Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 21 April 2017 | 11:50 WIB
  • Dahulu Auditor, Kini Intan Jadi Petugas Pengeruk Sampah

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Linda Hasibuan
Dahulu Auditor, Kini Intan Jadi Petugas Pengeruk Sampah
Photo :
  • VIVA.co.id/ Linda Hasibuan
Pasukan Oranye

VIVA.co.id –Petugas Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air Dinas Kebersihan di DKI Jakarta umumnya adalah pria. Namun, bukan berarti, wanita tidak bisa melakukan pekerjaan semacam itu.

Ini seolah membuktikan bahwa emansipasi yang diperjuangkan oleh pahlawan wanita R.A Kartini telah terpupuk bagi kaum hawa yang kuat dan bersemangat. Tak jarang pekerjaan yang dianggap kurang tepat dilakukan oleh wanita, justru bisa dilakukan dengan baik demi memenuhi kebutuhan hidup.

Ini pula yang dilakukan seorang wanita bernama Dewi Endang Setiyowati yang merupakan pekerja kebersihan dari UPK Badan Air Wilayah Jakarta Timur. Wanita berusia 40 tahun ini sudah dua tahun menggeluti pekerjaan sebagai petugas kebersihan di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Warga Cililitan ini, awalnya tidak menyangka bisa bergabung dan menjadi srikandi pasukan oranye. Apalagi awalnya, dia berprofesi sebagai staf administrasi di UPK Badan Wilayah Air Jakarta Timur.

"Iya saya di sini kerja sudah dua tahun awalnya sebagai admin setahun dan karena ada perubahan jadi ikut turun juga ke lapangan menjadi sopir truk mobil kebersihan dan ikut bersih-bersih juga. Kita satu tim ada berempat dan selalu membawa mobil carry untuk pembuangan sampah," ujar Dewi kepada VIVA.co.id.

Pasukan Oranye

Dia menuturkan bahwa jam kerja pun telah dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB. Kendati demikian, sesekali dia pernah merasa adanya keterbatasan lantaran tanggapan beberapa orang pria yang meragukan pekerjaannya, tapi dia pun tidak menghiraukan hal tersebut.

Bagi Dewi,  memiliki pekerjaan seperti ini merupakan emansipasi yang tidak terukur. Di mana wanita tidak hanya memasak dan mengurus rumah saja tapi juga bisa melakukan pekerjaan selayaknya pria.

Faktor lain yang membuat Dewi terjun ke dunia yang banyak dianggap orang menjijikkan ini karena dia merasa tertantang untuk mencoba hal baru. Meski begitu, keputusan Dewi memilih pekerjaan ini awalnya mendapat penolakan dari sang suami dan orangtua lantaran dianggap berisiko namun setelah diyakinkan mereka pun akhirnya menerima.

Meski sibuk bekerja, sebisa mungkin Dewi selalu berusaha adil membagi waktunya untuk buah hati karena sang suami memiliki pekerjaan di luar kota. Tak jarang bila ada waktu, sesekali dia pun membawa salah satu anaknya saat bekerja agar mereka memahami pekerjaan orangtuanya.

"Saya semangat kerja buat anak-anak dan keluarga saya bantu suami juga jadi saya harus membantu suami dalam mengatasi kekurangan. Selain itu memiliki pekerjaan ini kita jadi semangat karena memiliki tim yang solid," ucap dia.

Dari audit internal jadi petugas kebersihan

Tidak jauh berbeda dari Dewi, srikandi yang menginspirasi lainnya adalah Intan Lestaluhu. Wanita berusia 24 tahun ini rela meninggalkan pekerjaannya sebagai audit internal di sebuah perusahaan asing lantaran ingin mencoba hal baru yang lebih menantang.

Benar saja, wanita lulusan Hubungan Internasional dari universitas swasta di Jakarta ini tergerak membawa alat berat pengeruk sampah wheel loader. Dia mengaku bahwa dalam membawa alat berat tersebut dia mempelajarinya secara otodidak.

Wanita yang bertugas pada UPK Badan Air Wilayah Jakarta Pusat ini awalnya penasaran dengan alat tersebut sehingga dia pun mencoba-mencoba dan langsung lancar. Adapun tantangan yang sering dihadapi adalah mengeruk sampah pada pompa air yang terlalu sempit disertai lilitan kabel.

"Awalnya saya penasaran ini alat apa sih terus coba-coba sendiri akhirnya tanya-tanya sama teman terus dua kali belajar sudah lancar. Mau mencoba sesuatu yang berbeda saja," ucap Intan.

Intan yang memiliki sikap pendiam menuturkan bahwa dari pekerjaan ini membuatnya lebih terbuka dalam bersosialisasi. Serta membuatnya dia menjadi lebih dewasa dan memahami kondisi lapangan dengan baik.

Telah bekerja hampir tiga tahun membuat Intan semakin nyaman dengan profesi yang telah dijalankan. Meski awalnya tidak diizinkan oleh kedua orangtuanya Intan mencoba memberi pengertian sehingga akhirnya dia pun di izinkan.

"Ya saat memutuskan untuk memilih pekerjaan ini orangtua saya tidak terima karena katanya ngapain kuliah tinggi-tinggi kalau hanya kerja itu. Tapi saya berusaha untuk meyakinkannya dan Alhamdulillah diizinkan juga," ucap dia.