Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 19 Juni 2017 | 13:57 WIB
  • Dian Sastro: Artis Tak Melulu Glamor

  • Oleh
    • Maya Sofia,
    • Linda Hasibuan,
    • Anry Dhanniary
Dian Sastro: Artis Tak Melulu Glamor
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Dian Sastrowardoyo.

VIVA.co.id – Artis berbisnis sudah menjadi hal lumrah dewasa ini. Tak hanya di luar negeri, artis Tanah Air pun banyak yang tercatat sebagai seorang pebisnis. Ada yang terjun ke bisnis fesyen, garmen, kuliner, travel, hingga teknologi. 

Dian Sastrowardoyo adalah salah satu di antara artis Indonesia yang memutuskan untuk merambah dunia bisnis. Tak tanggung-tanggung, wanita kelahiran 16 Maret 1982 ini menjajal tiga bidang sekaligus, yakni fotografi, startup, dan kuliner. 

Lewat startup Frame A Trip, Dian menjadi co-founder bersama empat anak muda lainnya, seperti Michael Tampi, Arief Subardi, Damon Hakim, serta Hermawan Sutanto. Startup yang bergerak di bidang fotografi ini sudah berjalan kurang lebih hampir setahun. Di sana, bintang Ada Apa Dengan Cinta? Itu juga bertindak sebagai Chief of Partnership. 

“Saya bersama teman-teman patungan bikin startup baru dan menurut kami ini peluang yang unik banget dan belum banyak orang masuk ke persoalan ini,” ujar Dian saat ditemui VIVA.co.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca juga Wawancara Khusus Dian Sastro: Bisnis Apa Saja di Indonesia Pasti Untung

Gairah Dian untuk berbisnis tak berhenti pada startup saja. Ia juga memberanikan diri bergerak sebagai wirausahawan di bidang kuliner.  Lulusan S-2 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut membuka sebuah restoran bernama MAM by 3 Skinny Minnies.

Dian mengaku tak pernah terpikir membuka restoran di sebuah mal ternama. Sebab, awalnya ia hanya menyediakan jasa penyedia makanan sehat untuk keluarga dan orang-orang terdekat. Namun, Dian tergerak mengedukasi orangtua agar belajar membuat makanan sehat sekaligus lezat untuk keluarganya.

"Awal ide membuat resto ini sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya,” kata istri Maulana Indraguna Sutowo itu.

Menyapu dan memotong bawang

Di bisnis Frame A Trip, Dian dan co-founder lainnya memang sama-sama sebagai pemodal. Namun bukan berarti peraih penghargaan Festival Film Internasional Singapura kategori pemeran wanita terbaik tahun 2002 tersebut hanya duduk manis di belakang meja. 

Dian mau tak mau turut menyingsingkan lengannya demi membangun bisnis startup-nya itu. Salah satunya adalah merespons keluhan atau komplain pelanggan dengan berkomunikasi langsung via telepon, WhatssApp maupun Instagram. 

Menurut Dian, sentuhan personal sangat penting. Selain menambah nilai, utamanya juga menjaga hubungan baik dengan pelanggan. “Kita enggak cuma hubungan jual beli, tetapi sudah kayak keluarga, teman. Jadi orang pasti akan langganan terus,” ucapnya.

Begitu juga saat Dian menjalankan bisnis restorannya. Ibu dari dua anak ini tak segan masuk dapur dan mengurus segala hal yang biasanya dilakukan oleh staf.  

“Ikut memotong bawang, ikut begadang. Suami di rumah saja ikut begadang,” ucapnya berseloroh.
Restu dan dukungan dari suami serta keluarga, diakui Dian, sangat penting jika seseorang ingin menjadi wirausahawan. Sebab, keluargalah yang nantinya akan terkena dampaknya. 

“Di Frame A Trip, kita semua juga, lima ini sudah berkeluarga semua. Kita punya cita-cita, niat yang baik. Semoga ini bisa memberikan kontribusi yang baik untuk keluarga kita masing-masing. Jadi berangkatnya harus dengan niat yang bagus. Dengan niat yang baik. Insya Allah ada jalannya,” ujarnya.

Dian tak menampik bahwa status artis yang disandangnya membuat orang kerap salah kaprah. Banyak yang memandang bahwa kehidupan artis selalu glamor, naik mobil mewah, dan wajah dibalut make-up.

Padahal jika sudah terjun ke bisnis, kata Dian, seluruh anggapan itu sirna seketika. “Kalau sudah masuk ke bisnis kayak begini ya harus mau jadi babu. Waktu itu buka restoran, saya ikut menyapu juga,” tuturnya.

Menjadi wirausahawan, lanjut Dian, ibarat kembali menjadi siswa. Segala sesuatunya belajar dari nol lagi. “Apa sih yang sebenarnya dibutuhkan, apa sih yang enggak dimiliki oleh market, suplai apa sih yang enggak dimiliki. Jadi itu yang mau coba kita tutup gap-nya,” ujar Dian.

Selanjutnya...Sebagai guru di rumah