Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 15 Juni 2017 | 15:44 WIB
  • Kontroversi Ibu Hamil Berdiri di KRL, Ini Bahaya Medisnya

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti
Kontroversi Ibu Hamil Berdiri di KRL, Ini Bahaya Medisnya
Photo :
  • Pixabay/ ekseaborn0
Ilustrasi Kehamilan

VIVA.co.id – Status seorang wanita bernama Shafira di Facebook bikin heboh dunia maya. Dalam statusnya itu, dia kesal kepada para ibu hamil yang selalu diprioritaskan untuk mendapatkan tempat duduk di kereta rel listrik Commuterline Jabodetabek.

Status tersebut menjadi sorotan setelah diunggah oleh Netizen bernama Eka Aditya. Shafira dihujat karena meremehkan kondisi ibu hamil.

Seperti diketahui, kebanyakan ibu hamil merasa tak kuat ketika berdiri terlalu lama. Namun, apakah ada efek bahaya berdiri lama jika ditinjau dari segi medis?

Dilansir dari laman Live Science, sebuah penelitian sempat mengungkapkan soal bahaya bediri berjam-jam pada ibu hamil.Penelitian itu pun mengungkap, berdiri selama berjam-jam selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi.

Berdiri dan bekerja berjam-jam selama kehamilan juga diungkapkan dapat memperlambat pertumbuhan bayi. Ini merupakan sebuah studi yang dilakukan di Belanda.

Dalam penelitian tersebut, wanita yang berdiri untuk waktu yang lama di tempat kerja selama kehamilan memiliki bayi yang memiliki lingkar rata-rata 1 sentimeter (atau 3 persen) lebih kecil daripada rata-rata bayi saat lahir.

Selain itu, wanita yang bekerja lebih dari 25 jam seminggu memiliki bayi yang beratnya kurang dari tujuh ons lebih sedikit daripada bayi yang lahir dari wanita yang bekerja kurang dari 25 jam seminggu.

Analisis pertumbuhan bayi menunjukkan perbedaan ini terjadi dari trimester ketiga dan seterusnya, kata periset.

Namun, bekerja berjam-jam dan terlibat dalam pekerjaan yang menuntut secara fisik selama kehamilan tidak membuat wanita berisiko melahirkan prematur atau memiliki bayi dengan berat lahir rendah.

Selain itu, penelitian sebelumnya telah menemukan wanita yang bekerja memiliki komplikasi kehamilan lebih sedikit daripada wanita yang menganggur, kata periset.

Temuan ini berarti, bagi wanita yang ingin bekerja selama kehamilan, "terus bekerja," kata Dr. Jill Rabin, seorang ahli kandungan dan ginekolog di North Shore Long Island Jewish Medical Center di New Hyde Park, N.Y.

Namun, ibu hamil harus melakukan gerak yang bervariasi, termasuk kombinasi duduk, berdiri dan berjalan di hari kerja mereka. Bukan hanya berdiri terlalu lama yang berdampak buruk untuk ibu hamil, duduk dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko pembekuan darah. "Dan berdiri untuk waktu yang lama dapat membahayakan aliran darah ke bayi," kata Rabin.

"Itulah mengapa Anda harus mencampurnya," katanya.

Bekerja saat masa kehamilan

Penelitian sebelumnya telah menyarankan jam kerja yang panjang dapat meningkatkan risiko cacat lahir, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah, namun belum berfokus pada pertumbuhan janin.

Dalam studi baru tersebut, para periset di Pusat Kesehatan Erasmus di Belanda menganalisis tingkat pertumbuhan bayi lebih dari 4.600 calon ibu. Selama kehamilan, pertumbuhan diukur dengan ultrasound.

Di tengah masa kehamilan, wanita ditanya tentang kondisi lingkungan kerja mereka, dan tuntutan fisik pekerjaan mereka, termasuk apakah pekerjaan mereka diperlukan untuk mengangkat, lama berdiri atau berjalan, bekerja shift malam atau jam kerja yang panjang.

Sekitar 38 persen wanita mengatakan bahwa mereka menghabiskan waktu lama untuk berdiri di tempat kerja, dalam pekerjaan seperti penjualan, perawatan anak, dan pengajaran. Sekitar 45 persen mengatakan mereka menghabiskan waktu lama untuk berjalan di tempat kerja, 6 persen mengatakan melakukan mengangkat beban berat, dan 4 persen bekerja shift malam.

Periode panjang berdiri dikaitkan dengan tingkat pertumbuhan janin yang lebih lambat, dan dengan ukuran kepala lebih kecil saat lahir. Bekerja lebih dari 25 jam per minggu juga dikaitkan dengan lingkar dan pertumbuhan kepala janin, kata periset.

Namun, penelitian ini mengungkap, tidak ada efek negatif dari bekerja sampai 36 minggu kehamilan, para peneliti menemukan.

Meski demikian, penelitian yang dilakukan di Belanda ini masih perlu disempurnakan. "Sebab, tidak jelas apakah temuan tersebut berlaku untuk populasi lain," kata Dr. Jim Woods, ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi di University of Rochester Medical Center.

Studi ini juga tidak menilai betapa senangnya wanita dalam pekerjaan mereka, atau apakah mereka mengalami stres di tempat kerja atau di rumah. Kondisi mental yang sehat dapat meningkatkan kesehatan sistem kekebalan tubuh, dan dapat menyebabkan hasil kehamilan lebih baik, kata Woods.

Penelitian ini dipublikasikan secara online di jurnal Occupational and Environmental Medicine. (ren)