter, pelapor panjang. Tetapi, saya terus belajar. Jadi, trigger-nya macam-macam, dari luar dan dari dalam.  

Bagaimana proses kreatifnya? 

Kalau menulis yang teknis dan risetnya, saya terbantu, karena pernah menjadi wartawan. Karena jadi wartawan itu terbiasa dengan riset. Jadi, risetnya lumayan.

Bisa diceritakan?

Saya pulang kampung, saya wawancara semua orang, tanya ibu saya. Waktu saya bilang mau buat novel, ibu saya bingung. Waktu itu, ibu saya masuk ke kamar dan keluar lagi membawa beberapa kertas. Ternyata, itu surat-surat saya kepada ibu selama saya di pesantren. Ibu saya menyimpan surat saya, dinomorin pula. Dan itu saya minta. Itu riset penting. Itu dokementasi pribadi. Saya baca ulang. Saya bongkar lemari tua, saya cari buku harian saya SMP. 

Apa yang Anda temukan?

Di sana masih ada buku catatan pertama. Man Jadda Wajada. Buku pelajaran beserta catatannya. Pikiran langsung terbang ke masa lalu, sehingga bisa mendeskripsikan dengan lebih baik.

Selain itu?

Saya liat foto-foto. Saya wawancara kawan-kawan saya, seperti mencari bahan reportase sih. Dari situ, saya mulai menyusun kerangka ceritanya. Waktu bikin novel Negeri 5 Menara itu saya punya perbandingan dengan buku Harry Potter, Laskar Pelangi, dan The Kite Runner. 

Berikutnya, referensi saya Harry Potter>>>

File Not Found