Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 06:40 WIB
  • Celaka Kalau Kita Tak Punya Pabrik Sedan

  • Oleh
    • Krisna Wicaksono,
    • Pius Yosep Mali
Celaka Kalau Kita Tak Punya Pabrik Sedan
Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohanes Nangoi.
File Not Found

VIVA – Sampai saat ini, Indonesia masih jadi negara penikmat produk kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan yang diproduksi mencapai 1,1 juta unit pada tahun lalu, namun yang dipasarkan di dalam negeri hampir sama banyaknya.

Ditambah lagi beberapa produk yang dijual di Tanah Air tidak diproduksi sendiri, melainkan diimpor dari negara lain. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo sebagai asosiasi resmi kendaraan beroda empat memiliki pekerjaan rumah yang sangat banyak.

Tidak hanya soal produksi kendaraan, namun juga ketertinggalan Indonesia dalam hal standar keselamatan dan infrastruktur pendukung tren otomotif di masa depan.

Lantas, bagaimana Gaikindo memandang situasi industri otomotif nasional saat ini dan apa solusi mereka? VIVA menanyakannya langsung ke Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi, di kantornya yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat.

Pria yang akrab disapa Pak Yo ini bukan wajah asing di industri otomotif nasional. Sarjana Sipil lulusan Universitas Parahyangan Bandung ini sempat menjabat sebagai General Manager di PT IBM Indonesia, sebelum hijrah ke Isuzu Indonesia (dulu bernama Pantja Motor).

Dua tahun menjadi Kepala Divisi Penjualan Isuzu, Pak Yo dipercaya menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur di PT Astra Daihatsu Motor. Dua tahun kemudian, ia diminta untuk menjadi DIrektur Pemasaran PT Astra Honda Motor. Setelah itu, Pak Yo kembali ke Isuzu dan kini menjabat sebagai Komisaris PT Isuzu Astra Motor Indonesia.

Pak Yo menjabat sebagai Ketua Umum Gaikindomasa bakti 2016-2019. Berdiri sejak 1969, Gaikindo menjadi fasilitator antara pemerintah dengan para anggotanya, terkait berbagai kebijakan. Antara lain, kebijakan industri dan perdagangan, energi, perpajakan, standar keselamatan, pemanfaatan teknologi, dan lingkungan.

Akhir tahun sudah dekat, bagaimana target penjualan mobil tahun ini?

Terus terang, target awal akan meleset. Setelah mengadakan pertemuan internal, kami punya angka baru. Pertumbuhan mobil tahun lalu dibandingkan tahun ini adalah flat.

Penjualan akan tetap ada di angka 1,05-1,06 juta. Saat ini kan ada di angka 800 ribuan, masih kurang sekitar 250 ribuan. Kalau dibagi tiga, sekitar 80 ribu lebih, masih masuk.

Bagaimana prediksi penjualan tahun depan?

Saya lihat sektor ekonomi membaik. Tetapi, penggerak utama ada di sektor komoditas, yakni ada di tambang dan kelapa sawit. Nah, mereka ini baru mulai membaik lagi, kelihatan sudah mulai naik. Saya cek ke Hino, Isuzu dan yang lain, penjualan truk mulai bagus.

Nah, kalau penjualan truk membaik, akan disusul ke yang lain. Bahkan, sepeda motor bisa ikut membaik. Mudah-mudahan tahun depan bisa membaik. Tapi, tahun depan kan dianggap sebagai tahun politik panas. Ini bisa berdampak kontraproduktif.

Seberapa besar pengaruh kondisi politik?

Besar sekali loh. Kalau sampai terjadi kayak tahun 1998, tinggal 10 persen pasar mobil saat itu. Tetapi mudah-mudahan enggak terjadi. Kita negara demokrasi, kampanye dan pemilihan bisa secara mature. Harusnya enggak ada masalah.

Jumlah produksi mobil Indonesia kalah dari Thailand. Bagaimana cara mengejarnya?

Kami (Gaikindo) ingin Indonesia jadi basis produksi. Sekarang saya bilang, Anda jualan tempe, pedagang sebelah punya tempe, tahu, sayuran dan segala macam. Mana lebih banyak jualannya? Tetangga toh.

Itu ibarat otomotif Indonesia. Kita cuma produksi MPV saja, sementara dunia butuhnya enggak cuma MPV. Jalan satu-satunya adalah kita sediakan yang lebih komplet, merambah ke semuanya. Contohnya, kita merambah ke sedan juga.

Pabrik perakitan mobil Honda.

Pabrik perakitan mobil Honda

Mengapa kita harus bikin sedan?

Sedan itu masih termasuk terbesar di dunia penjualannya, permintaannya masih tinggi, masih besar. Saat ini, impor mobil dari Thailand ke Indonesia selama komponen yang dari ASEAN-nya 40 persen, bea masuknya nol. Kan celaka kalau kita enggak punya pabrik sedan di sini.

Saat ini, Indonesia jadi lahan subur buat Avanza-Xenia dan model kotak-kotak kayak begitu. Kenapa diterima model kayak gitu, ya karena kita duitnya cuma di situ.

Pendapatan per kapita kita sekira US$3.500. Tetapi, Indonesia diprediksi dalam waktu lima tahun lagi punya pendapatan per kapita US$5.000, bahkan lebih. kalau sudah di situ, hati-hati, akan berubah pasarnya.

Kalau pasarnya berubah, terus orang mau pakai sedan, sedan bisa tumbuh. Cuma, karena enggak diproduksi di Indonesia, diambilnya dari Thailand. Kita jadi importir, itu kan bahaya.

File Not Found